×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Teknologi Bio-Metanol hingga Daur Ulang Tekstil Raih Pendanaan di CIIC 2026

Oleh: Tek ID - Rabu, 07 Oktober 2026 18:15

CRecTech, Blueyou, dan MacroCycle mendapat dana Rp15 miliar dari CIIC 2026 untuk menguji teknologi iklim mereka langsung di Indonesia.

Teknologi Bio-Metanol Raih Pendanaan di CIIC 2026 Para peraih pendanaan di Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2026. dok. East Ventures

Tiga perusahaan teknologi iklim, CRecTech, Blueyou, dan MacroCycle Technologies, memperoleh total dana katalitik Rp15 miliar untuk menguji coba solusi mereka di Indonesia setelah menjadi pemenang Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2026.

Ketiganya membawa teknologi yang menyasar persoalan berbeda, mulai dari pemanfaatan limbah industri kelapa sawit menjadi bio-metanol, restorasi mangrove yang terintegrasi dengan produksi pangan, hingga daur ulang limbah tekstil berbahan poliester.

Masing-masing pemenang memperoleh dana Rp5 miliar untuk menjalankan proyek percontohan atau pilot project di Indonesia.

CIIC 2026 diselenggarakan East Ventures, Temasek Foundation, dan Tencent. Kompetisi yang memasuki tahun keempat tersebut menarik lebih dari 850 pendaftar dari sekitar 60 negara sebelum sembilan finalis dipilih untuk mengikuti Grand Finale pada 6 Oktober 2026.

Partner East Ventures Avina Sugiarto mengatakan CIIC diarahkan untuk menjembatani inovasi teknologi iklim dengan penerapannya di lapangan.

“Kami senang melihat CIIC berkembang menjadi platform yang mempertemukan berbagai gagasan berani, para inovator yang berdedikasi, serta para mitra yang memiliki ambisi bersama untuk mengubah inovasi iklim menjadi dampak nyata,” kata Avina.

Grand Finale CIIC 2026 digelar sebagai sesi tematik dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. 

Kompetisi tahun ini dibagi menjadi tiga kategori, yakni Transisi Energi, Solusi Alam & Pangan, serta Ekonomi Sirkular.

CRecTech keluar sebagai pemenang kategori Transisi Energi. Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi untuk mengolah biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi bio-metanol.

CRecTech mengklaim teknologi tersebut dapat menghasilkan bio-metanol dengan biaya 50% lebih rendah sekaligus mengurangi emisi hingga 93%. 

Angka tersebut merupakan klaim perusahaan dalam materi CIIC dan belum disertai rincian metodologi pengujian dalam bahan yang tersedia.

Co-Founder dan CEO CRecTech Lim Kang Hui mengatakan pendanaan dari CIIC akan digunakan untuk mempercepat uji coba dan penerapan komersial teknologi tersebut di Indonesia.

“Dengan dukungan pendanaan katalitik dari CIIC, kami akan mempercepat tahap uji coba dan penerapan komersial di Indonesia bersama mitra lokal, termasuk Pertamina,” kata Lim.

CRecTech juga memperoleh hibah 50.000 dolar AS atau sekitar Rp893,75 juta dari Sinar Mas Agribusiness & Food serta investasi senilai sama dari Vinerock Capital.

Pada kategori Solusi Alam & Pangan, Blueyou menjadi pemenang melalui pendekatan restorasi mangrove di lahan terdegradasi yang dipadukan dengan produksi pangan biru tanpa pakan maupun bahan kimia.

Blueyou mengklaim pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan petani kecil hingga tiga kali lipat. 

Blueyou juga mendapatkan investasi 50.000 dolar AS atau sekitar Rp893,75 juta dari Mana Impact.

Sementara MacroCycle Technologies memenangi kategori Ekonomi Sirkular melalui pengembangan teknologi daur ulang poliester dari tekstil menjadi bahan tekstil kembali.

Menurut klaim MacroCycle dalam materi CIIC, teknologi tersebut menggunakan energi 80% lebih rendah, menghasilkan emisi karbon dioksida 80% lebih rendah, dan menggunakan air 99% lebih sedikit dengan harga yang diklaim setara produk konvensional.

Co-Founder dan CEO MacroCycle Technologies Stwart Pena Feliz mengatakan kemenangan tersebut membuka jalan bagi perusahaan untuk menjalankan proyek pertamanya di Asia.

“Penghargaan ini memungkinkan kami untuk secara resmi meluncurkan proyek pertama kami yang berbasis di Asia dan mulai menangani secara langsung besarnya volume limbah tekstil yang terdapat di kawasan ini, khususnya di Indonesia,” kata Feliz.

Menurut dia, MacroCycle akan mempercepat proyek bersama mitra lokal di Indonesia untuk menunjukkan kelayakan penerapan ekonomi sirkular di industri tekstil.

Selain Rp15 miliar dana katalitik untuk tiga pemenang, sejumlah komitmen pendanaan dan investasi lain diumumkan dalam Grand Finale CIIC 2026.

Tencent memberikan komitmen pra-pembelian kredit karbon sebesar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp17,87 miliar kepada Yagasu.

Sementara itu, CRecTech memperoleh tambahan hibah dan investasi dengan total 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,78 miliar dari Sinar Mas Agribusiness & Food dan Vinerock Capital. Blueyou mendapatkan investasi 50.000 dolar AS atau sekitar Rp893,75 juta dari Mana Impact.

Head of Climate and Liveability Temasek Foundation Heng Li Lang mengatakan CIIC mencari solusi dari berbagai negara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

“Dengan mengidentifikasi solusi unggulan dari berbagai negara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan diterapkan di tingkat lokal, CIIC akan mendukung para inovator di bidang iklim untuk memvalidasi, mengembangkan skala, dan pada akhirnya menjawab sejumlah tantangan iklim terbesar yang dihadapi umat manusia,” katanya.

Vice President for Sustainable Social Value Tencent Xu Hao menambahkan proyek percontohan menjadi tahapan penting untuk membuktikan apakah inovasi berbasis alam dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Dengan membantu para inovator menguji solusi mereka melalui pilot di Indonesia, CIIC menjadi jembatan penting antara ide-ide yang menjanjikan dan dampak nyata di lapangan,” ujar Xu Hao.

CIIC pertama kali digelar pada 2023. Pada penyelenggaraan 2026, kompetisi tersebut kembali diarahkan untuk membawa teknologi iklim dari tahap pengembangan menuju pengujian langsung di Indonesia.

×
back to top