ITSEC Asia Kembangkan Bronyx AI, Platform AI untuk Percepat Pengujian Keamanan Siber
ITSEC Asia meluncurkan Bronyx AI, platform penetration testing berbasis AI buatan Indonesia yang mampu mempercepat pengujian keamanan siber dengan validasi tenaga ahli.
ITSEC Asia memperagakan Bronyx AI. dok. ITSEC Asia
PT ITSEC Asia meluncurkan Bronyx AI, platform AI-assisted automated penetration testing yang dikembangkan di Indonesia untuk membantu organisasi mempercepat pengujian keamanan siber tanpa menghilangkan peran tenaga ahli.
Teknologi ini diklaim mampu memangkas proses penetration testing dari hitungan hari menjadi hitungan jam, bahkan menyelesaikan full scan mulai dari 14 menit pada pengujian di lingkungan laboratorium.
Peluncuran Bronyx AI menandai langkah baru ITSEC Asia dalam memperluas bisnis dari penyedia layanan keamanan siber menjadi pengembang teknologi keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Solusi tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman ITSEC Asia selama lebih dari 16 tahun menangani kebutuhan keamanan siber di berbagai sektor industri, didukung lebih dari 400 personel keamanan siber dan operasional di sejumlah pasar internasional.
- Merasa Aman, Tapi Rentan Diretas: Riset bolttech Ungkap Kesenjangan Keamanan Siber Warga Indonesia
- UMKM Jadi Target Utama Peretas, Kaspersky Temukan Lonjakan Penawaran Akses di Dark Web
- Serangan Siber Terus Meningkat, ITSEC Asia Latih Eksekutif Hadapi Krisis Digital
- Penipuan Tiket hingga Streaming Ilegal, Ancaman Siber Bayangi Piala Dunia 2026
Acara peluncuran yang digelar di Jakarta turut dihadiri Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Sonny Hendra Sudaryana, serta Anggota Dewan Etik Asosiasi Fintech Indonesia Yudho Giri Sucahyo. Dalam kesempatan tersebut, ITSEC Asia juga mendemonstrasikan kemampuan Bronyx AI dalam melakukan pengujian keamanan menggunakan agen AI.
Berbeda dengan vulnerability scanner konvensional yang hanya berfokus mengidentifikasi celah keamanan, Bronyx AI memanfaatkan agen AI yang mampu menganalisis hasil pengujian secara aktif, menentukan langkah pengujian berikutnya, serta menyusun Security Assessment Report lengkap dengan penilaian Common Vulnerability Scoring System (CVSS) dan rekomendasi remediasi.
Platform ini dapat melakukan berbagai tahapan pengujian, mulai dari network reconnaissance, vulnerability assessment, configuration review, pengujian aplikasi web, API, hingga penyusunan laporan keamanan secara otomatis terhadap sistem yang telah memperoleh otorisasi.
Dalam pengujian di laboratorium pengembangan ITSEC Asia, Bronyx AI mampu menyelesaikan full scan dalam waktu mulai 14 menit hingga empat jam, bergantung pada cakupan dan kompleksitas sistem yang diuji.
"Kecepatan perkembangan teknologi dan ancaman siber saat ini menghadirkan tantangan baru bagi organisasi. Infrastruktur dan layanan digital terus berkembang, sementara pengujian keamanan membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Melalui Bronyx AI, kami ingin membantu organisasi melakukan pengujian keamanan dalam hitungan jam dengan tetap mempertahankan keterlibatan dan validasi tenaga ahli keamanan siber," ujar President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher.
Patrick menambahkan Bronyx AI dikembangkan dari pengalaman langsung tim ITSEC Asia dalam menangani kebutuhan keamanan siber di berbagai industri dan negara.
"Bronyx AI dikembangkan dari pengalaman langsung tim ITSEC Asia dalam menangani kebutuhan keamanan siber di berbagai industri dan pasar. Kami membawa pengalaman tersebut ke dalam pengembangan teknologi AI dengan tetap mempertahankan keterlibatan tenaga ahli dalam proses pengujian. Bagi kami, kecepatan yang ditawarkan AI harus berjalan bersama dengan kualitas temuan, analisis, dan akuntabilitas profesional keamanan siber,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas hasil pengujian, Bronyx AI menerapkan pendekatan Human in the Loop (HITL). Temuan dengan tingkat risiko tinggi dan kritis tetap melalui proses validasi oleh konsultan keamanan siber ITSEC Asia sebelum laporan disampaikan kepada pelanggan.
Pendekatan tersebut memungkinkan AI mempercepat proses identifikasi dan analisis awal, sementara tenaga ahli tetap memegang peran penting dalam interpretasi hasil, pemberian konteks, dan rekomendasi akhir.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah menilai perkembangan AI harus diiringi dengan penguatan aspek keamanan siber sekaligus peningkatan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi.
"Perkembangan kecerdasan artifisial membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, sekaligus membawa tantangan baru yang perlu diantisipasi, termasuk dalam aspek keamanan siber. Kami mengapresiasi upaya pelaku industri nasional seperti ITSEC Asia dalam mengembangkan teknologi berbasis AI dari Indonesia untuk menjawab kebutuhan nyata industri. Inisiatif seperti ini menunjukkan kapasitas talenta dan industri teknologi Indonesia untuk menciptakan solusi yang relevan bagi kebutuhan nasional serta meningkatkan daya saing di tingkat global,” katanya.
ITSEC Asia menegaskan seluruh pengujian Bronyx AI hanya dilakukan terhadap aset yang telah memperoleh otorisasi tertulis sesuai ruang lingkup yang disepakati bersama pelanggan.
Seluruh data pengujian disimpan secara terisolasi, sementara keys dan credentials dienkripsi. Perusahaan juga memastikan data hasil pengujian tidak digunakan untuk melatih model AI tanpa persetujuan tertulis dari pelanggan.
Bronyx AI tersedia melalui layanan cloud maupun dapat diimplementasikan langsung di lingkungan pelanggan (on-premises) bagi organisasi yang memiliki kebutuhan keamanan dan tata kelola data yang lebih ketat.
"Peluncuran Bronyx AI mencerminkan arah pengembangan ITSEC Asia ke depan. Kami ingin membangun kekuatan dari pengalaman dan keahlian kami di bidang keamanan siber untuk mengembangkan teknologi berbasis AI yang dapat menjawab kebutuhan keamanan organisasi secara nyata," tutup Patrick.









