Bisakah mata uang Facebook jadi alat pembayaran sah?

Langkah Facebook untuk membawa mata uang kriptonya ke The Feds makin memperkuat niat mereka untuk mengedarkan mata uang baru.

Bisakah mata uang Facebook jadi alat pembayaran sah?

Gubernur Bank Sentral Amerika (The Feds), Jeremy Powell, bertemu dengan perwakilan Facebook Rabu (19/6). Pembahasan kedua belah pihak tentunya mengenai Libra, mata uang kripto (cryptocurrency) baru bikinan Facebook.

Bukan hanya The Feds, Selasa (18/6), Bank of England juga memberi komentar positif mengenai Libra. Gubernur Bank of England, Mark Carney, mengatakan, Libra bisa menjadi subjek berstandar tinggi pada regulasi moneter global. Oleh karena itu, Bank Sentral Inggris itu akan memantau perkembangannya dengan sangat intensif.


BACA JUGA

Facebook siapkan cryptocurrency yang bisa untuk gaji karyawan

Bitcoin senilai USD40 juta telah diretas, terbesar dalam sejarah

Studi ungkap sebagian transaksi bitcoin adalah palsu


Pergerakan Facebook untuk meyakinkan bank-bank sentral penting di dunia ini, tidak lain adalah untuk membuat nilai Libra bisa bersandar pada nilai mata uang yang eksis saat ini. Di luar pendekatan mereka ke bank-bank sentral, Facebook sudah sukses menggandeng perusahaan finansial teknologi tradisional termasuk, PayPal, Visa, Mastercard, dan eBay. Sebuah asosiasi non-profit, Libra Association dibentuk Facebook di Swis, untuk menata aktivitas mata uang digital mereka.

Dengan begitu, rencana Facebook tidak main-main. Apa yang ingin mereka coba guncang kali ini adalah, sistem keuangan global. Misi ini jelas ditulis dalam white paper yang ditulis Asosiasi Libra dan bisa diakses secara luas per 18 Juni lalu.

Apa yang Facebook mau?

Misi Libra, adalah untuk menyediakan mata uang global sederhana dan membangun infrastuktur finansial baru, yang mampu membantu miliaran orang. Kira-kira itulah ayat pertama dalam proposal Libra yang ditulis dalam situs asosiasi tersebut.

Dalam laporan resmi tersebut, Facebook jelas menggambarkan ada 1,7 miliar orang dewasa yang belum tersentuh sistem finansial (perbankan). Mereka melihat, celah ini bisa terisi oleh infrastruktur finansial baru yang selama ini terisi beragam perusahaan fintech. Ini artinya, 1,7 miliar pengguna tanpa akun bank ini, bisa diakuisisi menjadi pengguna karena kemungkinan menggunakan ponsel pintar.

Memanfaatkan teknologi Blockchains, Facebook menjamin tidak ada satupun entitas yang mengontrol jaringan distribusi mata uang tersebut nanti secara penuh. Facebook hanya memimpin asosiasi hingga 2019. Setelah itu, hak Facebook akan setara dengan 28 anggota pendiri Asosiasi Libra lainnya. Dengan begitu, mereka berharap integritas mata uang kripto ini terbangun. Selain itu, penggunaannya diklaim Facebook, jauh lebih murah dibandingkan pembayaran transaksi melalui layanan perbankan maupun layanan kartu kredit.

Langkah Facebook untuk mengumpulkan dukungan dari berbagai pihak merupakan langkah serius untuk menjadikannya alternatif pembayaran termutakhir abad ini. Sedikitnya 28 anggota asosiasi berkomitmen untuk menggunakan Libra menjadi mata uang digital mereka. Ada Mastercard, PayPal, Visa, Book Holdings (Booking.com dan Agoda.com), eBay, Uber, Lyft, Spotify, Facebook, dan lainnya.

Untuk itu, Facebook mengembangkan dompet digital mereka sendiri yang disebutnya Calibra. Calibra bakal menjadi dompet digital mata uang kripto terbesar. 100 pegawai sengaja dikerahkan Facebook untuk mendukung Calibra ini, baik di markas mereka di Silicon Valley, maupun di Tel Aviv, Israel.

Sementara itu Facebook juga bakal mengerahkan kekuatan aplikasi perpesanannya, WhatsApp dan Facebook Messenger untuk menciptakan sistem transfer dana Libra. Mereka telah menguji coba pembayaran via WhatsApp di India. Laporan Financial Times (2/1) mengatakan, Facebook telah menguji cobanya dengan nama WhatsApp Pay. Uji coba transaksi ini difasilitasi oleh sistem keamanan pembayaran pemerintah, UPI. Semacam Instrumen Pembayaran Nontunai yang diregulasi Bank Indonesia di sini.

Facebook mendapati, transfer dana antar bank via WhatsApp tersebut bisa berlaku secara langsung (real time). Bagi Facebook uji coba ini merupakan corong data baru yang bisa memberikan mereka gambaran, bagaimana orang-orang bertransaksi dan berbelanja.

Di India, mereka berhasil memproses jutaan transaksi dalam sebulan. Pasar India pun ekosistem yang nyaman bagi eksperimen ini. Pasalnya Perdana Menteri India, Narendra Modi, secara drastis memotong sirkulasi uang tunai sejak November 2016. Kini hanya 14 persen uang tunai yang beredar di negara itu. Ada kans Facebook bakal membawa eksperimen mereka ke pasar WhatsApp lainnya seperti Brasil atau bahkan mungkin ke Indonesia. Menurut data Statista, 40% populasi Indonesia adalah pengguna WhatsApp.

Janjikan ongkos lebih murah

Intinya, Libra ini nantinya akan memotong jalur transaksi kartu kredit yang selama ini menjadi andalan pembayaran dan transaksi online. Dengan memotong urat nadi kartu kredit, Libra bakal menjanjikan ongkos (fee) lebih murah. Mereka kemungkinan akan mendapatkan keuntungan dari komisi pembayaran di merchant.

Stabilitas mata uang baru Facebook ini diklaim lebih kokoh ketimbang Bitcoin yang sangat rapuh karena sangat tergantung pasokan dan permintaan investor. Libra menyandarkan nilai tukarnya pada mata uang tradisional seperti dolar Amerika. Ini rupanya yang membuat Facebook mendekati bank-bank sentral semacam The Feds.

Libra menjadi buah bibir di kalangan bankir dan Facebook tahu betul regulasinya. Di Inggris mereka merekrut Head of Public Affairs Standard Chartered, Ed Bowles. Ini langkah antisipasi Facebook untuk memuluskan langkah mereka meluncurkan mata uang kripto ini di Eropa, yang bisa jadi bakal penuh rintangan.

Menurut Wired (19/6), Asosiasi Libra bakal dikembangkan Facebook untuk meraih dukungan dari sekitar 100 angggota penting dari seluruh dunia. Mengingat anggota pendirinya saja merupakan perusahaan-perusahaan terkemuka dunia, tidak mengejutkan kalau jumlahnya akan bertambah dalam waktu dekat ini. Kemudian mimpi Facebook untuk menjadikan Libra sebagai alat tukar baru, bukan hanya jadi isapan jempol semata.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: