Red Hat Dorong Kemandirian Digital lewat Sovereign Cloud dan Private AI
Red Hat memperluas sovereign cloud dan private AI agar organisasi memiliki kendali lebih besar atas data, teknologi, AI, dan kepatuhan.
Logo Red Hat. dok. Red Hat
Red Hat memperluas kapabilitas sovereign cloud dan private AI untuk membantu perusahaan, lembaga pemerintah, serta penyedia layanan mempertahankan kendali lebih besar atas data, infrastruktur, dan teknologi kecerdasan buatan yang mereka gunakan.
Pembaruan tersebut hadir di tengah meningkatnya kebutuhan kemandirian operasional, baik untuk memenuhi regulasi maupun mengurangi ketergantungan terhadap perubahan kebijakan vendor, dinamika pasar, dan kondisi geopolitik.
Red Hat menilai konsep kedaulatan digital tidak sebatas memastikan lokasi penyimpanan data sesuai ketentuan. Organisasi juga perlu memiliki kemampuan menentukan bagaimana infrastrukturnya dijalankan, teknologi apa yang digunakan, serta bagaimana layanan tetap beroperasi ketika kondisi eksternal berubah.
Senior Vice President dan Chief Product Officer Red Hat Ashesh Badani mengatakan inovasi teknologi seharusnya tidak membuat perusahaan kehilangan kendali atas infrastrukturnya.
- DTI-CX 2026 Jadi Panggung Kolaborasi Transformasi Digital Nasional
- ERP Indonesia Perluas Jejak di Manufaktur Global Lewat Implementasi BZone di Mattel Indonesia
- Rittal Bangun ModCenter Pertama di Indonesia, Proses Modifikasi Panel Kini Hanya 30 Menit
- Digital Product Passport Segera Berlaku di Uni Eropa, RFID Jadi Kunci Daya Saing Ekspor Tekstil Indonesia
"Inovasi seharusnya tidak mengorbankan kontrol. Baik untuk memenuhi mandat regulasi di berbagai yurisdiksi maupun mengambil kembali kendali atas data dari silo proprietary, kami menghadirkan kapabilitas dan platform yang memungkinkan organisasi membangun masa depan digital yang lebih mandiri," ujar Badani.
Fondasi tersebut dibangun melalui sejumlah teknologi Red Hat, termasuk Red Hat OpenShift, Red Hat Enterprise Linux, Red Hat Ansible Automation Platform, dan Red Hat AI.
Platform itu dapat diterapkan pada lingkungan air-gapped, sovereign cloud, maupun private cloud sesuai kebutuhan organisasi.
Salah satu pembaruan yang diperkenalkan adalah perluasan kerangka kepatuhan untuk membantu mengurangi pekerjaan manual ketika perusahaan mempersiapkan audit.
Compliance Profiles pada Red Hat OpenShift Compliance Operator dapat dikombinasikan dengan Red Hat Advanced Cluster Security for Kubernetes untuk mengotomatisasi tinjauan teknis dan menghasilkan bukti kepatuhan.
Kemampuan tersebut ditujukan untuk membantu organisasi memenuhi regulasi seperti NIS2, GDPR, dan DORA, sekaligus menyesuaikan pengelolaan infrastrukturnya ketika persyaratan regulasi berubah.
Red Hat juga menghadirkan landing zone siap produksi yang menggabungkan Red Hat Enterprise Linux, OpenShift, dan Ansible Automation Platform.
Lingkungan tersebut telah dilengkapi pengaturan dasar dan guardrails operasional sejak awal sehingga perusahaan dapat mengurangi konfigurasi manual ketika membangun infrastruktur yang membutuhkan standar keamanan dan kepatuhan tinggi.
Di sektor AI, antarmuka provisioning terbaru memungkinkan pelanggan dan mitra menerapkan virtual machine, cluster, serta layanan AI melalui OpenShift.
Kemampuan tersebut dapat digunakan untuk menawarkan layanan seperti GPU-as-a-service, models-as-a-service, hingga inferencing-as-a-service dalam lingkungan private cloud.
Melalui pendekatan tersebut, organisasi tetap memiliki kontrol atas siklus hidup model AI, termasuk tempat model dijalankan dan bagaimana sumber daya komputasinya dikelola.
Red Hat juga memperbarui Lightspeed dengan kemampuan telemetri pengelolaan biaya OpenShift yang dapat dijalankan sepenuhnya di lingkungan milik pelanggan.
Data operasional tidak perlu dipindahkan keluar sehingga organisasi tetap memperoleh visibilitas biaya cloud tanpa mengorbankan persyaratan residensi dan kedaulatan data.
Untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan perangkat lunak, Red Hat berencana melokalkan distribusi perangkat lunaknya.
Langkah tersebut dimulai di Uni Eropa dengan mekanisme in-region content delivery, yang memungkinkan pelanggan mengunduh Red Hat Enterprise Linux secara lokal dan mempertahankan kendali regional terhadap alur pembaruan.
Jaringan tersebut direncanakan diperluas ke lebih banyak produk hingga akhir 2026.
Strategi sovereign cloud Red Hat juga diperkuat melalui kerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi global.
Red Hat memperoleh status AI Cloud Ready dalam program Nvidia Cloud Partner untuk mendukung pembangunan sovereign AI cloud dan neocloud yang memungkinkan sumber daya AI disediakan secara on-demand.
Kolaborasi dengan Google turut menghadirkan Red Hat OpenShift on Google Cloud Dedicated, sebuah lingkungan infrastruktur terisolasi bagi organisasi yang membutuhkan tingkat kontrol internal tinggi.
Sementara melalui IBM Sovereign Core, teknologi OpenShift, Enterprise Linux, Ansible Automation Platform, dan Red Hat AI menjadi bagian dari fondasi sovereign cloud serta private cloud untuk mendukung otomatisasi kepatuhan, modernisasi infrastruktur, dan inovasi AI.
Red Hat juga bekerja dengan sejumlah penyedia layanan seperti Telenor, Core42, DataCom, Fujitsu, NxtGen, dan Sopra Steria untuk membangun sovereign AI cloud yang dapat disesuaikan dengan regulasi serta kebutuhan lokal.
Managing Director dan CEO NxtGen A S Rajgopal mengatakan pengembangan sovereign AI perlu menghindari ketergantungan permanen terhadap teknologi tertutup.
"Di NxtGen, kami percaya masa depan sovereign AI di India harus dibangun secara terdistribusi, mandiri, dan terbebas dari ketergantungan pada teknologi proprietary. Kedaulatan menjadi prinsip utama yang mendasari operasional kami," ujar Rajgopal.
Menurut dia, pemanfaatan open source dan Red Hat OpenShift dapat memberikan transparansi serta fleksibilitas dalam pengelolaan infrastruktur AI, termasuk untuk memperluas akses terhadap sumber daya GPU.









