AI Alliance Resmi Ekspansi ke Indonesia, Dorong Pengembangan AI Open-Source yang Bertanggung Jawab
AI Alliance resmi berekspansi ke Indonesia untuk mendorong pengembangan AI open-source yang bertanggung jawab dan memperkuat ekosistem digital.
AI Alliance umumkan ekspansi ke Indonesia. dok. AI Alliance
AI Alliance, konsorsium nirlaba global yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) berbasis open-source, resmi mengumumkan ekspansinya ke Indonesia.
Langkah AI Alliance akan memperkuat inovasi AI yang bertanggung jawab sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem digital nasional.
Didirikan oleh IBM bersama Meta, AI Alliance kini hadir di 29 negara dengan 195 organisasi anggota, melengkapi jaringan regional di kawasan Asia Pasifik seperti Thailand, Jepang, dan India.
Ekspansi ini berlangsung di tengah potensi besar AI bagi perekonomian Indonesia. AI diproyeksikan menyumbang hingga 366 miliar dolar AS (Rp6.156 triliun) terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030.
- Survei Deloitte: Adopsi AI Melaju Cepat, Namun Transformasi Bisnis Masih Tertahan
- Lima Kekuatan yang Membentuk Arah AI di Asia Pasifik pada 2026
- F5 Luncurkan AI Guardrails dan AI Red Team, Perkuat Keamanan Operasional Penerapan Enterprise AI Skala Besar
- Riset : 40% Organisasi di Indonesia Belum Siap Infrastruktur AI, Berisiko Gagal Maksimalkan Nilai Bisnis
Meski demikian, adopsi AI masih menghadapi tantangan. Studi CEO IBM terbaru menunjukkan 61% perusahaan di Indonesia telah aktif mengadopsi agen AI dan siap memperluas penerapannya, namun hanya 27% yang menilai sistem AI terbaru memberikan tingkat pengembalian investasi (ROI) sesuai harapan.
Selain isu ROI, tantangan lain mencakup ketersediaan tenaga kerja terampil, kesiapan infrastruktur digital, serta perlindungan data dan privasi.
Aspek kepercayaan dan keselamatan, mulai dari bias dan keadilan, transparansi, keamanan siber, hingga mekanisme akuntabilitas, juga menjadi perhatian utama dalam penerapan AI di berbagai sektor.
Kehadiran AI Alliance di Indonesia diarahkan untuk menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan solusi AI berbasis open-source, dengan tujuan memperluas akses dan memaksimalkan potensi AI nasional.
Inisiatif ini akan memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan, pelaku usaha, talenta pengembang, hingga komunitas lokal, melalui pengembangan perangkat, sumber daya, dan peluang edukasi bersama.
Universitas Ciputra tercatat sebagai anggota pertama dari Indonesia, disusul sejumlah organisasi lain yang tengah mengajukan keanggotaan.
“Kami merasa terhormat dapat bergabung dengan AI Alliance dan menantikan kolaborasi untuk mendorong sejumlah inisiatif terbuka, khususnya di bidang pengembangan keterampilan, guna memperkuat silabus AI kami yang berbasis IBM SkillsBuild for Academia,” kata Denny Bernardus, Sekretars Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Ciputra.
Ia menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan misi kampus dalam menumbuhkan pola pikir kewirausahaan dan inovasi untuk menyiapkan pemimpin AI masa depan menuju visi Indonesia Emas 2045.
General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian menilai Indonesia sebagai salah satu ekonomi digital paling dinamis di Asia Tenggara.
“Melalui AI Alliance, kami berharap dapat mendukung visi Indonesia menuju masa depan digital yang tumbuh secara inklusif,” ujarnya.
Head of Public Policy Meta di Indonesia Berni Moestafa mengatakan, kemitraan dengan IBM dalam AI Alliance bertujuan untuk menjadikan AI lebih mudah diakses, aman, dan bermanfaat bagi semua.
“Kami menantikan keterlibatan bersama para pemangku kepentingan di Indonesia untuk membuka peluang baru serta menjawab tantangan di tingkat lokal,” tuturnya.
CEO Aitomatic sekaligus anggota dewan AI Alliance, Christopher Nguyen menegaskan misi konsorsium untuk memajukan sains dan pengembangan AI yang terbuka.
“Kami senang dapat mendukung Indonesia dalam mengembangkan dan menjaga kedaulatan AI melalui prinsip-prinsip keterbukaan ini,” katanya.









