×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Puskesmas Mulai Gunakan AI untuk Deteksi Risiko Kehamilan, Bidan Cukup Foto Buku KIA

Oleh: Tek ID - Sabtu, 14 Maret 2026 19:40

Puskesmas di Lombok dan Garut mulai uji coba teknologi AI dan OCR untuk membaca Buku KIA dan memprediksi risiko kehamilan ibu.

Puskesmas Mulai Gunakan AI untuk Deteksi Risiko Kehamilan Seorang bidan menunjukkan teknologi OCR sebagai implementas AI di Puskesmas. dok. Sid Indonesia

Transformasi digital mulai merambah layanan kesehatan dasar di Indonesia. Sebuah inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini diuji coba di puskesmas untuk membantu tenaga kesehatan memantau kondisi ibu hamil secara lebih cepat dan akurat.

Teknologi ini memanfaatkan Optical Character Recognition (OCR) dan AI prediktif untuk membaca data yang tercatat dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Melalui sistem tersebut, bidan tidak lagi harus memasukkan data secara manual ke dalam sistem digital.

Dalam praktiknya, bidan cukup memotret halaman Buku KIA menggunakan telepon seluler. Sistem kemudian akan membaca tulisan yang ada di buku tersebut dan secara otomatis mengubahnya menjadi data digital yang dapat dianalisis lebih lanjut.

Langkah ini dinilai dapat mengurangi beban administrasi tenaga kesehatan, terutama di puskesmas yang sering menghadapi jadwal pelayanan padat. Data yang sebelumnya tersimpan dalam catatan kertas kini dapat langsung masuk ke sistem digital hanya dalam hitungan menit.

Setelah data dikumpulkan, sistem AI prediktif akan menganalisis pola kesehatan dari berbagai informasi yang tersedia, seperti riwayat pemeriksaan kehamilan, tekanan darah, dan indikator kesehatan lainnya. Dari analisis tersebut, sistem akan memberikan indikasi mengenai kemungkinan risiko yang perlu mendapat perhatian tenaga kesehatan.

Hasil analisis tersebut tidak dimaksudkan sebagai diagnosis medis, melainkan sebagai alat bantu bagi bidan untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan perhatian lebih, rujukan lanjutan, atau pemeriksaan tambahan lebih awal.

Kemampuan sistem untuk menandai potensi risiko dinilai penting di lapangan. Dalam satu hari, seorang bidan dapat menangani puluhan pasien, sehingga teknologi ini diharapkan membantu memastikan tidak ada kondisi berisiko yang terlewat.

Implementasi awal teknologi ini mulai dilakukan melalui pelatihan dan uji coba pada 6, 10, dan 11 Maret 2026. Sebanyak 40 bidan desa dari empat puskesmas di dua provinsi mengikuti pelatihan penggunaan sistem tersebut.

Di Nusa Tenggara Barat, pelatihan melibatkan bidan dari Puskesmas Montong Betok dan Puskesmas Narmada di Pulau Lombok. Sementara di Jawa Barat, kegiatan serupa diikuti oleh bidan dari Puskesmas Karangpawitan dan Puskesmas Cibatu di Kabupaten Garut.

Pemilihan keempat puskesmas tersebut didasarkan pada kesiapan fasilitas, dukungan tenaga kesehatan, serta komitmen pemangku kebijakan setempat dalam mendukung inovasi teknologi di layanan kesehatan.

Dalam pelatihan tersebut, para bidan tidak hanya mempelajari cara menggunakan aplikasi, tetapi juga dilatih untuk melakukan verifikasi hasil pembacaan OCR. Proses verifikasi ini penting untuk memastikan tidak ada data kesehatan yang terbaca keliru atau terlewat oleh sistem.

Keakuratan data menjadi faktor penting dalam penggunaan teknologi AI di sektor kesehatan. Sistem AI hanya dapat bekerja secara optimal jika data yang digunakan benar dan lengkap, sehingga pengalaman klinis dan ketelitian bidan tetap menjadi elemen utama dalam proses pelayanan.

Pengembangan teknologi ini merupakan bagian dari program KONEKSI AI in Healthcare, sebuah kolaborasi lintas institusi yang dipimpin oleh Summit Institute for Development sejak 2024.

Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia melalui skema Flourish Funding dari Dana Hibah KONEKSI. Pendanaan ini diberikan setelah melalui proses seleksi yang menilai inovasi teknologi, kesesuaian dengan kebijakan kesehatan Indonesia, serta potensi dampaknya di lapangan.

Uji coba yang dilakukan di empat puskesmas tersebut menjadi tahap awal untuk mengevaluasi efektivitas sistem sebelum kemungkinan diterapkan lebih luas di berbagai daerah.

Inisiatif ini juga menunjukkan perubahan dalam praktik pelayanan kesehatan di tingkat dasar. Buku KIA yang selama ini menjadi sumber data manual mulai terintegrasi dengan sistem digital yang mampu menganalisis informasi kesehatan secara lebih komprehensif.

×
back to top