Studi Kaspersky: Hampir Separuh Orang Dewasa Pernah Jadi Korban Kekerasan Digital
Kaspersky mengungkap hampir separuh orang dewasa pernah mengalami kekerasan digital, termasuk penguntitan dan stalkerware.
Ilustrasi kekerasan digital. dok. Magnific
Kaspersky mengungkap hampir separuh orang dewasa di dunia pernah mengalami kekerasan atau pelanggaran yang difasilitasi teknologi (tech-enabled abuse), namun sebagian besar korban tidak menyadari tengah menjadi sasaran tindakan berbahaya di ruang digital.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada 20 Mei 2026, Kaspersky mencatat sebanyak 45,7 persen responden global mengaku mengalami setidaknya satu bentuk penyalahgunaan berbasis teknologi dalam 12 bulan terakhir.
Namun, hanya 32 persen responden yang memahami arti istilah “tech-enabled abuse”.
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran publik terhadap berbagai bentuk kekerasan digital yang kini semakin sulit dikenali karena sering tersembunyi di balik aktivitas online sehari-hari.
- SailPoint Perluas Keamanan Identitas ke Era AI Agent dan Machine Identity
- Lebih dari 234 Ribu Serangan Password Stealer Bidik Bisnis Indonesia Sepanjang 2025
- Kaspersky Dorong Orang Tua Lebih Bijak Bagikan Aktivitas Anak di Internet
- Kaspersky Ungkap Indonesia Jadi Sasaran Utama Serangan Siber Exploit dan RDP di Asia Tenggara
Tech-enabled abuse merujuk pada tindakan negatif yang dilakukan atau diperkuat melalui teknologi digital seperti ponsel pintar, media sosial, hingga platform online.
Bentuknya beragam, mulai dari penguntitan siber, pemantauan tanpa izin, pelecehan digital, doxing, hingga pengucilan online.
Menurut studi Kaspersky, bentuk pelanggaran paling umum yang dialami responden adalah pemblokiran dan pengucilan dengan tujuan menyakiti korban sebesar 16,7 persen.
Sementara 15,1 persen responden mengaku menerima pesan bernada ofensif atau tidak sopan.
Profesor Madya di UCL Computer Science sekaligus Kepala Gender and Tech Research Lab, Leonie Maria Tanczer mengatakan masih banyak orang belum memahami kekerasan berbasis teknologi merupakan kategori ancaman yang serius.
“Kurangnya pemahaman bersama membuat banyak pengalaman tidak dikenali, tidak dilaporkan, dan tidak mendapatkan dukungan yang memadai,” ujar Leonie Maria Tanczer.
Laporan tersebut juga menyoroti ancaman stalkerware, yakni perangkat lunak yang memungkinkan pelaku memata-matai aktivitas korban secara diam-diam melalui ponsel pintar.
Dengan stalkerware, pelaku dapat memantau lokasi, pesan teks, riwayat pencarian, panggilan suara, hingga aktivitas digital korban dari jarak jauh tanpa diketahui pemilik perangkat.
Kaspersky mencatat lebih dari 34 ribu pengguna terdampak stalkerware sepanjang 2024–2025. Secara total, sekitar 127 ribu pengguna telah menjadi korban dalam lima tahun terakhir di lebih dari 160 negara.
Negara dengan jumlah korban tertinggi pada 2025 antara lain Rusia, Brasil, dan India. Selama periode tersebut, Kaspersky juga menemukan 33 kelompok stalkerware baru yang sebelumnya belum pernah terdeteksi.
Peneliti Keamanan Utama sekaligus Acting Head of Research Center Americas & Europe Kaspersky GReAT, Tatyana Shishkova mengatakan banyak korban tidak menyadari perangkat mereka sedang dipantau karena stalkerware bekerja secara tersembunyi di latar belakang.
“Sebagian besar korban tetap tidak menyadari bahwa setiap gerakan dan aktivitas mereka sedang dipantau. Karena itu penting untuk mengetahui cara mengidentifikasi ancaman tersebut,” kata Shishkova.
Selain mempublikasikan laporan, Kaspersky juga terlibat dalam Konferensi Penyalahgunaan Teknologi internasional yang digelar oleh UCL di London pada 19–21 Mei 2026 melalui workshop khusus Anti-Stalkerware.
Kaspersky turut mengingatkan pengguna untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda perangkat yang terinfeksi stalkerware, seperti baterai cepat habis, penggunaan data tidak wajar, hingga munculnya aplikasi asing yang tidak dikenal.
Pengguna juga disarankan menggunakan perangkat keamanan digital dan memperkuat perlindungan akun dengan kata sandi yang unik.









