Kenapa smartphone Xiaomi murah dan Samsung mahal?

Harga Xiaomi murah dan Samsung mahal karena keduanya mengambil margin yang jauh berbeda dari tiap penjualan produk.

Kenapa smartphone Xiaomi murah dan Samsung mahal?

Kenapa harga Xiaomi murah dan Samsung mahal? Secara singkat, jawabannya adalah karena keduanya mengambil margin yang jauh berbeda untuk tiap produk smartphone yang mereka jual. Sebelum menjelaskan lebih jauh, perlu kami informasikan, persepsi bahwa Xiaomi murah dan Samsung mahal itu bukan opini media ini, melainkan opini masyarakat. Bagaimana kami bisa tahu? Tentu berkat, Google autocomplete.

Google autocomplete bekerja dengan memprediksi apa yang hendak kita cari ketika mulai mengetikkan kueri. Prediksi ini berasal dari pemrosesan algoritma Google dengan mempelajari kata yang paling banyak diketikkan pengguna. Saat kita mengetik 'Kenapa Xiaomi', Google menganjurkan kata "murah dan Samsung mahal" di posisi teratas. Artinya, banyak sekali pengguna yang mengetik kueri tersebut pada Google search.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Black Shark harus tempuh jalur hardware demi penuhi TKDN

Mengenal komputasi kamera ponsel terdepan

MediaTek siapkan chip 5G untuk smartphone murah


Data Google autocomplete ini sangat berguna bagi banyak orang, terutama peneliti. Sebab, mereka bisa mempelajari hal-hal yang tidak terungkap melalui penelitian tradisional, semacam survei. Survei mengenai preferensi pilihan, seks, atau hal-hal tabu, seperti vagina, penis, perselingkuhan, suami, istri, pernikahan, payudara, misalnya, sangat sering mengecoh peneliti karena responden umumnya tidak jujur. 

Di sisi lain, hampir semua orang mengetik hal yang benar-benar jujur di Google karena merasa identitas mereka aman. Misalnya, banyak sekali yang mencaritahu: "kenapa suami minta setiap hari." Google menyediakan data yang sungguh berguna karena mereka menghitung volume kueri, dan juga dari daerah mana pertanyaan tersebut berasal.

Kembali kepada inti artikel ini, kita bisa menyimpulkan bahwa banyak orang menganggap sekaligus penasaran bahwa harga smartphone Xiaomi murah. Sebaliknya, mereka menganggap Samsung mahal. 

CEO Xiaomi, Lei Jun mengatakan, Xiaomi memang tak menargetkan profit yang sangat besar. Hal ini sebenarnya wajar terjadi di banyak perusahaan Tiongkok, namun hanya sedikit yang dapat bertahan.

Dikutip dari laman South China Morning Post, “Sejak awal, kami memulai pencarian inovasi, kualitas, desain, pengalaman pengguna, dan peningkatan efisiensi tanpa henti, untuk menyediakan produk dan layanan teknologi terbaik dengan harga terjangkau,” kata Lei Jun.

Menurut salah satu manajer senior peneliti IDC, Kiranjeet Kaur Margin, keuntungan bersih dari Xiaomi hanya 5 persen saja. Dia mengatakan, bisnis perangkat keras Xiaomi sejalan dengan industri manufaktur mobil.

“Sangat tidak biasa bagi perusahaan perangkat keras untuk membuat komitmen seperti itu, dan mungkin untuk menarik pelanggan,” katanya.

"Itu selalu menjadi pesan Xiaomi kepada pelanggannya bahwa mereka berusaha menjaga agar biaya tetap rendah sehingga dapat memberikan produk terjangkau."

Di sisi lain, beberapa perusahaan smartphone besar, seperti Samsung dan lainnya mengambil untung yang banyak dari smartphone mereka. Tak tanggung-tanggung, margin-nya bisa mencapai lebih dari 50 persen per perangkat.

Menurut data IDC yang diumumkan pada 2017 silam, Samsung berhasil mendapatkan margin keuntungan hingga 69,7 persen hanya dari Galaxy Note 3. Bandingkan dengan Xiaomi yang hanya mengambil margin 5 persen saja.

Lantas, mengapa Xiaomi bisa menjual smartphone dengan harga murah, sedangkan Samsung mempertahankan margin keuntungan yang besar? 

Pertama-tama, hal yang perlu kalian ketahui mengenai bisnis smartphone adalah biaya pengembangan produk yang mahal. Para vendor harus menginvestasikan banyak uang dan waktu untuk terus memberikan inovasi bagi para penggemarnya.

Mereka juga harus mengeluarkan banyak uang untuk mengiklankan perangkat. Hal ini agar mereka dapat bersaing dengan para vendor smartphone lainnya.

Sekarang, tinggal bagaimana para vendor mengakali hal tersebut. Samsung membebankan biaya marketing kepada para penggunanya. Mereka memilih menggunakan brand ambassador profesional untuk mengiklankan produk.

Di sisi lain, Xiaomi mengubah penggunanya menjadi duta besar mereka. Sejak awal perusahaan tersebut berdiri, mereka menghindari pengeluaran jutaan dalam iklan offline dan lebih mengejar iklan melalui media sosial.

Pada 2016 misalnya, Xiaomi membagikan 100 Redmi Note 3 kepada kepada Mi Fans yang paling aktif di komunitas mereka. Ada juga kerja sama dengan e-commerce besar di seluruh dunia. Di India, Amerika, dan beberapa negara lain, mereka menggandeng Amazon untuk mempromosikan perangkat mereka.

Di Indonesia, mereka memilih Lazada, dan baru-baru ini ,menggandeng Shopee untuk memperkenalkan dan menjual Redmi Note 8 dan Note 8 Pro. Mereka bahkan mengiming-imingi calon pengguna dengan harga perkenalan pada saat melakukan penjualan perdana

Selain itu, mereka juga menjual aplikasi, game, dan tema Android di Mi Store (sekarang berubah menjadi GetApp). Menurut laporan pendapatan dari tahun 2013, Xiaomi menghasilkan sekitar USD4.9 juta atau sekira Rp68 miliar per bulan.

Bahkan, beberapa waktu lalu, Xiaomi mengaku bahwa pengguna aktif di Indonesia yang menggunakan GetApps sudah mencapai 1,7 juta per bulannya. Jumlah ini meningkat sekitar 170 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Bukannya Samsung tak melakukan hal yang sama. Namun, mereka lebih memilih untuk melakukan marketing dengan membuat billboard besar yang menampilkan artis papan atas.

Sekarang, kita akan membicarakan soal biaya pengembangan produk. Seperti diketahui, Samsung memiliki lini usaha untuk mengembangkan teknologi mereka sendiri, termasuk membuat prosesor. Hingga saat ini, mereka masih menjual perangkat yang menggunakan prosesor Exynos di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Hal ini membuat mereka harus mengeluarkan biaya pengembangan yang sangat besar. Meski demikian, mereka masih tetap menggunakan prosesor milik Qualcomm untuk menekan biaya pengembangan perangkat.

Di sisi lain, Xiaomi sebagian besar mengandalkan pihak ketiga, seperti Qualcomm dan MediaTek untuk menyuplai prosesor. Memang, mereka juga mengembangkan prosesor sendiri, namun masih dalam skala yang cukup kecil.

Lalu strategi terakhir Xiaoami adalah, mereka tidak memiliki banyak toko offline karena memfokuskan diri untuk menjualnya secara online. Ini berarti, mereka tidak perlu biaya tambahan, seperti membayar sumber daya manusia untuk menjaga toko. Xiaomi juga membuat perangkat dengan jumlah terbatas agar mereka tidak memiliki biaya tambahan untuk penyimpanan di gudang.

Meskipun begitu, strategi ini bak pisau bermata dua. Di Indonesia contohnya, Xiaomi sering kali mendapatkan komplain karena banyak barang mereka yang ‘ghaib’. Sudah jelas?

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: