×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Lonjakan Data Global Picu Biaya Baru, Backup dan Keamanan Kini Jadi Isu Ekonomi AI

Oleh: Tek ID - Senin, 30 Maret 2026 18:45

Lonjakan data global membuat backup dan keamanan jadi isu ekonomi AI. Tata kelola data kini kunci efisiensi biaya dan kualitas sistem.

Lonjakan Data Global Picu Biaya Baru, Termasuk untuk Backup Ilustrasi lonjakan data. dok. getty images

Pertumbuhan data global yang semakin masif mulai mengubah cara perusahaan memandang pengelolaan data. Pencadangan (backup) dan keamanan kini tidak lagi sekadar aspek teknis, tetapi telah menjadi persoalan ekonomi dalam ekosistem kecerdasan buatan (AI).

Menurut Country Manager Clouder Indonesia Sherlie Karnidta, lonjakan volume data global yang diproyeksikan mencapai ratusan zettabyte dalam beberapa tahun ke depan membawa konsekuensi biaya yang signifikan bagi perusahaan.

“Ketahanan kini menjadi isu ekonomi AI, di mana setiap tambahan dataset yang disimpan dan dilindungi akan meningkatkan biaya, mulai dari penyimpanan hingga kualitas AI di hilir,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Kondisi ini semakin relevan di Indonesia, yang tengah mengalami percepatan transformasi digital. Pertumbuhan kapasitas pusat data yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir diikuti dengan risiko keamanan siber yang juga melonjak. 

Serangan siber dalam jumlah ratusan juta kasus serta kerugian finansial yang besar menjadi indikasi bahwa pengelolaan data tidak lagi bisa dilakukan secara konvensional.

Menurut Sherlie, pendekatan lama yang menekankan penyimpanan data sebanyak mungkin kini tidak lagi relevan.

“Backup tidak bisa diperlakukan seperti polis asuransi yang terus diperluas tanpa batas. Tanpa tata kelola yang kuat, program ketahanan data justru bisa menjadi beban finansial,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya perubahan strategi, dari sekadar menyimpan data menjadi memilih data yang benar-benar bernilai untuk dilindungi. 

Hal ini mencakup klasifikasi data berdasarkan dampak bisnis, risiko, serta kebutuhan pemulihan saat terjadi gangguan.

Fenomena lain yang menjadi sorotan adalah meningkatnya praktik penyimpanan data yang tidak relevan atau dikenal sebagai redundant, obsolete, and trivial (ROT). 

Data jenis ini tetap disimpan dan dicadangkan, meski tidak memiliki nilai operasional, sehingga memperbesar biaya dan memperumit proses pemulihan.

Dalam konteks adopsi AI, dampaknya bahkan lebih luas. Data yang tidak terkelola dengan baik dapat masuk ke dalam sistem analitik dan model AI, menurunkan kualitas hasil yang dihasilkan.

Sherlie menyebut kondisi ini sebagai beban ganda bagi perusahaan. 

“Organisasi seperti harus membayar dua kali, pertama untuk menyimpan data yang minim nilai, lalu untuk memperbaiki dampaknya di sistem hilir,” ujarnya.

Untuk itu, pengujian pemulihan data (disaster recovery) secara berkala dinilai menjadi kunci dalam memastikan strategi yang diterapkan benar-benar efektif. 

Pengujian ini membantu perusahaan memahami prioritas data serta mengidentifikasi ketergantungan dalam sistem yang sering kali tidak terlihat.

Selain itu, tantangan juga muncul dari lingkungan hybrid dan multi-cloud yang memicu duplikasi data. Tanpa tata kelola yang konsisten, replikasi data dapat memperbesar biaya dan menyulitkan pengendalian.

Sherlie menekankan keputusan terkait pengelolaan data harus dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar urusan teknis.

“Ketahanan bukan soal memperbanyak salinan data, tetapi tentang keputusan yang disengaja agar organisasi tidak terus menanggung biaya untuk data yang tidak diperlukan,” tuturnya.

Momentum peringatan World Backup Day dan World Cloud Security Day pun menjadi pengingat perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam mengelola data. Tata kelola yang tepat tidak hanya menekan biaya, tetapi juga meningkatkan keandalan sistem dan kualitas implementasi AI.

Di tengah ledakan data dan meningkatnya ancaman siber, perusahaan dituntut untuk lebih selektif, strategis, dan efisien dalam mengelola aset data mereka agar tetap kompetitif di era digital.

×
back to top