×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Digital Product Passport Segera Berlaku di Uni Eropa, RFID Jadi Kunci Daya Saing Ekspor Tekstil Indonesia

Oleh: Tek ID - Rabu, 01 Juli 2026 16:10

Digital Product Passport dan RFID dinilai menjadi kunci menjaga daya saing ekspor tekstil Indonesia sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.

RFID Jadi Kunci Daya Saing Ekspor Tekstil Indonesia Ilustrasi ekosistem industri tekstil. dok. Zebra Technologies

Industri tekstil dan fesyen Indonesia menghadapi perubahan besar menjelang penerapan Digital Product Passport (DPP) di Uni Eropa. 

Kebijakan yang menjadi bagian dari European Green Deal itu mewajibkan berbagai produk, termasuk tekstil, memiliki identitas digital yang memuat informasi lengkap mengenai asal-usul bahan baku, proses produksi, dampak lingkungan, hingga pengelolaan akhir produk mulai 2030.

Perubahan regulasi tersebut dinilai akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi produsen Indonesia yang ingin mempertahankan akses ke pasar Uni Eropa, salah satu tujuan ekspor tekstil terbesar di dunia. 

Dengan nilai impor pakaian mencapai 193,69 miliar dolar AS atau Rp3.458,5 triliun pada 2024, kemampuan melacak asal-usul setiap produk atau traceability diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama dalam persaingan global.

Country Manager Indonesia Zebra Technologies Eric Ananda mengatakan Digital Product Passport bukan sekadar tuntutan kepatuhan terhadap regulasi baru, melainkan juga menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing industri.

"Bagi produsen dan eksportir Indonesia yang ingin mengamankan serta memperluas kehadiran mereka di salah satu pasar pakaian terbesar di dunia ini, ketertelusuran (traceability) di tingkat produk bukan lagi sekadar tuntutan regulasi, melainkan sebuah kebutuhan kompetitif yang mutlak," ujar Eric.

Menurutnya, salah satu teknologi yang berpotensi menjadi fondasi penerapan Digital Product Passport adalah Radio Frequency Identification (RFID). 

Teknologi ini memungkinkan setiap produk memiliki identitas digital yang dapat dibaca secara otomatis untuk mendukung pelacakan barang mulai dari proses produksi, distribusi, hingga penjualan.

Berbeda dengan kode batang (barcode) konvensional, RFID memungkinkan proses inventarisasi dilakukan secara otomatis tanpa harus memindai setiap produk satu per satu. 

Teknologi tersebut juga mampu membaca banyak produk sekaligus melalui gelombang radio, sehingga mempercepat pengelolaan stok dan meningkatkan akurasi inventaris.

Eric menilai manfaat RFID tidak hanya relevan bagi kebutuhan ekspor ke Uni Eropa, tetapi juga dapat membantu menyelesaikan sejumlah tantangan domestik, termasuk efisiensi rantai pasok. 

Saat ini, biaya logistik Indonesia masih mencapai 14,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara peringkat Indonesia dalam Logistics Performance Index 2023 menunjukkan masih adanya ruang perbaikan pada aspek pelacakan dan penelusuran barang.

"Pelaku usaha lokal di Indonesia dapat memanfaatkan data real-time ini untuk memperoleh visibilitas aset secara menyeluruh. Visibilitas yang lebih baik terbukti mampu mengurangi ketidaksesuaian inventaris, meningkatkan akurasi stok, serta mempercepat pergerakan barang," katanya.

Selain meningkatkan efisiensi distribusi, penerapan Digital Product Passport juga dinilai dapat mendukung pengembangan ekonomi sirkular di industri tekstil. 

Dengan identitas digital yang melekat pada setiap produk, informasi mengenai komposisi material, warna, hingga riwayat penggunaan dapat dimanfaatkan untuk mempermudah proses daur ulang dan pemulihan material.

Hal tersebut menjadi semakin relevan mengingat Indonesia diperkirakan menghasilkan sekitar 462 ribu ton limbah tekstil pascakonsumsi setiap tahun, yang sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). 

Teknologi pelacakan digital dinilai dapat membantu industri mengelola limbah secara lebih efektif melalui proses identifikasi dan pemilahan material yang lebih akurat.

Di sisi lain, transparansi informasi produk juga diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. 

Melalui Digital Product Passport, konsumen dapat mengakses informasi mengenai asal-usul produk, bahan baku, hingga jejak lingkungan secara lebih mudah menggunakan perangkat digital.

Kondisi tersebut sejalan dengan perubahan perilaku konsumen Indonesia. Berdasarkan survei Voice of the Consumer 2025 dari PwC, sebanyak 57 persen konsumen Indonesia lebih memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan, sementara 71 persen menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Eric menilai transformasi digital melalui RFID dan Digital Product Passport pada akhirnya bukan hanya bertujuan memenuhi persyaratan ekspor, tetapi juga menjadi fondasi bagi industri ritel dan tekstil yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.

"Mengadopsi teknologi visibilitas aset yang canggih dan otomatisasi cerdas bukan sekadar upaya untuk mempertahankan akses ke pasar ekspor Eropa. Lebih dari itu, langkah ini memberdayakan para pelaku operasional di garis depan rantai pasok yang semakin terhubung, sekaligus mendukung harapan masyarakat akan masa depan yang lebih hijau, efisien, dan transparan," ujar Eric.

×
back to top