Semen Merah Putih Sukses Uji MPTree, Teknologi Penyerap Polusi Udara Berbasis Mikroalga
MPTree, alat penyerap polusi seperti pohon mini, diuji di Bekasi dan mampu serap karbon setara 8 pohon.
Teknologi penyerang polusi udara berbasis mikroalga. dok. Semen Merah Putih
Semen Merah Putih mulai menguji teknologi penyerap polusi udara berbasis mikroalga bernama MPTree di pabrik Beton Merah Putih, Jatiasih, Bekasi.
Inovasi ini menawarkan cara baru mengurangi emisi karbon di kawasan padat, tanpa membutuhkan lahan luas seperti penanaman pohon konvensional.
MPTree bekerja seperti “pohon buatan” yang memanfaatkan mikroalga untuk menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis dalam sistem tertutup.
Karena bentuknya ringkas, alat ini dirancang bisa ditempatkan di area perkotaan atau kawasan industri yang minim ruang hijau.
- Riset : Kelas Menengah Mulai Andalkan Teknologi dan AI untuk Bertahan dan Naik Kelas
- Mitsubishi Electric Gandeng UGM, Dorong Talenta Industri 4.0 Siap Hadapi Era Smart Factory
- CIIC 2026 Siapkan Hadiah Total Rp15 Miliar Dorong Inovasi Teknologi Iklim Indonesia
- Perkuat Rantai Pasok Global, Analog Devices Bangun Fasilitas Semikonduktor Canggih di Thailand
Uji coba dilakukan langsung di lingkungan pabrik dengan aktivitas tinggi untuk melihat efektivitasnya dalam kondisi nyata.
Hasil awal menunjukkan satu unit MPTree mampu menyerap karbon setara sekitar delapan pohon, dan ke depan ditargetkan bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Head of Marketing Semen Merah Putih Nyiayu Chairunnikma mengatakan teknologi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi lingkungan yang bisa diukur dampaknya.
“MPTree adalah langkah nyata kami untuk menghadirkan solusi rendah karbon yang relevan dengan kebutuhan kota saat ini,” ujarnya.
Selain efisien dari sisi ruang, alat ini juga dilengkapi teknologi sensor yang dapat memantau kondisi udara dan sistem secara real-time. Dengan dukungan listrik dan panel surya, MPTree dapat beroperasi sepanjang hari tanpa henti.
Direktur Utama PT Algaepark Indonesia Mandiri Muhammad Zusron menjelaskan mikroalga memiliki kemampuan alami dalam menyerap karbon dengan sangat efektif. Teknologi ini kemudian mengoptimalkan proses tersebut agar lebih terkontrol dan maksimal.
Ke depan, data dari uji coba ini akan menjadi dasar pengembangan lebih lanjut, termasuk kemungkinan penerapan di ruang publik seperti trotoar, kawasan perkantoran, hingga area transportasi.









