2.032 Kecamatan Belum Terjangkau Fiber Optik, APJATEL Dorong Pemerataan Internet di Era AI
Sebanyak 2.032 kecamatan belum terjangkau fiber optik. APJATEL dorong pemerataan internet dan penataan jaringan untuk mendukung era AI maju.
Ketua Umum APJATEL Jerry Siregar dalam Rakernas APJATEL 2026. dok. APJATEL
Sebanyak 2.032 kecamatan di Indonesia belum terjangkau jaringan fiber optik berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tahun 2025.
Kondisi ini menjadi tantangan pemerataan infrastruktur telekomunikasi di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Laporan Kinerja Komdigi 2025 mencatat jaringan fiber optik telah menjangkau 5.253 dari total 7.285 kecamatan di Indonesia, atau sekitar 72,11 persen.
Artinya, masih terdapat sekitar 27,89 persen kecamatan yang belum tercakup dalam data jangkauan jaringan tersebut.
- Menkomdigi CUP 2026 Jadi Ajang Silaturahmi Industri Telekomunikasi, TBG Keluar sebagai Juara
- Mesh Wi-Fi vs Wi-Fi Extender, Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu Gunakan?
- Pelanggan 5G Dunia Tembus 3 Miliar, AI Jadi Pendorong Baru Trafik Data
- Era Jaringan Cerdas Dimulai, Ericsson Bawa AI Langsung ke Radio dan Baseband 5G
Secara keseluruhan, panjang jaringan fiber optik terestrial Indonesia telah mencapai sekitar 1,02 juta kilometer, sedangkan jaringan kabel serat optik bawah laut mencapai 131.200 kilometer.
Persoalan pemerataan jaringan menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) 2026 di Tangerang, Banten, Rabu (4/11/2026).
Mengusung tema Connect. Collaborate. Accelerate., forum yang dihadiri lebih dari 300 peserta tersebut mempertemukan penyelenggara jaringan telekomunikasi, pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kebijakan untuk membahas pengembangan infrastruktur digital nasional.
Ketua Umum APJATEL Jerry Siregar mengatakan kolaborasi menjadi faktor penting dalam memperkuat industri telekomunikasi, khususnya layanan internet berbasis jaringan tetap atau fixed broadband.
"Kolaborasi menjadi kunci agar industri telekomunikasi khususnya fixed broadband dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam mendukung kedaulatan serta transformasi digital Indonesia," ujar Jerry.
Perkembangan teknologi AI menjadi salah satu faktor yang mendorong kebutuhan jaringan telekomunikasi berkapasitas besar dan andal.
Selain mendukung akses internet masyarakat, infrastruktur fiber optik berperan penting dalam pertukaran data, operasional pusat data (data center), layanan komputasi awan (cloud computing), serta berbagai aplikasi digital.
Persoalan tersebut dibahas dalam diskusi bertajuk AI-Powered Connectivity: Mengakselerasi Infrastruktur Digital Indonesia yang menjadi bagian dari Rakernas APJATEL 2026.
Jaringan fiber optik menjadi salah satu fondasi pengembangan ekosistem AI karena memungkinkan koneksi berkapasitas besar antara pengguna, pusat data, dan penyedia layanan digital.
Namun, pembangunan jaringan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas.
Pemerataan akses antardaerah juga menjadi persoalan yang perlu diselesaikan agar manfaat transformasi digital dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.
Selain pemerataan akses internet, APJATEL menyoroti pentingnya penataan jaringan fiber optik agar pembangunan infrastruktur lebih terkoordinasi dan tidak mengganggu ruang publik.
Berdasarkan data program APJATEL di wilayah Jabodetabek, Serang, dan Banten selama 2021–2026, penataan jaringan telah mencakup 363 lokasi dengan total panjang 604,771 kilometer.
Dari jumlah tersebut, pekerjaan di 281 lokasi sepanjang 403,218 kilometer telah diselesaikan.
Sementara itu, penataan di 82 lokasi lainnya dengan panjang 201,553 kilometer masih berlangsung.
Program tersebut mencakup penataan kabel udara, relokasi jalur jaringan, penerapan tiang terpadu, serta pemindahan kabel ke bawah tanah secara bertahap.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kerapian infrastruktur sekaligus mendukung keselamatan pengguna jalan dan menjaga keandalan layanan telekomunikasi.
APJATEL menilai pekerjaan penataan jaringan membutuhkan koordinasi yang berkelanjutan antara operator, pemerintah daerah, dan instansi terkait.
Salah satu tantangannya adalah menyelaraskan pekerjaan telekomunikasi dengan pembangunan infrastruktur perkotaan lainnya, seperti perbaikan jalan, trotoar, jembatan penyeberangan, dan drainase.
Karena itu, asosiasi mendorong keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD) sejak tahap perencanaan, termasuk dalam pengurusan perizinan, survei bersama, dan pemantauan pekerjaan di lapangan.
Koordinasi tersebut diharapkan dapat mengurangi pekerjaan yang tumpang tindih serta membuat proses pembangunan dan penataan jaringan lebih efisien.
Rakernas APJATEL 2026 juga menjadi forum evaluasi kinerja organisasi sekaligus penyusunan arah program kerja berikutnya.
Forum ini melibatkan perwakilan operator telekomunikasi skala besar, menengah, dan kecil, serta anggota dan mitra asosiasi.
APJATEL mencatat keanggotaan organisasi terdiri dari 174 anggota tetap dan 60 anggota mitra.
Melalui Rakernas, asosiasi berupaya menyelaraskan kebutuhan anggotanya dengan arah pengembangan industri telekomunikasi nasional, terutama dalam menghadapi pertumbuhan kebutuhan layanan digital.
Pembahasan juga mencakup peluang bisnis baru, efisiensi pengelolaan jaringan, serta penguatan infrastruktur yang mendukung pemanfaatan AI.
Selain itu, APJATEL meluncurkan situs web terbaru organisasi untuk memperluas akses informasi mengenai kegiatan dan kontribusi asosiasi terhadap industri telekomunikasi.
Jerry menegaskan pengembangan konektivitas nasional membutuhkan kerja sama yang lebih erat antarpelaku industri dan pemangku kepentingan.
"APJATEL berkomitmen untuk terus menjadi wadah kolaborasi bagi para penyelenggara jaringan telekomunikasi dan pe









