Dilema pencekalan Huawei oleh Amerika Serikat

Penangguhan akses Huawei ke layanan barang dan jasa dari Amerika Serikat resmi dijatuhkan. Keputusan berani Donald Trump ini akhirnya menimbulkan dilema di dunia teknologi.

Dilema pencekalan Huawei oleh Amerika Serikat Source: Google

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara resmi memasukkan Huawei dalam Entity List. Hal ini berujung pada penangguhan akses Huawei untuk memperoleh komponen atau teknologi yang berasal dari Amerika Serikat. Harus diakui, kebijakan itu berakibat pada hilangnya dukungan Google untuk brand asal China ini.

Keputusan itu dibuat Trump menyusul dugaan bahwa pemerintah China berpotensi menggunakan produk Huawei untuk memata-matai negara-negara di Barat. Kendati Huawei menyatakan independensinya dari pemerintah China, toh perintah penangguhan tetap dijatuhkan.


BACA JUGA

Huawei bakal rumahkan ratusan pekerja di Amerika

Huawei konfirmasi OS Hongmeng untuk perangkat IoT

Smartphone 5G Huawei akan rilis akhir Juli


Mo Jia, analis peneliti di Canalys menyatakan bahwa keputusan itu ibarat pedang bermata dua. Apalagi Huawei merupakan salah satu vendor yang sudah siap dengan kedatangan jaringan 5G di dunia. Dampaknya pun bisa meluas, bukan hanya untuk Huawei saja, namun beberapa perusahaan teknologi dari Amerika Serikat.

“Saat ini, hubungan antara Huawei dengan negara-negara di Eropa masih terbilang stabil; namun ada kemungkinan di masa depan, ada lebih banyak negara yang bergabung dengan kebijakan Amerika Serikat. Pada tahap ini, negara-negara besar di Eropa tidak mungkin melarang Huawei, karena solusi 5G  yang ditawarkannya lebih murah dan kompetitif dibanding pemain lainnya,” ujar Mo Jia.

Jia menyatakan bahwa Amerika Serikat termasuk negara yang memiliki pengaruh cukup besar, dan kebijakannya dapat saja diikuti oleh negara lain. Jika hal ini terjadi, maka bisnis Huawei akan terancam. Perusahaan asal China itu harus mengubur impiannya untuk menyalip Samsung demi menempati posisi Top Global. Padahal saat ini, Apple harus menyerahkan tahtanya pada Huawei untuk menempati posisi kedua di dunia.

Lain halnya jika ternyata tidak banyak negara yang terpengaruh pada keputusan yang dijatuhkan Donald Trump. Kalau hal ini yang terjadi, dampaknya tidak akan separah yang dibayangkan. Setidaknya, pelarangan ini hanya terjadi di Amerika Serikat dan 26 negara yang sudah melarang Huawei sebelum ini.

Memang harus diakui, kehilangan dukungan Google akan membuat lini bisnis Huawei cukup terseok. Pasalnya divisi smartphone menjadi sektor yang paling banyak menyumbangkan keuntungan untuk raksasa dari China ini. Siapa yang mau pakai ponsel Android tanpa dukungan aplikasi populer seperti Gmail, YouTube atau Google Play Store? Toh meski begitu, iming-iming modem 5G akan menjadi dongkrak bagi Huawei untuk tetap eksis di dunia telekomunikasi.

Lantas bagaimana dengan perusahaan teknologi dari Amerika Serikat?

Menurut Jia, Apple, Intel dan Qualcomm akan terkena imbas kebijakan ini, terutama dari eksistensinya di negeri Tirai Bambu itu. China adalah pasar teknologi yang cukup besar. Ketiga perusahaan ini semuanya berasal dari Amerika Serikat. Jia memprediksi bahwa ketiganya akan menghadapi tekanan, terutama di pasar China.

Meski begitu, hal ini juga menimbulkan dilema tersendiri. Bila ternyata China melarang balik Qualcomm atau menaikkan pajaknya, hal ini akan berdampak lebih luas, terutama bagi smartphone China yang saat ini mengandalkan chipset besutan Qualcomm.

Untuk diketahui, Huawei sudah mengucurkan dana lebih dari USD11 miliar untuk membeli barang dan layanan jasa dari perusahaan US setiap tahunnya, Jia mengatakan bahwa Huawei sengaja menyediakan lebih banyak komponen sebelum ini. Menurut Jia, dalam jangka pendek Huawei masih memiliki komponen yang cukup. Namun jika Huawei gagal mengubah situasi, tinggal menunggu waktu sampai produksi peralatan pendukung 5G ikut terpengaruh.

TechRadar mencatat bahwa Huawei memiliki 283 partner global dan 57 partner regional untuk jaringan 5G. Huawei bahkan berharap untuk memiliki satu juta stasiun pangkalan 5G secara global pada tahun 2020.

Berdasarkan riset IPlytics, perusahaan asal China ini merupakan salah satu pemimpin di standar teknikal jaringan 5G dengan 11.423 peten. Bahkan di tahun 2018, Huawei bekerja sama dengan Vodafone yang berhasil melakukan panggilan 5G pertama menggunakan standar 3GPP 5G-NR dan spektrum sub 6 GHz.  Tak tanggung-tanggung Huawei rela mengucurkan dana sebesar USD15 triliun untuk riset pengembangan jaringan 5G, produksi chip 5G, router mobile 5G dan CPE (customer-premises equipment) yang pertama kali diperkenalkan di MWC 2018.

Penangguhan Huawei di Amerika Serikat bakal memperlambat adopsi 5G di dunia, mengingat Huawei merupakan salah satu pemimpin di inovasi jaringan super cepat ini. Di satu sisi, Huawei perlu komponen dan di sisi lain, dunia butuh 5G yang sebenarnya sudah siap diberikan Huawei.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: