Personal tek

Industri telekomunikasi tumbuh negatif, so what?

Industri telekomunikasi kita tumbuh negatif sebesar 7,3% pada tahun 2018. Apa sebenarnya yang terjadi?

Industri telekomunikasi tumbuh negatif, so what? Jajaran direksi Telkomsel dalam acara Media Gathering 2019, Mei 2019.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, awal Mei 2019 di Bali, mengatakan, industri telekomunikasi kita tumbuh negatif sebesar 7,3% pada tahun 2018. Pada tahun yang sama, kinerja keuangan Telkomsel mengalami penurunan 4,3%.

Ririek menyebut setidaknya tiga alasan pemicu pertumbuhan negatif tersebut. Pertama, menyusutnya layanan legacy, yakni panggilan suara dan SMS, karena pergeseran perilaku konsumen ke layanan data (siapa hari gini yang masih SMS-an?). Kedua, kebijakan registrasi kartu SIM. Dan ketiga, perang tarif antar-operator.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Kemenkominfo, telekomunikasi Banten - Lampung normal

Kemenkominfo kerahkan tim dan 30 telepon satelit ke Sulteng

Frekuensi 700 MHz tingkatkan ekonomi Indonesia Rp161 triliun


Agaknya terlalu buru-buru jika kita menyebut industri telekomunikasi sedang memasuki fase "sunset", tetapi tak ada yang membantah bahwa ada kontraksi karena disrupsi digital. Semua orang pun tahu hal itu, utamanya para pelaku di sektor ini. Ihwal disrupsi di industri telekomunikasi sudah dikaji banyak sekali lembaga, baik dalam maupun luar negeri. 

Pertanyaannya adalah, how low can you go? dan seberapa lama kondisi ini akan berlangsung?

Ririek selaku pemimpin operator terbesar di Tanah Air optimistis, industri telekomunikasi kita masih akan tumbuh tahun 2019. Memang tidak besar, hanya satu digit. Pertumbuhan negatif yang "hanya" 7,3 persen sebetulnya masih lebih baik dibanding outlook Standard & Poor's, 2018, yang menyebut angka -11 persen. Biang keroknya, kata S&P, adalah " intensifying competition".

Ramalan Ririek soal pertumbuhan satu digit cukup masuk akal, setidaknya jika kita melihat performa operator telekomunikasi di kuartal 1 tahun 2019.

Setelah mengalami kerugian pada 2018, emiten-emiten telekomunikasi mulai mendapat keuntungan. PT XL Axiata Tbk. (EXCL), misalnya, meraup laba Rp57 miliar sepanjang kuartal I-2019 atau naik 271% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebelumnya, EXCL mengalami rugi sepanjang 2018.

Emiten dengan kode EXCL ini juga mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9% dari kuartal I-2018. Kenaikan pendapatan itu disokong kuat dari pendapatan layanan data yang tumbuh 12% secara tahunan.

Pendapatan data XL pada kuartal I-2019 sebesar Rp4,6 triliun atau tumbuh sebesar 25% YoY. Angka tersebut lebih besar daripada pendapatan data di kuartal yang sama tahun 2018 sebesar 77% atau Rp3,7 triliun.

Sementara, pendapatan non-data XL pada kuartal I-2019 hanya sebesar 14% atau Rp751 miliar. Pendapatan ini berkurang dari kuartal yang sama tahun 2018 sebesar 23% atau Rp1.098 miliar atau berkurang 32% yoy.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. atau Telkom membukukan pendapatan kuartal I-2019 sebesar Rp34,84 triliun, atau naik 7,7% dibandingkan dengan periode sama tahun 2018 sebesar Rp32,3 triliun.

Laba bersih perusahaan juga naik 8,5% dari Rp5,73 triliun menjadi Rp6,22 triliun.

Pendapatan data telkomsel pada kuartal I-2019 sejumlah Rp20,2 triliun dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun 2018 sebesar Rp15,9 triliun. Pendapatan data ini tumbuh 27,2% yoy.

Sementara itu, pendapatan telepon dan SMS telkomsel berkurang 21,5% yoy. Pada Q1 2019, pendapatan telkomsel dari telepon dan SMS berkurang ke angka Rp8,2 triliun dari pendapatan di kuartal yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp10,7 triliun.

Mengapa demikian?

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, kinerja baik emiten-emiten telekomunikasi pada kuartal ini disebabkan infrastruktur yang sebelumnya dibangun emiten-emiten ini sudah mulai membuahkan hasil.

“Sektor telekomunikasi kurang lebih sama seperti sektor infrastruktur. Tahap pertama adalah pembangunan, tahap kedua adalah pengelolaan. Di tahap pengelolaan inilah mulai menghasilkan keuntungan,” kata Nico saat dihubungi Rabu (8/5).

Nico menyebut, sejauh ini, penopang terbesar emiten telekomunikasi masih dalam layanan data yang diikuti dengan telepon. Nico pun menyarankan emiten-emiten telekomunikasi untuk menjaga kualitas layanannya.

“Karena saat ini dengan adanya perang tarif, kualitas jadi tidak dijaga yang menyebabkan orang berpindah ke provider lain. Jika tak diantisipasi bisa merugi,” kata Nico.

Pengelolaan dan pembangunan di sektor telekomunikasi, lanjut Nico, harus berkesinambungan. Sebab, hal ini penting agar bisa menyeimbangkan ekspansi dengan cash-in emiten telekomunikasi.

Teknologi dan infrastruktur 5G yang mulai hadir saat ini, kata Nico, harus dilihat sebagai peluang bagi emiten. Namun, Nico mengingatkan kesesuaian antara infrastruktur 5G dengan kebutuhan pengguna.

“Sebab, jika tak dijaga dan berhati-hati nanti akan merugi kembali,” tutur Nico.

Sementara itu, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi melihat perkembangan emiten telekomunikasi mulai ke arah yang lebih baik dan sehat.

Walaupun begitu, lanjut Heru, industri telekomunikasi belum dapat dikatakan telah sehat secara keseluruhan karena belum begitu stabil.

“Perlu ada upaya yang jelas dari pemerintah bagaimana membangun industri ke depan. Apalagi, kan, sejak 2015 dijanjikan akan terbit aturan soal merger dan akuisisi yang sampai sekarang tidak jelas aturan tersebut sudah sampai di mana,” kata Heru.

Heru pun menyebut rencana pemerintah merevisi Peraturan Pemerintah 52/2000 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, dan Peraturan Pemerintah 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, masih menyimpan tanda tanya bagaimana akhirnya.

“Aturan interkoneksi juga masih jadi pekerjaan rumah, entah kapan akan diumumkan hasil dan perhitungan agar kompetisi bisa lebih sehat,” tutur Heru.

Co-founder Jagartha Capital FX Iwan mengatakan, perbaikan revenue TLKM di kuartal I banyak ditopang oleh pendapatan di luar Telkomsel, seperti Indihome.

"Disisi lain, upaya untuk menjaga pengeluaran juga menopang perbaikan kinerja sepanjang kuartal I 2019," kata Iwan.

Sementara EXCL, kata Iwan, mencatatkan EBITDA yang sesuai dengan ekspektasi pasar, meskipun Net Profit masih dibawah ekspektasi.

"Kinerja di kuartal II 2019 diharapkan lebih baik ditopang oleh peningkatan penggunaan menjelang lebaran," tutur Iwan.

Iwan pun mengatakan, saham TLKM dan EXCL masih bisa jadi pilihan investor untuk akumulasi.

"Kalau Indosat (ISAT) agak tough dari sisi kinerja dan juga mengingat perkembangan kondisi saat ini disisi perubahan manajemen," kata Iwan.

Apa lagi yang bisa diharapkan?

Hasil audiensi Danareksa dengan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Mei 2019, setidaknya bisa memprediksi wajah industri telekomunikasi kita ke depan. BRTI rupanya berkeinginan untuk memperlebar aturan tarif SMS dan suara ke data. Mereka tak mengatur batas atas dan bawah tarif, tetapi menentukan komponen-komponennya. Misalnya, biaya jaringan termasuk beban depresiasi, biaya supporting termasuk marketing, dan target laba operator. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, BRTI akan menentukan apakah tarif data operator sesuai dengan beban biayanya atau justru terlalu banyak mengambil untung.

Jika proses ini rampung, perang tarif yang tidak sehat tentu akan bisa diakhiri dengan kemenangan bagi semua pihak. Tapi, tentu prosesnya tidak akan mudah.

"Pengaturan harga data rumit karena operator masih mendidik pasar untuk data 3G / 4G sementara ada migrasi dari layanan suara & SMS," kata Analis Danareksa, Niko Margaronis .

Kedua, BRTI berencana menambah syarat registrasi kartu SIM dengan menambahkan data Kartu Sehat dari BPJS. Pasalnya, syarat memasukkan kartu keluarga dan Nomor Induk Kependudukan masih rentan penyalahgunaan di tingkat penjual kartu SIM.

Nah, yang paling menarik adalah rencana revisi PP 52 dan 53 seperti yang disinggung Heru di atas. Niko mengatakan, BRTI mengungkapkan bahwa ada 3 operator di tahun 2018 yang meminta revisi PP tersebut. Poin paling krusial yang mereka minta adalah kendali spektrum saat terjadi merger.

Kita tahu, dengan aturan yang ada saat ini, spektrum otomatis dikembalikan ke negara. Artinya, saat operator A mencaplok operator B, tidak serta merta operator A bisa memakai spektrum milik operator B.

Secara keseluruhan, Danareksa melihat campur tangan BRTI sebagai hal positif bagi industri telekomunikasi dan karenanya mereka merekomendasikan saham sektor ini ke dalam "overweight".

Kembali ke Telkomsel

Salah satu tren di industri telekomunikasi yang lambat laun beralih menjadi "digital telco company" adalah big data. Dalam silaturahmi dengan jurnalis hari ini (20/5), CEO Telkomsel Mitra Inovasi (TMI), Andi Kristianto mengatakan, mereka sedang gencar mencari dan mendanai perusahaan rintisan digital yang bisa memanfaatkan ekosistem Telkomsel, termasuk big data

Source: If You’re a Telecom, Here’s Everything You Need To Know About Getting Into Data Science

Dengan pengguna 170 juta, Telkomsel tentu menyimpan gudang data pelanggan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan berbagai macam bisnis: dari periklanan, sampai credit scoring. Salah satu potensi yang sudah tampak di depan mata tentu saja menjual data sebagai servis, yang tertarik pada promosi berbasis lokasi, atau justru pemain OTT yang tertarik mempromosikan konten berdasarkan kebiasaan data konsumen.

"Telkomsel butuh growth, kolaborasi dengan startup tentu kita harapkan mendorong datangnya produk baru," kata Andi.

Bagaimana dengan 5G?

Well, lepas dari semua marketing buzz dan potensi ina-inu yang dihembuskan berbagai lembaga, tampaknya kita bisa menjawab potensi 5G dengan satu kalimat: Belanda masih jauh.

 

 

 

Laila Ramdhini turut membantu penulisan artikel ini. Ikuti artikel Laila di alinea.id

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: