Privy Catat 71 Juta Pengguna dan Perkuat Identitas Digital Tangkal Penipuan Online
Privy mencatat 71 juta pengguna terverifikasi dan memperkuat jaminan digital trust untuk menangkal penipuan online di 2026.
CEO Privy Marshall Pribadi. dok. Privy
Ancaman penipuan daring (online) dan pemalsuan identitas berbasis teknologi kian meningkat seiring masifnya transformasi digital.
Menjawab tantangan itu, platform penyedia identitas digital dan tanda tangan elektronik, Privy, terus memperkuat ekosistemnya agar pengguna merasa aman, terpercaya, dan memiliki jaminan hukum.
Sepanjang 2025, Privy mencatat pertumbuhan signifikan dengan 71 juta pengguna individu terverifikasi serta 167 ribu pengguna institusi dan organisasi.
Di saat yang sama, Privy juga mengedepankan peran aktif dalam menangkal berbagai bentuk penipuan digital yang semakin kompleks, termasuk yang memanfaatkan teknologi deepfake AI.
- Indonesia Dinilai Perlu Perkuat Infrastruktur dan Akselerasi Investasi Digital
- Antisipasi Musim Belanja Akhir Tahun, Pelaku Retail Harus Berpikir Seperti Perusahaan Teknologi Hadapi Lonjakan Data
- Penggunaan AI Makin Masif di Indonesia, Infrastruktur Digital Jadi Pendorong Inovasi
- DANA Premium Mini Bikin Anak Remaja Bisa Punya Dompet Digital Bermodal KIA, Orang Tua Tetap Pegang Kendali
CEO Privy Marshall Pribadi mengatakan, Privy menjadi satu-satunya institusi di Indonesia yang tidak hanya memberikan kepastian, tetapi juga jaminan atas keaslian dokumen digital.
“Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) yang berinduk ke Kominfo RI, Privy memberikan Certificate Warranty hingga Rp1 miliar untuk melindungi pengguna dari kerugian akibat dokumen yang ditandatangani dengan Sertifikat Privy yang terbukti tidak asli,” ujar Marshall.
Marshall menegaskan, kehadiran Privy semakin relevan di tengah meningkatnya kasus penipuan online dan pemalsuan identitas berbasis AI.
Melalui proses verifikasi berlapis, Privy memastikan identitas pihak yang bertransaksi dapat dipastikan keasliannya.
“Cukup meminta mereka menandatangani dokumen melalui Privy atau berkomunikasi lewat Privy Chat, maka identitas mereka dijamin keasliannya,” jelasnya.
Sepanjang 2025, Privy berhasil mendeteksi dan mencegah lebih dari 122 juta upaya kecurangan digital, termasuk pemalsuan identitas dan rekayasa dokumen elektronik.
Selain memperkuat pasar domestik, Privy juga mencatat langkah strategis melalui ekspansi ke Australia, menjadikannya perusahaan Indonesia pertama yang mengekspor layanan teknologi tinggi di bidang identitas digital ke pasar internasional.
“Ekspansi ini menegaskan peran Privy sebagai fondasi keamanan transaksi digital, baik untuk korporasi, UMKM, maupun individu,” imbuh Marshall.
Memasuki 2026, Privy menargetkan penguatan ekosistem digital trust melalui pengembangan berbagai fitur strategis.
Privy akan mengakselerasi pengembangan Digital ID untuk akses lintas platform, Privy Chat untuk komunikasi terverifikasi, serta tanda tangan elektronik tersertifikasi untuk dokumen perpajakan yang lebih canggih.
“Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperkuat ekosistem digital yang aman dan terpercaya. Privy hadir bukan hanya sebagai teknologi, tetapi sebagai jaminan kepercayaan bagi masyarakat dan dunia usaha,” pungkas Marshall.
Meta Deskripsi (±140 karakter)
Privy mencatat 71 juta pengguna terverifikasi dan memperkuat jaminan digital trust untuk menangkal penipuan online di 2026.









