Lautan Serap Panas Terbesar Sepanjang Sejarah, Setara 12 Bom Hiroshima per Detik
Samudra menyerap tambahan energi panas sebesar 23 zettajoule dalam satu tahun.
Ilustrasi lautan. dok. Freepik
Lautan dunia mencatat penyerapan panas tertinggi sepanjang sejarah pada 2025.
Analisis terbaru yang dipublikasikan dalam Advances in Atmospheric Science menunjukkan samudra menyerap tambahan energi panas sebesar 23 zettajoule dalam satu tahun.
Secara energi, jumlah tersebut setara dengan 12 bom Hiroshima yang meledak setiap detik sepanjang tahun.
Penelitian yang dilaporkan Eos.org tersebut menegaskan lautan menyerap lebih dari 90 persen panas berlebih yang terperangkap di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca.
Akumulasi panas di laut menjadikan indikator ini sebagai salah satu tolok ukur paling andal untuk membaca perubahan iklim jangka panjang.
“Hasil ini memberikan bukti langsung bahwa sistem iklim berada dalam kondisi tidak seimbang secara termal dan terus mengakumulasi panas,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Hasil analisis menunjukkan tambahan 23 zettajoule panas pada 2025 meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 16 zettajoule.
Rangkaian ini menjadi rekor terpanjang dalam sejarah pencatatan panas laut global. Capaian ini menandai rekor kesembilan secara beruntun sejak pengukuran modern dimulai sekitar 1960.
Selain panas laut total, ilmuwan juga mencatat suhu permukaan laut global, yakni rata-rata suhu pada beberapa meter teratas perairan laut.
Pada 2025, suhu permukaan laut global tercatat sebagai yang terhangat ketiga sepanjang sejarah, sekitar 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1981–2010.
Pemanasan paling intens terjadi di Samudra Atlantik tropis dan Selatan, Laut Mediterania, Samudra Hindia bagian utara, serta Samudra Selatan.
Peningkatan suhu di wilayah-wilayah tersebut berkontribusi pada perubahan pola cuaca global.
Laut yang semakin hangat berperan besar dalam meningkatkan curah hujan global, mengubah sirkulasi atmosfer, serta memperkuat badai tropis.
Dalam setahun terakhir, kondisi ini diduga turut memperparah dampak Badai Hurricane Melissa di Jamaika dan Kuba, hujan monsun ekstrem di Pakistan, serta banjir besar di Lembah Mississippi Tengah.
“Pemanasan laut terus memberikan dampak yang sangat besar terhadap sistem Bumi,” tulis para peneliti dalam kesimpulan studi tersebut.









