Kisah perang bintang di balik sistem navigasi AS, Rusia dan China

GPS adalah sistem satelit pertama untuk menentukan koordinat lokasi di peta. Tetapi sistem tersebut mendapatkan pesaing serius dari Glonass buatan Rusia dan Beidou buatan China.

Kisah perang bintang di balik sistem navigasi AS, Rusia dan China Source: Shutter Stock

“Bro, kok lokasi rumah lu di tengah danau sih? Coba deh aktifin GPS di HP lu supaya lokasinya lebih akurat, jangan pake basis lokasi seluler,”

Begitulah kira-kira percakapan saat kamu minta teman untuk membagi lokasinya di aplikasi perpesanan. Sebenarnya zaman sekarang hampir seluruh smartphone tidak hanya mendukung GPS, tetapi juga Glonass dan Beidou. Ketiga sistem ini sebenarnya adalah platform navigasi yang mengandalkan sekumpulan satelit di orbit Bumi.

Lalu mengapa banyak orang yang menyebutnya sebagai GPS? Alasannya bisa jadi karena, sistem navigasi pencitraan satelit pertama adalah GPS. Global Positioning System (GPS) merupakan sistem satelit navigasi milik Amerika Serikat yang menyediakan layanan pemetaan posisi, navigasi dan waktu kepada pengguna. Menurut halaman resmi GPS, sistem ini merupakan elemen penting dari infrastruktur informasi global. Sifat platform GPS ini bebas, terbuka dan dapat diandalkan, telah mendasari pengembangan ratusan aplikasi berbasis GPS yang vital bagi aspek dan kultur digital saat ini.

GPS mulai dikembangkan pada awal 1940-an dan digunakan selama Perang Dunia II. Mengutip informasi dari Fleetistics, inspirasi tambahan untuk sistem tersebut hadir ketika Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1 pada 1957. Sputnik 1 sendiri adalah satelit pertama buatan manusia yang meluncur di orbit Bumi.

Pada saat itu, tim ilmuwan AS langsung memantau transmisi radio Sputnik 1. Karena Efek Doppler, mereka menemukan bahwa frekuensi sinyal yang ditransmisikan oleh Sputnik lebih tinggi ketika satelit mendekat dan semakin lemah ketika menjauh. Tim menyadari, mereka dapat menentukan letak satelit di sepanjang orbitnya dengan mengukur distorsi Doppler.

Dari kejadian tersebut PCWorld mencatat bahwa para ilmuwan dapat melacak satelit Sputnik 1 dengan mengukur frekuensi sinyal radio yang dipancarkannya. Singkatnya, ini menjadi dasar konsep GPS modern. Penerima GPS di ponsel atau dasbor mobil membuat pengguna mengetahui lokasi, kecepatan dan ketinggian dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk menerima sinyal radio dari sekumpulan satelit di orbit bumi.

Pada 1959, Angkatan Laut AS membangun sistem navigasi satelit pertama bernama TRANSIT. Sistem ini dirancang untuk menemukan kapal selam. Sistem ini dengan inisiasi 6 satelit dan akhirnya berkembang menjadi 10 unit satelit. Saat itu, seringkali kapal selam harus menunggu selama berjam-jam untuk menerima sinyal dari satelit.

Setelah 4 tahun kemudian, Aerospace Corporation menyelesaikan studi untuk militer yang mengusulkan sistem satelit ruang angkasa, guna mengirim sinyal secara terus-menerus ke penerima di darat dan dapat mendeteksi kendaraan yang bergerak cepat di Bumi atau udara. Studi ini menjabarkan konsep GPS yang kita kenal hari ini untuk pertama kalinya. Modul penerima sinyal di kendaraan darat akan mendapatkan serangkaian koordinat lokasi yang tepat dengan mengukur waktu transmisi sinyal radio dari satelit.

Setelah bekerja pada sistem GPS selama 11 tahun terakhir, cabang-cabang militer meluncurkan satelit pertama dari proyek 24 sistem satelit GPS yang diusulkan bernama NAVSTAR. Satelit pertamatersebut dimaksudkan untuk menguji konsep NAVSTAR.

Pada 1978, militer AS meluncurkan 11 satelit lagi ke luar angkasa untuk menguji sistem NAVSTAR (saat itu hanya disebut Sistem GPS). Satelit ini juga mengangkut jam atom agar mampu mencatat waktu jauh lebih akurat. Mulai tahun 1980, beberapa satelit membawa sensor yang dirancang untuk mendeteksi peluncuran atau peledakan rudal/bom nuklir.

Setelah selama bertahun-tahun pengujian, tahun 1989 Angkatan Udara AS akhirnya meluncurkan satelit GPS yang beroperasi penuh pertama ke luar angkasa. Angkatan tersebut telah merencanakan untuk meluncurkan satelit di Space Shuttle, tetapi mengubah rencananya setelah bencana roket Challenger pada tahun 1986. Mereka kemudian menggunakan roket Delta II sebagai gantinya.

Awalnya GPS hanya untuk keperluan militer, akhirnya pada tahun 1994 FAA dan Bill Clinton menginformasikan bahwa penerbangan di seluruh dunia dapat terus menggunakan sistem GPS secara bebas. Baru pada tahun 1998, GPS dirancang untuk penggunaan transmisi dua sinyal tambahan agar bisa digunakan untuk keperluan warga sipil, terutama agar dapat meningkatkan keselamatan penerbangan. Dua tahun kemudian, kongres menyetujui rencana tersebut.

Pabrikan ponsel pertama yang dilengkapi modul penerima GPS adalah Benefon. Ponsel ini tersedia secara komersial dengan nama Benefon ESC! Ponsel GSM yang diproduksi tahun 1999 itu terjual terutama di Eropa dan dapat digunakan sebagai perangkat pelengkap keselamatan. Setelah itu, banyak pabrikan lain yang juga memproduksi ponsel dengan integrasi modul penerima GPS.

Pada tahun 2001 akhirnya teknologi penerima GPS menjadi jauh lebih kecil dan berharga terjangkau. Beberapa perusahaan swasta mulai menyajikan produk GPS secara umum seperti, perangkat navigasi dalam mobil bermerk Tom Tom dan Garmin. Setelah itu, tahun 2004 Qualcomm mengatakan telah mengembangkan dan menguji teknologi “Assisted GPS” sehingga memungkinkan ponsel menggunakan sinyal seluler dikombinasikan dengan sinyal GPS demi akurasi yang lebih baik.

Tidak berhenti di situ, sinyal GPS khusus untuk warga sipil meluncur dari Cape Canaveral pada tahun 2005. Sistem satelit GPS ini diberi nama Block II. Selanjutnya pada tahun 2014 perangkat GPS untuk warga sipil diperkuat lagi dengan satelit Block III agar sinyal yang diberikan lebih stabil.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: