Skenario terburuk bagi Huawei mulai terjadi

Dampak keputusan pemerintah AS untuk mencekal Huawei mulai meluas. Kini, perusahaan pengembang arsitektur desain chip, ARM mulai membatasi diri dengan Huawei.

Skenario terburuk bagi Huawei mulai terjadi Source: Google

Kebijakan Amerika untuk mencekal Huawei akhirnya berbuntut panjang. Karena kebijakan itu, perusahaan pemasok komponen asal Amerika dilarang untuk berbisnis dengan Huawei. Bahkan raksasa teknologi Google pun akhirnya memutus hubungan bisnis dengan perusahaan asal Cina tersebut.

Kini skenario terburuk mulai muncul ke permukaan. Perusahaan pengembang chip prosesor pun akhirnya menangguhkan bisnisnya dengan Huawei. Padahal, Huawei sangat bergantung pada ARM untuk arsitektur desain chip prosesor Kirin miliknya. Dengan begini, mimpi Huawei untuk tetap memproduksi chipset Kirin bakal kandas di tengah jalan.


BACA JUGA

Huawei bakal rumahkan ratusan pekerja di Amerika

Huawei konfirmasi OS Hongmeng untuk perangkat IoT

Smartphone 5G Huawei akan rilis akhir Juli


Wajar saja bila perusahaan asal Amerika Serikat terikat dengan kebijakan pemutusan bisnis dengan Huawei, namun tidak dengan ARM. Perusahaan ini berbasis di Inggris dan dimiliki oleh SoftBank Group asal Jepang. Kendati begitu, pemutusan hubungan tetap dilakukan oleh perusahaan pengembang arsitektur desain chip ini.

TheVerge (23/5) melaporkan bahwa pemutusan ini merupakan dampak yang lebih luas dari kebijakan Amerika Serikat. Dalam sebuah memo yang diterbitkan untuk para pegawainya, ARM akhirnya mengungkapkan bahwa desain chip miliknya masuk dalam “teknologi asal Amerika Serikat”. Kendati berbasis di Inggris dan dimiliki perusahaan Jepang, ARM justru mengembangkan beberapa desain prosesornya di Austin, Texas dan San Jose, California yang semuanya berada di Amerika Serikat. Karena hal itu pulalah, kebijakan Amerika Serikat mau tak mau mempengaruhi desain prosesor yang dikembangkan ARM.

“ARM mematuhi pembatasan terbaru yang ditetapkan oleh pemerintah AS dan sedang melakukan percakapan dengan badan pemerintah AS yang sesuai untuk memastikan kami tetap patuh.” kata seorang juru bicara ARM, seperti dilaporkan TheVerge. Dalam laporan itu juga diungkapkan bahwa ARM berharap dapat menemukan solusi yang cepat untuk menangani masalah ini.

 

Apa itu ARM?

ARM adalah sebuah perusahaan pengembang desain chip yang didirikan pada 1990. Namun pada September 2016, perusahaan ini dibeli oleh raksasa telekomunikasi asal Jepang, Softbank. Meski begitu, markas besarnya masih tetap berada di Cambridge, Inggris.

Untuk diketahui, ARM tidak mengembangkan prosesor komputer untuk kebutuhan mereka sendiri, tetapi memberikan lisensi teknologi semikonduktornya kepada perusahaan lain. Dalam beberapa kasus, manufaktur hanya membeli lisensi arsitektur ARM.

Hal ini memberi opsi lebih kepada pembuat chip lain untuk memodifikasi desain mereka sendiri. Namun, ada juga manufaktur yang membeli lisensi untuk desain inti prosesor ARM, yang menjelaskan bagaimana transistor dalam desain itu harus disusun. Desain ini masih harus dikombinasikan dengan elemen lain, seperti komponen memori dan radio untuk membuat sebuah SOC (system-on-chip).

Untuk kasus Huawei, perusahaan China ini membeli lisensi desain inti prosesor ARM. Sama halnya dengan chipset Samsung Exynos, Qualcomm Snapdragon bahkan Apple A11. Semuanya melibatkan ARM untuk membangun chip tersebut.

Kebijakan yang dijatuhkan pemerintah Amerika Serikat membuat ARM harus menunda semua kontrak aktif, dukungan lisensi, mendistribusikan teknologi (termasuk software, kode program dan update lainnya), bahkan terlibat dalam diskusi teknikal dengan Huawei mengenai HiSilicon atau entitas lain yang berkaitan dengan Huawei.

Nasib Huawei makin nelangsa ketika pelarangan itu tampaknya juga berlaku pada ARM China, perusahaan yang berbasis di China, di mana ARM memiliki 49 persen saham di dalamnya. Sebenarnya perusahaan ini dibuat agar memungkinkan ARM untuk mengembangkan, menjual dan menawarkan dukungan produknya di negara tersebut. Dengan ini harapan itu niscaya tidak akan bisa dilakukan.

Parahnya, hal yang dilakukan ARM ini bisa saja diikuti oleh perusahaan semikonduktor lain yang sampai saat ini menjadi pemasok Huawei. Tak bisa ditampik bahwa perusahaan China ini masih mengandalkan manufaktur yang berbasis di AS seperti Micron, Skywork dan Qorvo yang memasok komponen memori dan jaringan untuk beberapa ponsel Huawei.

 

Sudah jatuh tertimpa tangga

Posisi Huawei saat ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak sampai satu minggu, sejak Google memutus hubungan kerja dengannya, ARM pun menyusul. Mimpi Huawei untuk tetap bertahan di bisnis smartphone akan sangat terancam dan berpotensi runtuh di tengah jalan.

Untuk diketahui, saat menanggapi keputusan yang dijatuhkan pemerintah AS, CEO Huawei menyatakan sudah mempersiapkan rencana untuk menghadapi situasi ini. Ren Zhengfei mengatakan Huawei akan terus mengembangkan komponen sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok luar. Hal ini menjadi sulit, pasalnya hingga saat ini Huawei masih bergantung pada desain ARM. Bukan perkara mudah untuk berganti arsitektur desain ke perusahaan lain tanpa mempengaruhi performa chip itu sendiri.

Hengkangnya ARM dari hubungan kerja dengan Huawei pun mau tak mau berdampak pada mimpi Huawei untuk membangun stasiun 5G. Tiangang, chipset 5G yang awal tahun ini diperkenalkan Huawei nyatanya juga menggunakan basis teknologi dari ARM. Memang benar bahwa perangkat yang terlanjur diperkenalkan masih bisa menggunakan teknologi asal AS. Itu pun dengan waktu terbatas. ARM percaya bahwa lisensi sementara  itu tidak berlaku untuk teknologinya.

Skenario terburuknya, Huawei akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan teknologi yang berhubungan dengan koneksi 5G. Padahal Huawei mengklaim sudah mendapatkan 30 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 25 ribu BTS 5G secara global. Tak bisa dipungkiri kalau hal ini bukan hanya berlaku untuk Huawei, namun juga adopsi 5G di seluruh dunia. Huawei harus menunda harapannya untuk memiliki satu juta stasiun pangkalan 5G secara global di tahun 2020.

Separah-parahnya kondisi Huawei, toh ada angin segar yang masih berhembus. Lisensi sementara yang diberlakukan pemerintah AS pun memberi waktu bagi Huawei untuk menyelesaikan sistem operasi khusus (yang kabarnya bernama HongMeng OS) dan merilis firmware baru ke smartphone eksisting miliknya.

 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: