×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Kaspersky Ungkap 5 dari 10 Korban Pelecehan Online Diserang Orang Terdekat

Oleh: Tek ID - Minggu, 14 Juni 2026 14:30

Kaspersky mengungkap hampir 50% korban pelecehan online mengenal pelakunya. Indonesia mencatat 917 deteksi stalkerware.

5 dari 10 Korban Pelecehan Online Diserang Orang Terdekat Ilustrasi serangan siber. dok. Freepik

Pelecehan dan pelanggaran yang difasilitasi teknologi atau tech-enabled abuse ternyata lebih sering datang dari orang-orang yang dikenal korban dibandingkan yang selama ini dipersepsikan publik. 

Temuan itu terungkap dalam studi global terbaru Kaspersky yang melibatkan 7.600 responden di 19 negara, termasuk Indonesia.

Laporan tersebut menunjukkan hampir separuh korban pelecehan online mengaku pelakunya berasal dari lingkaran sosial mereka sendiri. 

Sementara 40 persen responden menyebut pelaku merupakan orang asing, sekitar 50 persen lainnya mengatakan pelanggaran dilakukan oleh orang yang mereka kenal, mulai dari teman, pasangan, rekan kerja, anggota keluarga, hingga mantan pasangan.

Teman menjadi kelompok pelaku terbesar dengan porsi 15 persen, disusul pasangan saat ini sebesar 10 persen, rekan kerja 8 persen, anggota keluarga 7 persen, dan mantan pasangan 6 persen. 

Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang mencatat tingkat pelaku pelecehan online dari lingkungan terdekat di atas rata-rata global, bersama Amerika Serikat, Inggris, Italia, Spanyol, dan India.

Temuan tersebut memperlihatkan ancaman digital tidak selalu datang dari luar. Dalam banyak kasus, pelecehan justru muncul dalam relasi yang dibangun atas dasar kepercayaan, sehingga lebih sulit dikenali maupun ditangani.

Studi Kaspersky juga menemukan adanya kesenjangan generasi dalam memahami dan menghadapi ancaman digital. Generasi Z menjadi kelompok yang paling akrab dengan istilah tech-enabled abuse, dengan tingkat pemahaman mencapai 81 persen. 

Namun pada saat yang sama, kelompok usia ini juga menjadi yang paling banyak mengalami pelecehan online. Hampir 60 persen responden Gen Z mengaku mengalami setidaknya satu bentuk pelecehan digital dalam satu tahun terakhir.

Dari sisi gender, perempuan melaporkan tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sebanyak 62 persen perempuan mengaku merasa tidak aman saat beraktivitas di dunia digital, sementara pada laki-laki angkanya mencapai 54 persen. 

Temuan ini menunjukkan ruang digital masih menghadirkan risiko dan tekanan psikologis yang lebih besar bagi perempuan.

Di Indonesia, kekhawatiran terhadap keamanan digital juga tergolong tinggi. Hanya 21 persen responden yang merasa sebagian besar aman saat beraktivitas online. 

Sebaliknya, 79 persen mengaku setidaknya pernah merasa tidak aman di ruang digital. Tingkat kesadaran terhadap istilah tech-enabled abuse juga relatif tinggi, dengan 61 persen responden mengaku memahami istilah tersebut dan 93 persen setidaknya pernah mendengarnya.

Laporan itu juga mencatat sebanyak 917 deteksi unik stalkerware di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2025. 

Stalkerware merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memantau aktivitas seseorang secara diam-diam, mulai dari lokasi, pesan, hingga aktivitas perangkat tanpa persetujuan pengguna.

Peneliti Keamanan Utama Kaspersky Tatyana Shishkova mengatakan fakta sebagian besar pelaku berasal dari lingkungan sosial korban mengubah cara pandang terhadap perlindungan digital.

“Fakta bahwa hampir 60% kasus pelanggaran online berasal dari seseorang dalam lingkaran sosial korban secara signifikan mengubah cara kita seharusnya mendekati perlindungan. Ancaman ini sering kali tidak terlihat seperti serangan siber tradisional karena tertanam dalam interaksi sehari-hari, perangkat tepercaya, dan akses bersama ke akun atau data,” ujarnya.

Senada dengan itu, Associate Professor UCL Computer Science dan Head of the Department's Gender and Tech Research Lab, Leonie Maria Tanczer menilai pelecehan berbasis teknologi kerap berakar pada hubungan yang sudah terjalin sebelumnya. 

Menurutnya, ruang digital dapat mempercepat eskalasi konflik dan memperkuat pola kontrol atau intimidasi yang telah ada di dunia nyata.

Melihat tren tersebut, Kaspersky menekankan pentingnya meningkatkan literasi digital, memperkuat keamanan akun melalui kata sandi yang kuat dan autentikasi dua faktor, serta lebih waspada terhadap aplikasi atau izin akses yang berpotensi digunakan untuk memantau aktivitas pengguna. 

Kesadaran terhadap risiko dan kemampuan mengenali tanda-tanda pelecehan digital dinilai menjadi langkah awal yang penting untuk mencegah ancaman berkembang menjadi bentuk pelanggaran yang lebih serius.

×
back to top