Riset: Orang Tua yang Sering Posting Anak di Media Sosial Cenderung Kurang Peduli Keamanan Digital
Riset Kaspersky menemukan orang tua yang sering membagikan kehidupan anak di media sosial cenderung kurang mempraktikkan keamanan digital.
Ilustrasi posting di media sosial. dok. Magnific
Kebiasaan orang tua membagikan foto, video, hingga aktivitas anak di media sosial ternyata berkaitan dengan menurunnya perhatian terhadap keamanan digital.
Temuan ini muncul dalam riset terbaru Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) mengenai fenomena sharenting di kawasan Asia Pasifik dan Mesir.
Sharenting, gabungan dari kata sharing dan parenting, merujuk pada kebiasaan orang tua membagikan kehidupan anak di platform digital.
Namun, penelitian bertajuk Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data menemukan adanya pola yang mengkhawatirkan: semakin tinggi frekuensi berbagi informasi tentang anak, semakin rendah motivasi orang tua untuk menerapkan perlindungan keamanan online.
- Meta Uji Coba Instagram Plus, Fitur Premium Baru yang Bikin Story Lebih Privat dan Interaktif
- X Perbarui Pemutar Video Jadi Mirip TikTok, Fokus ke Format Vertikal dan Swipe Full-Screen di iOS
- BIGO Bali Gala 2026 Apresiasi Kreator Indonesia, Rayakan Komunitas dan Kreativitas Positif
- Larangan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 tahun di Australia Berlaku Pekan Depan, Ini Pemicunya
Associate Professor Jiow Hee Jhee dari Singapore Institute of Technology menjelaskan analisis riset menunjukkan adanya kesenjangan perilaku dalam praktik sharenting.
“Seiring meningkatnya frekuensi berbagi informasi oleh orang tua, motivasi untuk mengadopsi langkah perlindungan justru menurun. Paparan online anak yang lebih besar tidak diimbangi dengan upaya perlindungan data dan privasi yang lebih kuat,” ujarnya.
Penelitian yang melibatkan 152 responden dari Indonesia, Singapura, Malaysia, India, Vietnam, Hong Kong, Filipina, Myanmar, dan Mesir ini juga menemukan dilema lain: banyak orang tua memahami pentingnya privasi digital, tetapi menganggap penerapan pengaturan keamanan terlalu merepotkan.
Sebanyak 87 persen responden percaya membatasi visibilitas akun hanya untuk keluarga dan teman dekat dapat mengurangi risiko privasi, tetapi hampir separuhnya menilai langkah tersebut memakan waktu.
Kondisi serupa terlihat pada penghapusan izin berbagi, metadata, dan penandaan lokasi yang diakui efektif, tetapi dianggap membutuhkan usaha tambahan.
Menurut Trishia Octaviano, Manajer Senior Pendidikan Keamanan Siber Kaspersky untuk Asia Pasifik, manusia secara alami cenderung memilih kenyamanan dan hasil instan, termasuk dalam penggunaan platform digital.
“Orang tua mengakui keamanan digital itu penting, tetapi kesulitan dalam menerapkannya menciptakan gesekan terus-menerus. Karena itu, edukasi keamanan siber perlu menunjukkan bahwa praktik keamanan sebenarnya mudah dilakukan,” katanya.
Meski demikian, mayoritas orang tua tetap percaya diri dengan kemampuan mereka mengelola sharenting secara aman.
Mereka merasa mampu menyaring informasi sensitif, membatasi akses akun, serta menghindari unggahan yang berpotensi mempermalukan anak.
Namun, rasa percaya diri itu dibayangi kekhawatiran lain. Hampir tiga perempat responden atau 72 persen mengaku tetap merasa rentan terhadap risiko peretasan, bahkan setelah menyesuaikan pengaturan privasi media sosial mereka.
Kaspersky pun mengingatkan pentingnya langkah sederhana untuk menjaga privasi keluarga di ruang digital, mulai dari mengatur akun menjadi privat, meninjau pengaturan keamanan secara berkala, menghapus metadata lokasi dari foto, hingga lebih berhati-hati saat membagikan informasi yang dapat mengungkap aktivitas dan lokasi anak.









