sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id asus

Startup yang boncos dan yang untung karena Covid-19

Kondisi pandemi corona atau Covid-19 jelas mengubah lanskap bisnis, baik perusahaan yang sudah mapan maupun startup. Lantas bagaimana virus corona berdampak pada startup di Indonesia?

Startup yang boncos dan yang untung karena Covid-19
Source: Pexels

Startup fintech (digital payment)

Tak bisa dimungkiri, layanan pembayaran digital menjadi salah satu solusi untuk melakukan transaksi saat masa pandemi ini. Selain aman, layanan transaksi digital biasanya sudah terintegrasi dengan beberapa aplikasi. Contohnya, Ovo yang bisa digunakan di Tokopedia dan Grab, sementara Gopay dapat digunakan untuk melakukan pembayaran di aplikasi Gojek dan Jd.id. 

Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur Ovo mengungkapkan, adanya perubahan perilaku yang signifikan dalam ekosistem Ovo, misalnya, peningkatan transaksi pada situs e-commerce dan lending. Peningkatan itu berkisar dengan nilai transaksi lebih dari 100% untuk e-commerce dan hampir 50% untuk lending disbursement pada akhir Maret 2020. Sementara narasumber lain yang Tek.id hubungi, menolak berkomentar mengenai transaksi di platform-nya. 

Berbagai langkah pun dilakukan untuk mendorong orang menggunakan layanan pembayaran digital guna mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Gopay bahkan menggratiskan biaya top up melalui kerja sama dengan beberapa bank hingga 31 Mei 2020. Tidak hanya itu, setiap merchant dan mitra driver didorong untuk memprioritaskan metode pembayaran non-tunai selama masa pandemi ini. 

Ovo dan LinkAja mengaku sudah menerapkan kerja dari rumah (work from home) semenjak pemerintah menerapkan social/physical distancing di Indonesia. Karenanya, kedua startup ini kerap melakukan video conference dengan timnya. Berkaitan dengan isu perampingan pegawai, LinkAja mengaku tidak ada kebijakan pengurangan karyawan. Bahkan, LinkAja tetap melakukan proses recruitment menggunakan video call. 

Pada masa sulit ini, investor menjadi salah satu perhatian. Di tengah pandemi corona, LinkAja dan Gopay mengungkapkan bahwa semuanya berjalan dengan lancar. Malahan, Gopay mengungkapkan, fundraising-nya berjalan dengan lancar. 

Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, bahwa platform digital payment juga turut membantu memerangi penyebaran corona di Indonesia. Selain memberikan top up gratis, Gopay juga memberi keleluasaan pada para pelanggan untuk memberikan donasi bagi mitra driver. Seperti diketahui, sejak WFH diberlakukan, mitra driver seolah kehilangan pelanggannya. 

Ovo pun demikian. Perusahaan ini mendonasikan Rp1 miliar melalui BenihBaik ke BPNB untuk menyediakan APD (alat perlindungan diri) bagi tenaga medis. Pun dengan LinkAja. Platform digital payment ini bekerja sama dengan KitaBisa untuk memberikan donasi sebanyak 55.000 APD ke beberapa rumah sakit rujukan. 


Kenormalan baru setelah corona 

Forbes memberikan 9 prediksi terkait masa depan pasca-pandemi corona. Tiga di antaranya yang terkait dengan bahasan ini adalah berkurangnya kontak dan interaksi langsung. Seperti diketahui, benda-benda pun bisa menjadi tempat hinggapnya virus corona, meski hanya dalam beberapa jam. Dengan demikian, banyak orang membatasi kontak dan interaksi langsung baik dengan benda maupun orang lain.

Opsi pembayaran pun menyesuaikan kondisi tersebut, di mana transaksi dapat dilakukan tanpa kontak fisik. Di Indonesia misalnya, beberapa layanan pembayaran sudah terintegrasi dengan layanan lainnya, seperti e-commerce atau ride hailing, sehingga memudahkan pelanggan bertransaksi tanpa kontak langsung. Konsep ini diprediksi akan lebih banyak diterapkan dan ditemui di berbagai layanan.

Dampak pandemi corona bagi startup di Indonesia

Prediksi selanjutnya berkaitan dengan layanan telemedicine. Layanan ini di Indonesia memang sudah tersedia, meskipun pemainnya belum bisa dikatakan banyak. Namun dengan pandemi corona, layanan ini semakin populer dan mendorong pengguna untuk mencoba.

Batasan masyarakat untuk beraktivitas membuat mereka terkendala, bahkan untuk ke rumah sakit. Belum lagi, ancaman terpapar virus Corona yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan atau di rumah sakit tujuan. Dalam kondisi demikian, layanan konsultasi kesehatan secara online menjadi alternatif terbaik.

Beberapa layanan konsultasi kesehatan online di luar negeri bahkan menyediakan opsi melalui video, sehingga pasien dapat berkonsultasi seperti biasa, layaknya konsultasi di rumah sakit. Seiring waktu, masyarakat akan terbiasa dengan layanan ini sehingga peluang startup kesehatan terbuka lebar.

“Sampai saat ini, masih terlalu dini untuk berkomentar. Apakah seorang pasien nanti aksesnya ke dokter akan selalu online, itu bisa juga terjadi. Itu sesuatu yang mesti dilihat lagi. Itu kan perubahan perilaku yang akan terjadi selama proses ini berjalan,” kata Jonathan Sudharta, CEO Halodoc menanggapi prediksi bisnis pasca-Covid-19.

Prediksi terakhir berkaitan dengan belanja online. Pandemi Covid-19 sedikit banyak mendorong masyarakat untuk memilih opsi toko online, e-commerce maupun marketplace dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.  

Penjual sayur atau buah yang selama ini dikenal tradisional, bahkan sudah mendapat fasilitas melalui layanan penjualan di TaniHub atau Sayurbox.

“Kami percaya bahwa situasi outbreak ini mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah perilaku pembelian komoditas pertanian yang tidak perlu dilakukan secara offline, tapi masyarakat juga bisa membelinya secara online,” kata VP of Corporate Services TaniHub Astri Purnamasari.

“Kami yakin bisnis online seperti Sayurbox dan lainnya akan tetap maju dikarenakan banyaknya customer baru kami yang telah merasakan kemudahan pelayanan kami dalam masa pandemi ini tanpa perlu repot pergi keluar rumah. Hanya tinggal klik, panen, kirim,” ujar Head of Communications SayurBox Oshin Hernis.

Di sektor e-commerce dan marketplace, diperkirakan akan melakukan peningkatan pada sistem logistik dan pengiriman produk untuk mengakomodir lonjakan permintaan pelanggan. 

“Hingga saat ini bisnis dan operasional Jd.id tidak terkena dampak langsung dari pandemi COVID-19. Data kami bahkan menunjukkan bahwa minat belanja konsumen pada periode ini meningkat. Maka itu, kami meyakini bahwa bisnis e-commerce di Indonesia akan semakin membaik, seiring dengan perkembangan zaman di era teknologi ini IoT - Internet of things,” ujar Mia Fawzia - Marketing Chief Jd.id.

Pelajaran dari pandemi Covid-19 juga akan menjadi bekal banyak pihak dalam meningkatkan pelayanan kepada pelanggan atau masyarakat. Satu hal yang pasti, peran teknologi yang ditawarkan berbagai startup di berbagai lini, tak dapat dihindari.

Share
×
tekid
back to top