Erick Thohir, blak-blakan soal industri olahraga dan startup

Peluang mengawinkan industri olahraga dan startup di mata Erick Thohir.

Di suatu siang yang mendung, saya bertemu Erick Tohir, sang Presiden Inter Milan. Kami bertemu di sebuah acara peluncuran aplikasi yang juga bergelut di industri olahraga, Doogether.

Di tengah kesibukannya menjadi Ketua Pelaksana ASIAN Games 2018, siapa sangka dia masih sempat menjadi mentor bagi startup teknologi. Bahkan, bisa dibilang, manuver Erick kali ini cukup gila. CEO Doogether, Fauzan Gani, yang dimentorinya, masih sangat belia. Usia Fauzan baru 24 tahun.

Saya pun mencuri sedikit waktu Erick Thohir yang padat untuk saya wawancarai. Meski sedikit, ada banyak hal yang bisa saya petik dari pembicaraan yang sesekali ditingkahi tawa itu.

Satu kesan yang berbeda ketika berbicara dengan orang sekaliber Erick Thohir. Dia seakan tidak menutupi bila startup yang dimentorinya itu merupakan andalan mesin uangnya nanti.

"Kalau kita melihat industri olahraga itu kan kita melihat transaksinya juga. Tidak mungkin industri olahraga bisa jalan tanpa televisi, ticketing, sponsor, ataupun spektator. Kalau saya melihat Jakarta yang sangat besar dengan segala kemacetan dan kesibukannya, apalagi muncul tren-tren baru di olahraga, tentu masyarakat yang aktif ini mencari cara paling mudah untuk terhubung. Ini adalah tools bagi percepatan perputaran uang di industri ini," katanya.

Erick melanjutkan, "Kadang-kadang orang melihat industri olahraga itu kan aktivitas olahraganya saja. Tapi sebenarnya infrastruktur industri olahraga itu sebenarnya penting. Distribution channel itu juga penting."

"Kebetulan saya ini orang yang cinta olahraga. Saya juga senang dengan banyaknya muncul entrepreneur muda di Indonesia. Ini sudah eranya mereka lah. Kita fokus agar Indonesia tidak hanya menjadi market saja di era digital ini. Kita harapkan pengusaha-pengusaha muda ini ke depannya menjadi ujung tombak dari ekonomi Indonesia."

Erick melihat, potensi ekonomi di industri olahraga ketika dikawinkan dengan teknologi begitu besar. Dia mencontohkan, orang-orang yang beraktivitas sehari-hari di pusat kebugaran jauh lebih banyak daripada jumlah penonton liga sepak bola dalam satu kota.

"Perputaran uang lewat layanan people-to-people itu jauh lebih tinggi daripada liga. Ini kan kegiatan sehari-hari. Contoh kita lihat, kalau kita nonton sepak bola, sekali pertandingan 20 ribu setiap Sabtu. Coba berapa banyak yang melakukan fitness satu hari di Jakarta. Pasti lebih banyak yang fitness. Di situlah teknologi hadir. Bagaimana mereka ini (pecandu olahraga) dipermudah aksesnya, baik booking, payment, bahkan memangkas jarak tempuh. Kebutuhan orang akan olahraga itu sendiri saya kira meningkat. Tren ini akan terus ada karena makin banyak orang concern  ke kesehatan." kata Erick.

Tidak hanya melihat teknologi mampu menggerakkan industri olahraga di level individu saja, dia juga melihat teknologi mampu membantu industri olahraga di tingkat yang lebih besar lagi.

"Kalau bicara soal industri olahraga yang berskala besar, liga misalnya, teknologi bisa membantu di sisi ticketing. Atau begini, ketika nonton sebuah pertandingan Persib atau Persija, misalnya, ada aplikasi yang membantu melihat temannya sedang berada di stadion yang sama. Nah, itu tempat kolaborasinya teknologi dan industri olahraga."

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: