Ancaman Siber Kian Kompleks, Ensign dan iCIO Community Gelar Simulasi Krisis untuk Eksekutif
Ensign meluncurkan simulasi krisis siber untuk CIO Indonesia di tengah lonjakan 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025.
Ensign dan iCIO Community Gelar Simulasi Krisis untuk Eksekutif. dok. Ensign
Meningkatnya ancaman siber di Indonesia mendorong kebutuhan baru bagi para pemimpin perusahaan untuk tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengambil keputusan cepat dan tepat saat krisis terjadi.
Menjawab tantangan tersebut, Ensign InfoSecurity meluncurkan program simulasi krisis siber imersif yang ditujukan bagi para pemimpin teknologi dan bisnis di Indonesia.
Program bertajuk From Threat to Action: Cyber Simulation Experience itu dikembangkan untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan krisis, pengambilan keputusan strategis, dan kesiapan organisasi dalam menghadapi serangan siber yang semakin kompleks.
Dalam pelaksanaannya, Ensign menggandeng iCIO Community sebagai mitra komunitas guna memperluas akses pelatihan kepada para Chief Information Officer (CIO) dan pemimpin teknologi senior di Indonesia.
- Kaspersky Ungkap 5 dari 10 Korban Pelecehan Online Diserang Orang Terdekat
- Kaspersky Ungkap Malware Baru di Game Dewasa, Peretas Bisa Kuasai Perangkat Korban dari Jarak Jauh
- Hacker Bobol Platform Karier Universitas Oxford, Email dan Data Pengguna Diduga Dicuri
- Wisatawan Piala Dunia Diingatkan Waspada, Ribuan Hotspot Wi-Fi di Meksiko Dinilai Berisiko
Peserta simulasi diajak menghadapi skenario serangan siber yang menyerupai kondisi nyata. Mereka harus mengambil keputusan di bawah tekanan, mulai dari mendeteksi tanda awal insiden, melakukan mitigasi, mengelola proses pemulihan, hingga menangani komunikasi dengan regulator, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Berbeda dengan pelatihan teknis konvensional, simulasi ini dirancang untuk menguji kemampuan kepemimpinan dalam situasi krisis.
Para peserta ditantang menyeimbangkan aspek keamanan siber dengan keberlangsungan bisnis, kepatuhan regulasi, koordinasi internal, serta perlindungan reputasi perusahaan.
Peluncuran program tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ancaman siber di kawasan Asia Pasifik.
Dalam laporan Ensign Cyber Threat Landscape 2025, perusahaan mencatat semakin eratnya kolaborasi antara kelompok ransomware, Initial Access Brokers, dan kelompok hacktivis yang menghasilkan serangan lebih terorganisasi, terarah, dan berdampak luas.
Di Indonesia, ancaman tersebut juga menunjukkan tren peningkatan. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, dan jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah pada tahun ini.
Kondisi tersebut membuat organisasi tidak lagi cukup mengandalkan dokumen prosedur, melainkan perlu menguji kesiapan respons mereka secara langsung.
Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia Adithya Nugraputra menilai kelemahan terbesar banyak organisasi bukan terletak pada teknologi, melainkan pada kesiapan pengambil keputusan saat krisis benar-benar terjadi.
"Momen paling berbahaya dalam sebuah krisis siber jarang terjadi pada saat serangan itu sendiri. Momen tersebut adalah ketika para pemimpin harus mengambil keputusan berdampak besar tanpa pernah berlatih menghadapinya," kata Adithya.
Menurut dia, simulasi tersebut memberi kesempatan kepada para pemimpin teknologi untuk merasakan tekanan yang serupa dengan insiden nyata, sehingga mereka dapat mengasah kemampuan merespons sebelum menghadapi ancaman sesungguhnya.
Pandangan serupa disampaikan Koordinator Divisi Partnership iCIO Community Periode 2024–2026, Benedict Sulaiman. Ia menilai peran CIO saat ini telah berkembang jauh melampaui urusan teknologi semata.
"Para CIO Indonesia saat ini dituntut untuk melakukan lebih dari sekadar memahami teknologi. Mereka harus mampu memimpin organisasinya melewati krisis siber secara langsung," ujar Benedict.









