Digitalisasi perbankan Indonesia harus ngebut di 2018

Bila tidak ingin dilibas pemain baru, perbankan tidak cukup hanya aware, tapi juga harus akselerasi.

Munculnya inovasi baru di bidang keuangan, khususnya di bidang teknologi keuangan, memaksa perbankan untuk berubah. International Data Corporation (IDC) Indonesia telah melakukan studi dan pengamatan pada industri perbankan Indonesia, terkait transformasi digital ini.

Handojo Triyanto, Senior Research Manager for IDC Financial Insight, merekomendasikan beberapa inisiatif. Pertama, kerangka kerja (framework) transformasi digital dalam institusi perbankan.

Berdasarkan riset IDC, kebanyakan perbankan di Indonesia belum memiliki kerangka kerja ini. Beberapa bank malah melakukan transformasi digital secara sporadis dan reaktif terhadap perkembangan digital, baik sebagai respons terhadap pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Kerangka kerja ini merupakan panduan yang efektif dan efisien untuk mengawal transformasi digital perbankan. Pasalnya, proses transformasi merupakan perjalanan panjang selama 5 sampai 10 tahun ke depan.

Kemudian, dalam 12 bulan ke depan, bank harus memiliki produk maupun layanan pembayaran online. Jasa pembayaran ini sangat dekat dengan konsumen dan dibutuhkan sehari-hari.

Meningkatnya transaksi pembayaran digital menjadikan layanan maupun produk pembayaran online sangat penting. Bank-bank besar, seperti Mandiri, BRI, BCA, dan BNI telah meluncurkan produk pembayaran online mereka. Namun bagi bank-bank yang belum, mereka harus menciptakannya dalam 12 bulan ke depan bila tidak ingin ditinggalkan pelanggan. Terutama sekali ketika generasi muda yang lahir di era digital mulai tumbuh menjadi kelompok produktif.

Masa depan bank, dalam kacamata IDC, adalah bank yang terhubung (connected banking). Bank masa depan harus memiliki kemampuan agar dapat terkoneksi dengan ekosistemnya, baik konsumen, UMKM, korporasi, dan institusi lainnya, bahkan kepada kompetitor sekalipun.

DBS dan Maybank yang notabene institusi keuangan luar negeri telah mulai menyediakan "Fintech Sandbox". Ekosistem khusus inilah yang menghubungkan bank dengan ekosistem digital yang berkembang di pasar.

Dalam 12 sampai 24 bulan ke depan, proyek internal bank harus meluncurkan inisiatif terkait teknologi di platform ketiga. Yang dimaksud platform ketiga oleh IDC ini adalah Cloud, Big Data dan Analytics, Social Business, dan Mobility. Handojo melihat, kebanyakan bank saat ini fokus mengembangkan inisiatif di bagian mobility seperti, internet dan mobile banking. Inisiatif lain berupa Cloud, Big Data, dan Social Business baru dijalankan bank besar seperti, BRI, BCA, dan BNI.

Ada dua kunci penting untuk membangun transformasi digital dalam industri perbankan Indonesia. Pertama, adanya unit bisnis Pusat Inovasi dalam sebuah bank. Ruang lingkup kerja unit ini mencakup pengembangan ide inovasi, sampai pelaksanaan ide inovasi. BRI, BNI, dan BCA telah melakukan inisiatif serupa ini, dengan ruang lingkup yang bervariasi. Beberapa bank juga melibatkan pihak luar dengan menyelenggarakan kompetisi inovasi (hackathon), baik untuk eksternal maupun pegawai internal bank.

Kedua, membentuk unit inkubasi. Proses inkubasi ini penting dalam pengembangan dan pelaksanaan ide inovasi. Di dalamnya terdapat proses eksperimen, risiko, dan toleransi kegagalan yang longgar. Berdasarkan pengamatan IDC, hanya BTPN yang telah berinisiatif hingga tahap ini. Bank Mandiri mengambil cara pintas dengan mengakuisisi beberapa fintech lewat anak usaha mereka, Mandiri Capital. Kebanyakan bank di Indonesia masih melakukan sebatas kolaborasi dengan fintech.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: