Internet Makin Merata, tetapi Potensi Ekonomi Digital Indonesia Belum Maksimal
Internet seluler nyaris menjangkau seluruh Indonesia, tetapi GSMA menilai usage gap masih menghambat optimalisasi ekonomi digital.
Ilustrasi internet. dok. Magnific
Jaringan internet seluler atau mobile broadband semakin luas menjangkau Indonesia dengan coverage gap yang kini tersisa sekitar 2 persen.
Namun, luasnya jangkauan sinyal belum otomatis membuat masyarakat memanfaatkan internet secara optimal.
GSMA menilai tantangan berikutnya bagi Indonesia justru terletak pada usage gap, yakni kesenjangan antara masyarakat yang telah berada dalam cakupan jaringan dengan mereka yang benar-benar menggunakan layanan internet.
Head of Public Policy and External Affairs APAC GSMA Jeanette Whyte mengatakan penanganan usage gap perlu menjadi prioritas agar Indonesia tidak kehilangan potensi ekonomi dari konektivitas yang telah tersedia.
- Jadi Panggung Kreator Lokal, CapCut Gala 2026 Dorong Ekonomi Kreatif Digital Indonesia Makin Berdampak
- Duolingo Gandeng NIKI, Ubah Lagu Jadi Cara Baru Belajar Bahasa bagi Gen Z Indonesia
- Amartha Luncurkan Empower, Platform Donasi Digital untuk Dorong Kebangkitan Ekonomi Desa
- Narabahasa Gelar Kelas Kreator Konten, Dorong Kreativitas Digital Berbasis Bahasa yang Berdampak
“Usage gap harus menjadi prioritas. Itu merupakan hal terpenting agar Indonesia tidak kehilangan potensi secara ekonomi,” kata Jeanette dalam virtual media roundtable yang membahas laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026, Kamis (20/8/2026).
Menurut GSMA, tersedianya jaringan belum tentu membuat masyarakat langsung menggunakan internet.
Sejumlah hambatan masih membayangi, mulai dari harga perangkat, kemampuan menggunakan teknologi hingga persoalan keamanan dan kepercayaan ketika beraktivitas di ruang digital.
Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman bahkan melihat usage gap bukan semata persoalan masyarakat yang belum terkoneksi dengan internet. Kesenjangan tersebut juga mencerminkan potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan.
“Usage gap bukan hanya tentang orang-orang yang belum menggunakan internet. Ini sebenarnya merupakan aset ekonomi yang belum dimanfaatkan,” ujar Julian.
Artinya, semakin banyak masyarakat yang mampu memanfaatkan konektivitas untuk kegiatan produktif, semakin besar pula peluang munculnya manfaat ekonomi dari infrastruktur digital yang telah dibangun.
Persoalan keamanan menjadi tantangan lain. GSMA mencatat persentase konsumen di ASEAN yang melaporkan pernah mengalami scam meningkat dari 31 persen pada 2024 menjadi 45 persen pada 2025.
Julian mengatakan lebih dari 90 persen kasus scam berkaitan dengan social engineering atau rekayasa sosial. Dalam modus tersebut, pelaku memanfaatkan komunikasi untuk memanipulasi ketakutan, kecemasan maupun kepercayaan calon korban.
“Lebih dari 90 persen scam sebenarnya merupakan hasil dari social engineering. Tidak ada yang salah dengan jaringan ataupun mekanisme pembayaran. Yang terjadi adalah manipulasi terhadap ketakutan dan kecemasan masyarakat melalui komunikasi,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan meningkatkan penggunaan layanan digital tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kepercayaan masyarakat. Konektivitas yang tersedia perlu dibarengi kemampuan menggunakan teknologi sekaligus pemahaman mengenai risiko ketika beraktivitas secara daring.
Di tengah tantangan tersebut, perkembangan jaringan 5G Indonesia diperkirakan terus berlanjut. GSMA memproyeksikan sekitar sepertiga populasi Indonesia akan menggunakan 5G pada 2030, meski 4G masih menjadi teknologi konektivitas utama.
Namun, Jeanette mengingatkan keberhasilan pengembangan 5G tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan jumlah penggunanya.
“Tidak semua orang membutuhkan 5G. Salah satu hal yang kami sampaikan adalah keberhasilan 5G masih diukur berdasarkan tingkat adopsinya, padahal itu belum tentu menjadi ukuran yang paling tepat karena tidak semua orang membutuhkan 5G,” ujarnya.
Karena itu, manfaat yang dihasilkan 5G dinilai perlu menjadi bagian dari ukuran keberhasilan. Teknologi tersebut dapat diarahkan untuk kebutuhan yang memang memerlukan konektivitas berkecepatan dan berkapasitas tinggi, termasuk pada sektor industri seperti pabrik, pelabuhan, dan bandara.









