×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Survei Deloitte: Adopsi AI Melaju Cepat, Namun Transformasi Bisnis Masih Tertahan

Oleh: Tek ID - Senin, 09 Februari 2026 20:30

Survei Deloitte 2026 menunjukkan adopsi AI meningkat pesat, namun hanya sebagian kecil perusahaan yang berhasil mentransformasi bisnis secara mendalam.

Adopsi AI Melaju Cepat, Namun Transformasi Bisnis Tertahan Ilustrasi kecerdasan buatan. dok. freepik.com

Ambisi dunia usaha terhadap kecerdasan buatan (AI) kian menguat, tetapi implementasi yang benar-benar mentransformasi bisnis masih tertinggal. 

Temuan ini terungkap dalam laporan The State of AI in the Enterprise: The Untapped Edge edisi 2026 yang dirilis Deloitte AI Institute.

Studi ini memetakan bagaimana perusahaan bergerak dari fase uji coba menuju penerapan AI berskala organisasi, serta mengapa sebagian besar nilai AI masih belum tergarap optimal.

Berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.000 pemimpin perusahaan global, Deloitte mencatat perluasan akses AI ke tenaga kerja melonjak signifikan dalam setahun terakhir. 

Sekitar 60% karyawan kini dibekali perangkat AI resmi, naik dari kurang dari 40% sebelumnya. Pada saat yang sama, agen AI otonom mulai diadopsi lebih luas; 85% perusahaan berencana menyesuaikan agen AI sesuai kebutuhan bisnis, menandai pergeseran AI dari sekadar sumber insight menjadi sistem yang menjalankan pekerjaan nyata.

Namun, dorongan produktivitas ini belum sepenuhnya berujung pada transformasi menyeluruh. Hanya 34% perusahaan melaporkan penggunaan AI untuk melakukan perubahan bisnis yang mendalam. 

Artinya, meski AI membantu efisiensi, mayoritas organisasi masih memanfaatkannya untuk optimalisasi bertahap, belum untuk mendesain ulang model operasi secara fundamental.

Laporan ini juga menyoroti transisi krusial dari tahap percontohan ke produksi. Baru 25% responden yang telah memindahkan 40% atau lebih proyek pilot AI mereka ke implementasi penuh. 

Meski begitu, 54% memperkirakan akan mencapai fase tersebut dalam tiga hingga enam bulan mendatang. Deloitte menilai komunikasi strategi yang jelas menjadi kunci untuk mengatasi “pilot fatigue”, yakni kondisi ketika eksperimen AI menumpuk tanpa arah penerapan yang tegas.

“Para pemimpin bisnis di Asia Tenggara memiliki ambisi besar terhadap AI dan sudah mulai merasakan manfaatnya, terutama dalam peningkatan produktivitas,” ujar Chris Lewin, AI & Data Capability Leader Deloitte Asia Pacific. 

Ia menegaskan, nilai penuh AI baru akan tercapai ketika perusahaan memiliki peta jalan yang jelas, ditopang tata kelola kuat di seluruh level organisasi, serta keberanian membayangkan ulang cara bisnis menciptakan keunggulan kompetitif.

Pada ranah agentic AI, sistem otonom yang mampu menetapkan tujuan dan mengeksekusi tugas kompleks, potensi pertumbuhannya sangat besar. 

Hampir tiga perempat perusahaan berencana menerapkannya dalam dua tahun ke depan. Namun, hanya 21% yang mengaku telah memiliki model tata kelola agen AI yang matang. 

Deloitte menilai perusahaan paling sukses adalah mereka yang memulai dari kasus berisiko rendah, membangun fondasi tata kelola, lalu melakukan skalabilitas secara bertahap dan terencana.

Isu lain yang kian menguat adalah kedaulatan AI (sovereign AI). Sebanyak 77% perusahaan kini mempertimbangkan negara asal vendor AI, sementara hampir tiga dari lima organisasi membangun tumpukan AI dengan penyedia lokal. 

Di saat yang sama, physical AI, teknologi yang tertanam pada perangkat keras seperti robot dan mesin industri, mulai menjadi bagian integral operasional, terutama di sektor manufaktur, logistik, dan pertahanan. Tingkat adopsinya diproyeksikan mencapai 80% dalam dua tahun ke depan.

Deloitte menegaskan momentum adopsi AI sudah terbentuk, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan investasi tersebut benar-benar menghasilkan diferensiasi strategis yang berkelanjutan. 

Tanpa tata kelola yang kuat dan visi transformasi yang jelas, AI berisiko berhenti sebagai alat produktivitas, bukan penggerak perubahan bisnis yang sesungguhnya.

×
back to top