×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Project AVA Milik Razer Tuai Kritik imbas Tampilannya yang Dinilai Buruk

Oleh: Haidhar Ali Faqih - Rabu, 14 Januari 2026 16:58

Perangkat AI Companion milik Razer, Project AVA, mendapat kritikan dari warganet karena tampilannya.

Project AVA Milik Razer Tuai Kritik Karena Tampilannya Project AVA milik Razer. dok. Razer

Razer kembali menarik perhatian publik setelah memperkenalkan Project AVA, perangkat AI companion berbentuk desktop, dalam ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026.

Alih-alih disambut antusias, kehadiran Project AVA justru menuai beragam kritik dan ejekan di media sosial. Namun, menurut pengamat reaksi spontan tersebut dinilai meleset dari persoalan utama yang justru berpotensi menghambat Project AVA masuk ke arus utama.

Project AVA sendiri merupakan asisten AI berbentuk fisik yang dirancang untuk diletakkan di atas meja. 

Perangkat ini memiliki layar holografik berukuran 5,5 inci di dalam bodi silinder, yang menampilkan karakter virtual dengan wajah dan ekspresi.

Razer membekali Project AVA dengan kamera untuk pelacakan mata, pengenalan ekspresi, serta interaksi personal. 

Dalam konteks game, AI ini mampu mengamati cara pengguna bermain, memberi saran, menyemangati, hingga berperan sebagai gaming co-pilot.

Selain untuk bermain game, Project AVA juga menjalankan fungsi umum asisten AI, seperti penerjemahan bahasa, pengelolaan tugas, serta percakapan real-time untuk menunjang kebutuhan kerja dan aktivitas sehari-hari.

Saat ini, tersedia beberapa pilihan avatar, mulai dari karakter gamer pria dan wanita, hingga sosok publik seperti Faker, atlet eSport ternama, serta Sao, figur viral asal Jepang. 

Razer menegaskan Project AVA bukan sekadar asisten suara, melainkan sebuah AI companion.

Meski menampilkan inovasi yang menarik, sebagian warganet menilai karakter Project AVA terasa aneh dan menyeramkan. 

Komentar bernada serupa juga membanjiri kolom komentar video resmi Razer, dengan banyak pihak menyamakan Project AVA dengan stereotip “waifu digital” serta simbol keterasingan sosial.

Meski demikian, Project AVA menawarkan pendekatan AI yang berbeda, bukan sekadar alat ringkasan atau produktivitas seperti kebanyakan AI yang ada saat ini.

Namun, Project AVA masih menghadapi kendala besar, yakni pada aspek pengisi suara. Dalam video demonstrasi, suara karakter terdengar kaku, aksennya dinilai mengganggu, dan gaya bahasanya terasa canggung untuk interaksi jangka panjang.

Razer diduga menggunakan suara hasil AI generatif, yang dinilai belum mampu membangun koneksi emosional dengan pengguna.

Razer menargetkan Project AVA meluncur pada akhir 2026. Hingga kini, harga resminya belum diumumkan. 

Meski begitu, konsumen sudah dapat melakukan reservasi dengan biaya 20 dollar AS, atau sekitar Rp300.000-an.

Project AVA memang tidak ditujukan untuk semua orang. Namun, jika Razer mampu meningkatkan kualitas suara dan memperluas pilihan model AI, perangkat ini berpotensi menjadi bentuk AI yang lebih personal, menyenangkan, dan bermakna dibandingkan sekadar asisten biasa di Smartphone.

Tag

Tagar Terkait

×
back to top