×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Lima Kekuatan yang Membentuk Arah AI di Asia Pasifik pada 2026

Oleh: Tek ID - Jumat, 06 Februari 2026 20:17

AI di Asia Pasifik pada 2026 akan ditentukan oleh model yang tepat guna, hybrid cloud, tata kelola kuat, dan penguatan talenta digital.

Lima Kekuatan yang Membentuk Arah AI di Asia Pasifik di 2026 Ilustrasi AI. dok. Freepik

Organisasi di kawasan Asia Pasifik memasuki 2026 dengan pendekatan yang semakin matang terhadap kecerdasan buatan (AI). 

Jika pada tahun-tahun sebelumnya AI masih berada pada fase eksperimen, kini perusahaan mulai berfokus pada bagaimana teknologi tersebut dioperasionalkan secara bertanggung jawab, berskala besar, dan menghasilkan dampak bisnis yang terukur. 

Integrasi AI pun tidak lagi bersifat tambahan, melainkan ditempatkan sebagai bagian inti dari platform digital perusahaan.

Country Manager Indonesia Red Hat Vony Tjiu mengatakan, pergeseran ini menandai era baru AI yang lebih praktis dan terarah. 

Menurutnya, organisasi di Asia Pasifik menginginkan sistem AI yang dirancang sesuai dengan kebutuhan industri, data, dan realitas operasional masing-masing, sekaligus fleksibel untuk dijalankan di lingkungan on-premise, cloud, maupun edge.

“Perusahaan telah melampaui fase euforia AI generatif dan kini bergerak menuju pembuktian nilai nyata. Fokusnya adalah bagaimana AI dapat menjawab kebutuhan bisnis yang spesifik dan terukur,” ujar Vony dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, pada 2026 AI tidak lagi didominasi oleh model serba bisa, melainkan oleh sistem yang dirancang khusus, berukuran tepat, dan dapat dijelaskan. 

Studi IDC menunjukkan sekitar 70 persen organisasi di Asia Pasifik memperkirakan agentic AI akan mendisrupsi model bisnis mereka dalam 18 bulan ke depan. 

Tren ini sejalan dengan prediksi pada 2027 sekitar 40 persen organisasi akan memanfaatkan custom silicon, termasuk prosesor ARM dan chip AI khusus, untuk mengoptimalkan performa dan efisiensi biaya.

Di sektor jasa keuangan, AI yang tepat guna dinilai mampu mengotomatisasi proses berskala besar seperti onboarding nasabah, pemantauan transaksi, hingga analisis penipuan. 

“Bagi institusi yang menghadapi tekanan regulasi tinggi, AI yang dirancang khusus menawarkan jalur yang lebih jelas untuk meningkatkan akurasi, menekan biaya, dan memperkuat manajemen risiko,” kata Vony.

Perkembangan AI juga mendorong perubahan strategi infrastruktur. Virtualisasi tradisional yang dirancang untuk beban kerja seragam kini dinilai tidak lagi memadai. 

Pada 2026, perusahaan diperkirakan akan mengadopsi pendekatan virtualisasi yang menggabungkan virtual machine, container, dan komputasi khusus dalam satu model operasional untuk menopang aplikasi lama sekaligus beban kerja AI baru.

Di sisi arsitektur, hybrid cloud diproyeksikan menjadi standar operasional AI modern. Kebutuhan akan data real time, komputasi khusus, dan sistem terdistribusi membuat perusahaan harus mampu menjalankan AI di berbagai lingkungan sekaligus. 

“Tidak akan ada satu tempat tunggal untuk menjalankan AI. Organisasi yang mampu mengelola AI di mana saja akan berada pada posisi terbaik untuk menggali nilainya,” ujar Vony.

Penguatan tata kelola juga menjadi faktor kunci. Di Asia Pasifik, regulasi dan kerangka etika AI semakin memengaruhi strategi digital perusahaan. Di Indonesia, pemerintah telah menyiapkan regulasi Peta Jalan dan Etika AI pada awal 2026, melengkapi Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045. 

Otoritas Jasa Keuangan juga telah merilis panduan kode etik AI yang bertanggung jawab di sektor teknologi keuangan.

Menurut Vony, tata kelola yang kuat bukanlah penghambat inovasi, melainkan fondasi agar AI dapat diadopsi secara berkelanjutan. 

“Perusahaan akan semakin memprioritaskan sistem AI yang dapat diaudit, dimonitor, dan dikelola di lingkungan hybrid, sehingga setiap keputusan dapat ditelusuri dan perilaku model tetap terkendali,” ujarnya.

Di luar teknologi dan regulasi, faktor manusia tetap menjadi penentu. Kesenjangan talenta di bidang AI, cloud-native, dan keamanan siber masih menjadi tantangan utama di Asia Pasifik. 

Vony menekankan pentingnya peran komunitas open source dalam menyediakan pengetahuan bersama, transparansi, dan kolaborasi lintas negara.

“Keberhasilan AI, termasuk agentic AI, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan model, tetapi juga oleh infrastruktur, tata kelola, dan keahlian yang mendukungnya,” kata Vony.

Ia menambahkan, keterbukaan, fleksibilitas, dan kolaborasi akan menjadi prinsip utama yang membantu organisasi bergerak dari potensi menuju hasil nyata dan terukur pada era AI berikutnya.

Tag

Tagar Terkait

×
back to top