TransNusa Pakai Teknologi Skywise untuk Deteksi Masalah Pesawat Lebih Dini
TransNusa menggandeng Skywise untuk memantau data pesawat secara real-time dan mendeteksi masalah teknis lebih dini demi menekan gangguan penerbangan.
Kerja sama TransNusa dan Skywise. dok. TransNusa
TransNusa memperluas kolaborasi dengan Skywise milik Airbus untuk mengintegrasikan data operasional dan teknis pesawat secara real-time.
Teknologi tersebut akan digunakan antara lain untuk mendeteksi anomali teknis lebih awal sehingga potensi gangguan operasional dapat diantisipasi sebelum berdampak pada penerbangan.
Kerja sama tersebut mencakup penerapan Skywise Core X2 dan Skywise Fleet Performance+ (S.FP+). Skywise menyebut perjanjian penggunaan kedua solusi itu sebagai yang pertama di Indonesia.
Integrasi tersebut akan menghubungkan data pesawat selama penerbangan dengan sistem pemeliharaan TransNusa.
- Belajar Gak Harus Nunggu Jadwal Bimbel, Begini Cara AI Menemani Siswa Indonesia Belajar Kapan Saja
- AI Mulai Jadi Senjata Baru Industri Tambang Indonesia untuk Tingkatkan Produktivitas
- Aktivitas Anak Krakatau Jadi Pengingat Pentingnya Teknologi Komunikasi Darurat
- Umrah Mandiri Makin Dilirik, Pencarian Layanan di Safaraya Naik 7 Kali Lipat
Maintenance Control Centre maskapai kemudian dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi armada dan mengidentifikasi anomali teknis lebih dini.
Pendekatan ini memungkinkan penanganan masalah dilakukan sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.
Bagi maskapai, pemeliharaan yang lebih prediktif diharapkan dapat mengurangi kejadian pesawat tidak dapat beroperasi atau Aircraft on Ground (AOG), sekaligus menekan risiko gangguan dan pembatalan penerbangan mendadak.
Group Chief Executive Officer TransNusa Datuk Bernard Francis mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan keandalan operasional.
“Dengan menjadi maskapai pertama di Indonesia yang mengadopsi solusi Skywise ini, kami beralih dari pelaporan yang bersifat reaktif menuju operasional yang prediktif dan berbasis data secara real-time,” ujar Bernard.
“Bagi penumpang, hal ini berarti ketepatan waktu penerbangan dan keandalan layanan yang lebih tinggi. Bagi TransNusa, integrasi ini memastikan armada dapat beroperasi dengan efisiensi maksimal, sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan yang menguntungkan dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di kawasan,” tambahnya.
Salah satu fokus integrasi Skywise adalah pemeliharaan prediktif.
Data kondisi pesawat yang diperoleh selama penerbangan dapat dihubungkan dengan sistem pemeliharaan untuk membantu tim teknis mengidentifikasi potensi masalah.
Dengan pendekatan tersebut, pesawat diharapkan menghabiskan lebih sedikit waktu di darat akibat kebutuhan perawatan tidak terjadwal sehingga ketersediaan armada dapat meningkat.
Namun, penerapan teknologi tersebut tidak berarti keterlambatan atau pembatalan penerbangan dapat sepenuhnya dihilangkan.
Ketepatan waktu penerbangan juga dapat dipengaruhi faktor lain di luar kondisi teknis pesawat.
Skywise Head of Region APAC Alessandro Luzi mengatakan implementasi S.FP+ dan Skywise Core X2 bersama TransNusa menjadi perjanjian pertama untuk kedua solusi tersebut di Indonesia.
Menurut dia, integrasi sistem ditujukan untuk menyederhanakan alur kerja dan menjaga konsistensi data yang digunakan di berbagai bagian organisasi.
“Integrasi ini memberikan manfaat yang jelas dan terukur pada dua aspek penting, yaitu keandalan yang lebih tinggi bagi penumpang serta optimalisasi efisiensi aset bagi TransNusa,” ujar Alessandro.
Sistem baru tersebut juga akan dihubungkan dengan sejumlah perangkat digital yang telah digunakan TransNusa, termasuk N-Flight Planning (N-FP), Mission+ FLIGHT untuk electronic Flight Folder, serta Mission+ MAPS untuk kebutuhan pemetaan penerbangan.
Integrasi tersebut memungkinkan pilot, ground crew, dan teknisi mengakses sumber data yang konsisten dalam mendukung operasional setiap penerbangan.
Bagi TransNusa, konsolidasi data juga ditujukan untuk menggantikan proses pelaporan yang sebelumnya tersebar di sejumlah sistem, termasuk penggunaan spreadsheet, dengan alur kerja yang lebih terotomatisasi.
Pemanfaatan data armada kemudian dapat digunakan untuk meningkatkan ketersediaan pesawat, mengurangi AOG, serta mengoptimalkan jam terbang harian.
TransNusa juga menilai sistem yang terintegrasi dapat mendukung pengembangan armada dan jaringan penerbangannya karena penambahan skala operasional dapat dilakukan dengan alur data dan proses kerja yang lebih konsisten.









