×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

India Perpanjang Status Startup Deep Tech hingga 20 Tahun, Sinyal Serius Bangun Ekosistem Jangka Panjang

Oleh: Tek ID - Minggu, 08 Februari 2026 13:10

India memperpanjang status startup deep tech hingga 20 tahun dan menaikkan ambang insentif, sinyal serius membangun ekosistem teknologi jangka panjang.

India Perpanjang Status Startup Deep Tech hingga 20 Tahun Ilustrasi deep tech. dok. Freepik

Pemerintah India mengubah kerangka aturan startup untuk sektor deep tech, mulai dari antariksa, semikonduktor, hingga bioteknologi, guna menyesuaikan kebijakan dengan siklus pengembangan teknologi yang panjang. 

Perubahan ini memperpanjang masa pengakuan startup deep tech menjadi 20 tahun dan menaikkan ambang pendapatan agar tetap memperoleh insentif pajak, hibah, dan kemudahan regulasi hingga 3 miliar rupee, dari sebelumnya 1 miliar rupee.

Langkah tersebut menandai upaya New Delhi membangun ekosistem deep tech berjangka panjang dengan memadukan reformasi regulasi dan mobilisasi modal publik. 

India juga menyiapkan pendanaan berbasis riset, pengembangan, dan inovasi (RDI) senilai 1 triliun rupee untuk memperluas pembiayaan “patient capital” bagi perusahaan berbasis sains dan R&D.

Di sisi swasta, koalisi investor India Deep Tech Alliance yang beranggotakan Accel, Blume Ventures, Celesta Capital, Premji Invest, Ideaspring Capital, Qualcomm Ventures, dan Kalaari Capital dibentuk dengan dukungan penasihat dari Nvidia.

Bagi pendiri, revisi aturan ini dinilai menghapus tekanan artifisial yang selama ini muncul ketika perusahaan masih pra-komersial namun terancam kehilangan status startup. 

Vishesh Rajaram, mitra pendiri Speciale Invest, menyebut kebijakan lama kerap menciptakan “sinyal gagal palsu” karena menilai perusahaan sains berdasarkan tenggat kebijakan, bukan kemajuan teknologi. 

“Dengan pengakuan formal bahwa deep tech itu berbeda, kebijakan ini mengurangi friksi dalam penggalangan dana, pendanaan lanjutan, dan interaksi dengan negara,” ujarnya dikutip dari TechCrunch.

Meski demikian, tantangan pendanaan, terutama pada tahap Seri A dan seterusnya, masih menjadi kendala utama, khususnya bagi perusahaan deep tech yang padat modal. Di sinilah peran RDI diharapkan melengkapi pasar dengan menutup celah pendanaan lanjutan tanpa mengubah kriteria komersial investor swasta. 

Arun Kumar, Managing Partner Celesta Capital, menilai manfaat utama RDI adalah meningkatkan ketersediaan dana pada fase awal hingga pertumbuhan dengan tenor serupa modal privat.

Kerangka baru ini juga dinilai menghindarkan “graduation cliff” yang kerap memutus dukungan justru saat perusahaan mulai scale-up. 

Siddarth Pai menuturkan RDI mulai memasuki fase operasional dengan penetapan gelombang awal manajer dana, serta proses seleksi manajer venture dan private equity. 

Berbeda dari fund-of-funds tradisional, RDI dirancang fleksibel untuk mengambil posisi langsung sekaligus menyalurkan kredit dan hibah.

Dari sisi pendanaan, India masih berstatus pasar berkembang untuk deep tech. Total pendanaan kumulatif mencapai 8,54 miliar dolar AS, namun momentum kembali menguat. 

Pada 2025, startup deep tech India menghimpun 1,65 miliar dolar AS, naik dari 1,1 miliar dolar AS pada dua tahun sebelumnya, menurut data Tracxn. 

Kenaikan ini terutama didorong sektor yang selaras dengan prioritas nasional seperti manufaktur maju, pertahanan, teknologi iklim, dan semikonduktor. 

Sebagai perbandingan, pendanaan deep tech di AS mencapai sekitar 147 miliar dolar AS pada 2025, sementara China sekitar 81 miliar dolar AS.

Bagi investor global, perubahan kerangka ini dibaca sebagai sinyal niat kebijakan jangka panjang, bukan pemicu pergeseran alokasi instan. 

Pratik Agarwal, Partner di Accel, menilai pengakuan regulasi yang memperpanjang siklus hidup perusahaan memberi keyakinan lingkungan kebijakan tidak berubah di tengah perjalanan. 

Ia juga melihat meningkatnya selera pasar modal India terhadap perusahaan teknologi venture-backed dapat mengurangi dorongan relokasi kantor pusat ke luar negeri, meski akses modal dan pelanggan tetap krusial.

Ujian akhirnya, kata Kumar, adalah lahirnya massa kritis perusahaan deep tech India yang mampu bersaing global. 

Tolok ukurnya sederhana namun ambisius: munculnya setidaknya sepuluh perusahaan deep tech India dengan kesuksesan berkelanjutan di panggung dunia dalam satu dekade ke depan.

×
back to top