Survei Ericsson: Indonesia Nomor Dua dalam Penggunaan AI Multimodal Harian di 27 Pasar
Survei Ericsson: Indonesia peringkat kedua penggunaan AI multimodal harian dengan 22%. Adopsi agentic AI diprediksi mencapai 44% pada 2030.
Ilustrasi multimodal AI.dok. Magnific
Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan kecerdasan buatan (AI) multimodal tertinggi di dunia.
Riset terbaru Ericsson ConsumerLab menunjukkan sebanyak 22 persen konsumen Indonesia menggunakan teknologi tersebut setiap hari, menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dari 27 pasar yang diteliti, setelah Tiongkok.
Temuan ini menunjukkan semakin luasnya penggunaan AI dalam aktivitas digital masyarakat, mulai dari mengolah teks dan gambar hingga berinteraksi menggunakan suara, video, serta dokumen.
AI multimodal merupakan teknologi kecerdasan buatan yang mampu memahami atau memproses lebih dari satu jenis informasi.
- Pelanggan Global Tencent Cloud Melonjak Dua Kali Lipat, Permintaan AI Tumbuh Tiga Digit
- Tak Perlu Buka Banyak Aplikasi, Asisten AI Agoda Bisa Bantu Rencanakan Liburan
- Gandeng Empat Perusahaan Teknologi, Cloudera Perkuat AI untuk Bisnis
- Cloudera Blueprints Bantu Perusahaan Indonesia Percepat Penerapan AI
Berbeda dari chatbot berbasis teks, teknologi ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan AI melalui berbagai format konten.
Dalam laporan bertajuk An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs, Ericsson memperkirakan penggunaan AI multimodal secara intensif di Indonesia akan terus meningkat.
Pada 2030, proporsi pengguna intensif AI multimodal di Indonesia diproyeksikan mencapai 45 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan global sebesar 30 persen.
Dengan proyeksi tersebut, Indonesia diperkirakan menjadi salah satu dari enam pasar di Asia dengan tingkat penggunaan AI multimodal tertinggi.
Namun, peningkatan penggunaan AI juga membawa tantangan baru bagi infrastruktur telekomunikasi.
Semakin banyak masyarakat memanfaatkan AI untuk memproses gambar, video, suara, dan dokumen, semakin besar pula kebutuhan terhadap jaringan internet yang mampu memberikan respons cepat dan koneksi stabil.
Kebutuhan ini terutama dirasakan kelompok pengguna AI intensif atau AI super users, yakni konsumen yang menggunakan teknologi AI lebih sering dibandingkan pengguna rata-rata.
Ericsson menemukan waktu respons AI menyumbang sekitar 20 persen terhadap kepuasan jaringan bagi kelompok tersebut, dibandingkan 8 persen pada pengguna smartphone secara umum.
Di Indonesia, pengaruh waktu respons AI terhadap kepuasan jaringan pengguna intensif tercatat sekitar tiga kali lebih besar.
Artinya, kecepatan koneksi tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan mengunduh atau mengunggah data.
Pengguna AI juga semakin memperhatikan seberapa cepat sistem merespons perintah dan menyelesaikan tugas.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan perubahan pola penggunaan AI perlu diikuti peningkatan kemampuan jaringan telekomunikasi.
"Penggunaan AI di Indonesia yang semakin beragam menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap konektivitas juga terus berkembang," ujar Nora.
Menurutnya, jaringan perlu mendukung berbagai bentuk interaksi digital secara cepat dan andal, sekaligus menjaga keamanan pengguna.
Selain AI multimodal, Ericsson menyoroti perkembangan agentic AI, yaitu teknologi kecerdasan buatan yang dapat menjalankan serangkaian tugas atas nama pengguna dengan tingkat kemandirian tertentu.
Teknologi ini memungkinkan AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga membantu menyelesaikan pekerjaan, seperti membandingkan produk, mengatur jadwal, hingga mengelola pembelian rutin.
Berdasarkan proyeksi Ericsson ConsumerLab, penggunaan agentic AI di Indonesia berpotensi meningkat dari 8 persen saat ini menjadi 44 persen pada 2030.
Secara global, sekitar dua dari lima konsumen diperkirakan akan menggunakan teknologi tersebut pada periode yang sama.
Perkembangan ini juga diprediksi mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan perangkat digital.
Dengan menyerahkan sejumlah tugas rutin kepada AI, konsumen memperkirakan dapat mengurangi waktu penggunaan layar atau screen time sekitar satu jam setiap hari.
Penggunaan AI juga diperkirakan tidak lagi terpusat pada smartphone.
Ericsson memproyeksikan sebanyak 35 persen konsumen Indonesia akan menggunakan AI melalui perangkat selain smartphone pada 2030, termasuk kacamata pintar atau smart glasses.
Di tengah meningkatnya ketergantungan pada AI, persoalan keamanan dan kepercayaan turut menjadi perhatian.
Survei Ericsson menunjukkan 59 persen pengguna AI harian di Indonesia sangat khawatir terhadap keberadaan asisten AI palsu yang dapat bertindak atas nama mereka.
Kekhawatiran ini berkaitan dengan risiko penyalahgunaan identitas ketika AI semakin banyak diberi kewenangan menjalankan tugas secara otomatis.
Di sisi lain, penyedia layanan komunikasi atau operator telekomunikasi di Indonesia menempati peringkat kedua dalam tingkat kepercayaan konsumen untuk memverifikasi identitas asisten AI.
Temuan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi operator telekomunikasi untuk berperan lebih besar dalam membangun ekosistem AI yang aman, termasuk melalui layanan verifikasi identitas digital.
Nora menilai kesiapan jaringan menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia dapat memanfaatkan perkembangan AI secara optimal.
"Bagi Indonesia, kesiapan jaringan dalam mengantisipasi perubahan ini menjadi salah satu faktor penting untuk membuka potensi AI dalam menghadirkan layanan digital yang lebih relevan dan efisien," kata Nora.
Ia menambahkan kesiapan tersebut juga dapat mendukung percepatan transformasi digital nasional menuju Visi Indonesia 2045.
Laporan Ericsson ConsumerLab ini disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 43.000 pengguna smartphone berusia 15–69 tahun di 27 pasar.
Pengumpulan data dilakukan dalam dua periode, yakni Juni–Agustus 2025 dan Februari–Maret 2026.









