ERP Indonesia Perluas Jejak di Manufaktur Global Lewat Implementasi BZone di Mattel Indonesia
ERP Indonesia mengimplementasikan BZone di Mattel Indonesia untuk mempercepat digitalisasi kawasan berikat, logistik, dan kepatuhan kepabeanan.
Implementasi BZone dari ERP. dok. ERP
PT Eka Reka Palakerti Indonesia (ERP Indonesia) mengimplementasikan platform BZone di PT Mattel Indonesia.
Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat digitalisasi operasional kawasan berikat melalui integrasi pengelolaan inventori, logistik, dan pelaporan kepabeanan dalam satu sistem terpadu.
Implementasi BZone dirancang untuk meningkatkan efektivitas operasional Mattel Indonesia melalui otomatisasi proses bisnis, pemantauan inventori secara real-time, serta penguatan akurasi data dan kepatuhan terhadap regulasi kawasan berikat dan kepabeanan.
Sistem ini juga telah terintegrasi dengan CEISA 4.0 milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga mendukung proses pelaporan yang lebih cepat dan transparan.
- Rittal Bangun ModCenter Pertama di Indonesia, Proses Modifikasi Panel Kini Hanya 30 Menit
- Digital Product Passport Segera Berlaku di Uni Eropa, RFID Jadi Kunci Daya Saing Ekspor Tekstil Indonesia
- Skor Daya Saing Digital Indonesia Naik, Kesenjangan Antarwilayah Masih Lebar
- Data Pelanggan Terfragmentasi, Mekari Qontak Hadirkan Solusi AI dan Loyalitas dalam Satu Platform
Sebagai platform Bonded Zone IT Inventory, BZone dikembangkan untuk perusahaan yang memanfaatkan fasilitas Kawasan Berikat (Kaber), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Berbasis platform Enterprise Resource Planning (ERP) yang fleksibel, sistem ini mampu mengintegrasikan pengelolaan inventori, proses manufaktur, logistik, hingga pelaporan kepabeanan dalam satu ekosistem digital.
Chief Executive Officer (CEO) PT Eka Reka Palakerti Indonesia Anang Ind Pratama mengatakan kebutuhan industri manufaktur saat ini tidak lagi sebatas digitalisasi proses, tetapi juga integrasi antara operasional dan kepatuhan terhadap regulasi.
"Perusahaan manufaktur, khususnya yang beroperasi di kawasan berikat, membutuhkan sistem yang tidak hanya mampu memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga mengintegrasikan proses operasional secara menyeluruh. BZone kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui otomatisasi proses, dan terintegrasi dengan sistem pemerintah sehingga perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kepatuhan," ujar Anang.
Menurut Anang, tantangan yang dihadapi Mattel Indonesia juga dialami banyak perusahaan manufaktur berorientasi ekspor.
Perubahan sistem pengawasan kepabeanan menuju proses yang semakin terdigitalisasi menuntut perusahaan memiliki sistem yang mampu menghubungkan aktivitas operasional dengan pelaporan kepabeanan secara real-time.
"Transformasi digital di sektor manufaktur saat ini juga didorong oleh perubahan regulasi. Bagi perusahaan manufaktur berorientasi ekspor, kepatuhan bukan lagi sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadi fondasi kelangsungan bisnis karena ketidaksesuaian data maupun pelaporan dapat menghambat proses logistik, memperlambat arus barang, hingga mempengaruhi kelancaran operasional perusahaan. Implementasi BZone di Mattel Indonesia menunjukkan bahwa solusi teknologi yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi standar operasional dan kepatuhan yang dibutuhkan perusahaan manufaktur global," tambah Anang.
Chief Commercial Officer (CCO) PT Eka Reka Palakerti Indonesia Contardo Satria Gondokusumo mengatakan implementasi BZone di Mattel Indonesia menjadi tonggak penting dalam perluasan portofolio ERP Indonesia di sektor manufaktur berorientasi ekspor.
Setelah lebih dari delapan tahun mendukung digitalisasi berbagai perusahaan manufaktur di Indonesia, kerja sama ini menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan BZone pada perusahaan dengan kebutuhan operasional yang kompleks dan standar kepatuhan tinggi.
BZone juga dirancang memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan perkembangan regulasi di masa mendatang.
Didukung pengalaman implementasi di berbagai perusahaan manufaktur berskala besar, ERP Indonesia terus mengembangkan sistem secara berkelanjutan sekaligus menghadirkan layanan purna jual agar solusi yang diterapkan tetap optimal sesuai kebutuhan pelanggan.
Pada implementasi di Mattel Indonesia, BZone dikembangkan secara bertahap mengingat tingginya volume transaksi serta kompleksitas integrasi proses logistik dan ekspor-impor.
Pendekatan ini dilakukan agar seluruh proses bisnis dapat terhubung tanpa mengganggu operasional perusahaan sekaligus memastikan setiap transaksi terdokumentasi secara akurat.
Digitalisasi kini menjadi kebutuhan strategis bagi industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Meningkatnya kompleksitas rantai pasok global serta digitalisasi sistem pengawasan kepabeanan mendorong perusahaan mengadopsi teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat tata kelola.
Tren tersebut juga tercermin dalam laporan Worldwide Digital Transformation Spending Guide dari International Data Corporation (IDC) yang memperkirakan belanja transformasi digital global mencapai 3,9 triliun dolar AS pada 2027.
Sementara itu, East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 menunjukkan daya saing digital Indonesia meningkat dari skor 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026, menandakan kebutuhan terhadap solusi digital yang semakin besar di berbagai sektor industri.
Ke depan, ERP Indonesia akan terus mengembangkan BZone untuk membantu perusahaan manufaktur mengintegrasikan proses operasional, memperkuat kepatuhan terhadap regulasi, serta mempercepat transformasi digital.









