×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Riset Kyndryl: 49 Persen Perusahaan di Asia Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi Teknologi

Oleh: Tek ID - Selasa, 27 Oktober 2026 18:45

Riset Kyndryl ungkap 49% organisasi Asia Pasifik tertinggal dalam modernisasi teknologi, dengan risiko biaya tinggi dan keamanan siber.

49% Perusahaan di Asia Pasifik Tertinggal dalam Modernisasi Ilustrasi modernisasi teknologi. dok. Kyndryl

Hampir separuh organisasi di kawasan Asia Pasifik belum mampu memenuhi target modernisasi teknologi mereka. 

Kondisi ini terjadi ketika perusahaan semakin gencar mengadopsi kecerdasan buatan (AI) dan memperluas penggunaan berbagai platform digital untuk mendukung operasional bisnis.

Laporan Modernization Report terbaru dari Kyndryl menunjukkan 49% organisasi di Asia Pasifik mengalami keterlambatan dalam mencapai target modernisasi. 

Penundaan tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional, memperlambat penerapan teknologi baru, hingga menimbulkan risiko keamanan.

Di antara organisasi yang menunda proyek modernisasi, sebanyak 44% melaporkan peningkatan biaya jangka panjang. 

Sementara itu, 43% mengalami hambatan dalam mengadopsi kemampuan teknologi baru secara cepat dan 38% melaporkan munculnya kerentanan keamanan atau kepatuhan.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan perusahaan terhadap infrastruktur digital terus meningkat seiring berkembangnya pemanfaatan AI dalam berbagai aktivitas bisnis.

Laporan yang dirilis pada Selasa (27/10/2026) itu melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi dari lima benua serta 12 sektor industri.

Sebanyak 30% responden berasal dari kawasan Asia Pasifik.

Kyndryl menemukan perusahaan di Asia Pasifik tidak hanya berfokus pada penerapan AI ketika melakukan modernisasi teknologi.

Peningkatan kinerja, keamanan, dan integrasi sistem menjadi salah satu prioritas utama dengan persentase 36%.

Angka yang sama juga tercatat untuk peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis, serta penguatan kendali, prediktabilitas, dan tata kelola teknologi.

Sementara itu, penerapan kemampuan AI yang lebih canggih menjadi prioritas bagi 34% responden.

Temuan ini menunjukkan perusahaan tetap membutuhkan fondasi infrastruktur yang kuat meskipun investasi AI semakin berkembang.

Vice President & Managing Director ASEAN & Korea Kyndryl, Megawaty Khie, mengatakan modernisasi teknologi kini tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan perusahaan untuk memperkuat infrastruktur sekaligus mengembangkan kemampuan AI.

"Di kawasan Asia-Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya," ujar Megawaty dalam keterangan tertulis.

"Organisasi membutuhkan keduanya. Seiring dengan semakin terdistribusinya lingkungan teknologi, tantangannya adalah menentukan ke mana harus berinvestasi, apa yang perlu dimodernisasi, serta bagaimana menjaga lingkungan tersebut agar tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi masa depan," lanjutnya.

Riset Kyndryl juga mengungkap perkembangan penggunaan agentic AI, yakni teknologi kecerdasan buatan yang mampu merencanakan dan menjalankan sejumlah tugas secara mandiri.

Meski dinilai berpotensi mempercepat modernisasi, pemanfaatannya di kawasan Asia Pasifik masih berada pada tahap awal.

Hanya 10% organisasi di kawasan tersebut yang telah menggunakan agentic AI dalam lingkungan produksi untuk mendukung proses modernisasi. Persentase ini sejalan dengan rata-rata global.

Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan untuk pekerjaan yang membutuhkan waktu dan keahlian khusus, seperti memetakan ketergantungan antarsistem, mengonversi kode program, dan menyusun dokumentasi teknis.

Di sisi lain, AI juga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perusahaan meningkatkan penggunaan komputer mainframe dan komputasi tepi atau edge computing.

AI turut mendorong perluasan layanan perangkat lunak berbasis langganan atau Software as a Service (SaaS), penggunaan private cloud, serta pembaruan jaringan dan aplikasi perusahaan.

Menurut laporan tersebut, seluruh organisasi responden yang memiliki mainframe berencana menerapkan AI pada platform tersebut.

Perubahan lain yang ditemukan Kyndryl adalah semakin luasnya keterlibatan pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan modernisasi teknologi.

Modernisasi tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab departemen teknologi informasi atau IT, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan.

Riset tersebut mengidentifikasi sembilan kelompok pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam modernisasi, mulai dari Chief Information Officer (CIO), Chief Technology Officer (CTO), jajaran direksi, hingga tim keuangan dan kepatuhan.

Kondisi ini membuat perusahaan harus menyeimbangkan berbagai kebutuhan, termasuk penerapan AI, keamanan siber, kepatuhan regulasi, efisiensi operasional, dan pertumbuhan bisnis.

Semakin banyaknya pihak yang terlibat juga menuntut koordinasi yang lebih baik agar proses pengambilan keputusan tidak memperlambat pelaksanaan modernisasi.

Kyndryl menilai modernisasi kini semakin membutuhkan pengelolaan yang terkoordinasi di tingkat bisnis, bukan sekadar penggabungan atau penggantian sistem teknologi.

Selain AI dan efisiensi, pertimbangan kedaulatan teknologi mulai memengaruhi keputusan investasi perusahaan di Asia Pasifik.

Sebanyak 65% organisasi memperkirakan akan meningkatkan penggunaan *sovereign cloud* atau wilayah dan zona komputasi awan khusus dalam 12 bulan mendatang.

Sovereign cloud merupakan pendekatan pengelolaan layanan komputasi awan yang memperhatikan persyaratan kedaulatan, termasuk lokasi dan tata kelola data sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, pendekatan perusahaan terhadap isu tersebut masih beragam.

Riset Kyndryl menunjukkan 37% organisasi di Asia Pasifik menangani kebutuhan kedaulatan secara selektif ketika menghadapi tuntutan eksternal.

Sebanyak 26% organisasi memandang kedaulatan teknologi terutama sebagai persoalan kepatuhan terhadap regulasi.

Sementara itu, hanya 7% yang sejak awal menjadikan prinsip kedaulatan sebagai landasan transformasi perusahaan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan mengenai lokasi dan pengelolaan infrastruktur teknologi semakin dipengaruhi oleh faktor tata kelola serta kondisi geopolitik, selain pertimbangan biaya dan kinerja.

Kyndryl juga menemukan modernisasi tidak selalu membuat perusahaan beralih menuju satu platform teknologi tunggal.

Sebaliknya, banyak organisasi justru memperluas penggunaan teknologi pada berbagai lingkungan yang berbeda, termasuk sistem lama, layanan cloud, dan infrastruktur modern.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan teknologi semakin kompleks karena perusahaan harus memastikan berbagai sistem dapat bekerja secara terintegrasi.

Di tengah meningkatnya penggunaan AI, perusahaan juga menghadapi kebutuhan untuk memperkuat keamanan siber dan menjaga ketahanan operasional.

Karena itu, Kyndryl menekankan pentingnya koordinasi strategis, tata kelola, dan pengelolaan operasional yang terintegrasi agar modernisasi dapat memberikan manfaat nyata bagi bisnis.

Hasil riset ini menunjukkan keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi teknologi baru, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan mengelola sistem yang semakin beragam secara aman, efisien, dan berkelanjutan.

×
back to top