Cloudera Perbarui Platform Hybrid AI, Hilangkan Upgrade Rumit dan Dorong Skalabilitas Data Tanpa Batas
Cloudera rilis pembaruan platform hybrid AI dengan stabilitas hingga 2032, dorong skalabilitas data tanpa migrasi kompleks.
Ilustrasi operasional Cloudera. dok. Cloudera
Cloudera mengumumkan peningkatan besar pada platform data hybrid dan kecerdasan buatan (AI) miliknya.
Pembaruan ini dirancang untuk menjawab tantangan perusahaan dalam memodernisasi infrastruktur data tanpa mengorbankan efisiensi biaya, stabilitas, dan kecepatan inovasi.
Langkah ini menjadi krusial di tengah lonjakan investasi global di sektor AI yang diproyeksikan mencapai 3,33 triliun dolar AS pada 2027. Banyak perusahaan kini menghadapi dilema antara kebutuhan modernisasi dan kompleksitas operasional akibat siklus pembaruan sistem yang terlalu sering.
Melalui pembaruan ini, Cloudera menghadirkan fondasi platform yang lebih stabil dengan dukungan jangka panjang hingga 2032.
- 84% Pengguna Simpan Data Sensitif Secara Digital, Kaspersky Ingatkan Risiko dan Pentingnya Proteksi Berlapis
- BDx Raih Pendanaan Rp5,4 Triliun, Percepat Pembangunan Data Center AI di Indonesia dan Asia
- 5G Jadi Fondasi AI di Indonesia, Ericsson Ungkap Lonjakan Data dan Perubahan Perilaku Pengguna
- Lonjakan Data Global Picu Biaya Baru, Backup dan Keamanan Kini Jadi Isu Ekonomi AI
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mengurangi beban operasional sekaligus fokus pada pengembangan analitik dan AI bernilai tinggi.
Chief Product Officer Cloudera Leo Brunnick mengatakan kebutuhan pasar kini semakin kompleks.
“Pelanggan tidak ingin lagi berkompromi. Mereka membutuhkan fleksibilitas cloud, kontrol pusat data, dan skalabilitas tanpa gangguan—semuanya dalam satu platform,” ujarnya.
Salah satu keunggulan utama pembaruan ini adalah kemampuan modernisasi tanpa migrasi disruptif. Platform Cloudera kini memungkinkan integrasi yang konsisten antara lingkungan cloud dan on-premises tanpa perlu memindahkan data, sehingga mengurangi risiko serta biaya re-platforming.
Selain itu, Cloudera juga menghadirkan sejumlah kapabilitas baru untuk meningkatkan performa dan efisiensi.
Optimalisasi otomatis pada tabel Apache Iceberg memungkinkan percepatan kueri sekaligus mengurangi beban penyimpanan. Fitur Cloud Bursting juga memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas komputasi secara elastis saat beban kerja meningkat, tanpa harus memindahkan data dari sistem utama.
Tak hanya itu, kemampuan interoperabilitas open data diperluas, memungkinkan akses data lintas platform secara aman tanpa duplikasi, sehingga membantu mengurangi silo data yang selama ini menjadi tantangan utama perusahaan.
Country Manager Indonesia Cloudera Sherlie Karnidta mengatakan pembaruan ini relevan dengan kebutuhan pasar domestik.
“Perusahaan di Indonesia tengah berlomba mengadopsi AI, namun siklus upgrade yang terlalu sering justru menyerap sumber daya yang seharusnya digunakan untuk inovasi,” katanya.
Ia menambahkan stabilitas platform dan fleksibilitas hybrid memungkinkan perusahaan mengembangkan AI tanpa harus menghadapi kompleksitas migrasi data.









