×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Tren AI Buat Karikatur Viral, Waspada Risiko Penipuan dan Pencurian Identitas

Oleh: Tek ID - Senin, 23 Februari 2026 20:15

Tren AI buat karikatur viral berisiko bocorkan data pribadi. Kaspersky peringatkan ancaman phishing dan penipuan digital.

Tren AI Buat Karikatur Viral, Waspada Risiko Pencurian Data Ilustrasi membuat karikatur dengan AI. dok. Freepik

Tren membuat karikatur menggunakan kecerdasan buatan (AI) tengah ramai di media sosial. 

Pengguna mengunggah foto pribadi lalu meminta AI membuat ilustrasi berdasarkan kehidupan, pekerjaan, hingga “semua informasi yang diketahui tentang saya”. Hasilnya kemudian dibagikan di Instagram, TikTok, hingga LinkedIn sebagai konten kreatif yang dianggap unik dan personal.

Namun di balik popularitas tren tersebut, perusahaan keamanan siber Kaspersky mengingatkan adanya risiko serius terhadap keamanan data pribadi. 

Berbagi konteks personal secara terbuka kepada alat AI dinilai dapat membuka celah bagi penipuan digital dan pencurian identitas.

Dalam praktiknya, permintaan seperti “buat karikatur tentang saya dan pekerjaan saya berdasarkan semua yang Anda ketahui tentang saya” tidak sekadar memproses foto. 

Untuk menghasilkan ilustrasi yang lebih detail, pengguna sering kali tanpa sadar menyertakan informasi tambahan seperti nama perusahaan, jabatan, lokasi kerja, rutinitas harian, hobi, hingga detail keluarga.

Menurut para ahli Kaspersky, setiap informasi tersebut membentuk profil digital yang semakin lengkap. 

Ketika gambar, teks, kebiasaan, relasi, dan tanggung jawab profesional tergabung dalam satu konteks, data tersebut berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk membuat skema penipuan yang jauh lebih meyakinkan.

Penipu dapat menyusun pesan phishing yang menyebutkan tempat kerja korban, jabatan, bahkan anggota keluarga. 

Pendekatan yang sangat personal ini meningkatkan peluang korban percaya dan akhirnya membagikan informasi sensitif atau mengirimkan uang.

Risiko ini dinilai semakin tinggi di kawasan Asia Pasifik. Data menunjukkan 78 persen profesional di wilayah ini menggunakan AI setiap minggu, lebih tinggi dari rata-rata global 72 persen. 

Namun, tingkat literasi teknis dasar masih belum merata, sehingga pengguna lebih rentan terhadap serangan rekayasa sosial.

Selain itu, saat menggunakan platform AI, pengguna tidak hanya membagikan hasil akhir berupa karikatur. Bergantung pada kebijakan privasi masing-masing layanan, foto asli, instruksi yang diketik, riwayat penggunaan, serta data teknis seperti alamat IP dan perangkat yang digunakan juga dapat tersimpan. 

Informasi tersebut bisa digunakan untuk operasional layanan, peningkatan performa, atau pelatihan model AI, sehingga tidak benar-benar hilang setelah konten dibuat.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky Adrian Hia, mengatakan tren ini bukan sekadar hiburan ringan. 

“Tren viral pembuatan karikatur kehidupan kita ini mungkin tampak seperti hiburan yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya merupakan informasi sukarela bagi penjahat siber. Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna,” ujarnya.

Ia menambahkan di wilayah dengan adopsi AI tinggi namun literasi teknis yang belum kuat, potret digital tersebut dapat menjadi peta berbahaya bagi pelaku kejahatan siber. 

“Pada dasarnya kita memberi penipu ‘konteks’ yang mereka butuhkan untuk mengubah email phishing generik menjadi penipuan yang sangat personal dan meyakinkan sehingga memungkinkan untuk melewati pertahanan pengguna yang berhati-hati sekalipun,” tambahnya.

Untuk mengurangi risiko, Kaspersky menyarankan agar pengguna tidak memasukkan data yang dapat mengidentifikasi diri, seperti nama lengkap, jabatan, perusahaan, kota, alamat, atau rutinitas harian. 

Pengguna juga diminta tidak mengunggah foto yang menampilkan logo perusahaan, dokumen, pelat nomor kendaraan, atau informasi sensitif lainnya.

Selain itu, pengguna disarankan meninjau kebijakan privasi platform AI sebelum menggunakannya dan mengaktifkan perlindungan keamanan digital, termasuk solusi keamanan yang dapat membantu mendeteksi tautan berbahaya dan upaya phishing.

×
back to top