×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

AI Mulai Jadi Senjata Baru Industri Tambang Indonesia untuk Tingkatkan Produktivitas

Oleh: Tek ID - Kamis, 10 September 2026 16:40

Industri tambang RI didorong beralih dari resource advantage ke intelligence advantage lewat AI, efisiensi, hilirisasi dan elektrifikasi.

AI Mulai Jadi Senjata Baru Industri Tambang Indonesia Diskusi mengenai teknologi pertambangan. dok. Ist

Industri pertambangan Indonesia dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam untuk menjaga daya saing. 

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), efisiensi modal, hilirisasi, hingga elektrifikasi mulai menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan geopolitik, volatilitas biaya, dan perubahan kebutuhan industri global.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Energy Insights Forum bertajuk “The Next Chapter of Indonesian Mining: Growth, AI, Capital, and Electrification” yang digelar Kadin Indonesia Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Katadata di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang ESDM Aryo Djojohadikusumo mengatakan dinamika geopolitik global kini ikut memengaruhi anggaran, proyeksi keuangan, hingga daya tahan bisnis perusahaan pertambangan, terutama melalui perubahan harga dan ketersediaan bahan bakar.

“Banyak perusahaan pertambangan di ekosistem Kadin bertahan karena mereka sudah mengantisipasi masa depan. Apa yang sebelumnya hanya menjadi proyek percontohan, kini menjadi kebutuhan operasional,” ujar Aryo.

Menurut dia, perusahaan tambang harus semakin selektif dalam menentukan belanja modal atau capital expenditure (capex). 

Investasi teknologi perlu diarahkan pada solusi yang benar-benar meningkatkan produktivitas dan ketahanan bisnis, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

“Dari apa yang saya pelajari dari perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia, tidak ada cara yang lebih baik untuk membangun ketahanan dan kekuatan jangka panjang selain dengan berinovasi,” kata Aryo.

Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan menilai transformasi industri pertambangan perlu disertai rencana eksekusi yang jelas, termasuk dalam pemanfaatan AI dan elektrifikasi.

“Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keunggulan sumber daya. Kita harus bergeser dari resource advantage menuju intelligence advantage. AI menjadi salah satu cara untuk meningkatkan skala ekonomi, produktivitas, dan memperkuat daya saing industri,” ujar Dany.

Menurut Dany, penggunaan AI seharusnya diarahkan pada kebutuhan operasional. MIND ID antara lain mulai mengembangkan pemanfaatan AI untuk meningkatkan keselamatan kerja, memantau kondisi peralatan, dan mengoptimalkan proses produksi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI di sektor pertambangan mulai bergeser dari tahap eksperimen menuju aplikasi yang memiliki dampak langsung terhadap produktivitas dan efisiensi.

Perubahan strategi juga terjadi pada sumber pertumbuhan industri mineral. Partner McKinsey & Company Yanto menjelaskan, mineral fundamental seperti batu bara, tembaga, dan bijih besi masih memiliki peran penting.

Namun, sumber pertumbuhan baru mulai muncul dari mineral kritis yang dibutuhkan untuk transisi energi, pengembangan AI, pusat data, dan berbagai teknologi masa depan.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Untuk mineral yang sudah menjadi kekuatan kita, operational excellence menjadi kunci untuk menjaga daya saing secara fundamental,” ujar Yanto.

Ia menambahkan, Indonesia juga perlu berinvestasi dalam teknologi hilirisasi yang kompetitif agar dapat menangkap nilai ekonomi lebih besar dari peningkatan permintaan mineral kritis.

Associate Partner McKinsey & Company Narendra Adoe menilai Indonesia memiliki keunggulan sumber daya mineral serta basis industri hulu dan midstream yang relatif kuat. 

Namun, ruang peningkatan nilai tambah masih terbuka di sepanjang rantai industri.

“Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas perannya di sepanjang rantai nilai, termasuk pada mineral kritis yang saat ini kapasitas pengolahan di hilir masih didominasi oleh negara lain,” ujarnya.

Pembahasan mengenai peran teknologi juga diperkuat melalui sesi AI-led Innovation in Mining and Metals yang menghadirkan Associate Partner McKinsey & Company Vivek Jha dan CTO Google Cloud Indonesia Sai Prasad Kolluri. 

Keduanya membahas pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas pengambilan keputusan di sektor pertambangan.

Selain AI, elektrifikasi mulai dipandang sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional industri tambang.

Peralihan kendaraan dan alat berat dari mesin pembakaran internal menuju teknologi hibrida dan listrik berpotensi menekan konsumsi bahan bakar sekaligus mengurangi emisi.

Namun, penerapan elektrifikasi membutuhkan investasi tambahan, mulai dari kendaraan dan alat berat, infrastruktur pengisian daya, penyimpanan energi, hingga jaringan listrik.

Tantangan menjadi lebih besar bagi operasi tambang di wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses kelistrikan. 

Dalam kondisi tersebut, pengembangan energi terbarukan dan microgrid dapat menjadi salah satu opsi untuk mendukung pasokan listrik yang lebih andal.

Kombinasi AI, efisiensi modal, hilirisasi mineral kritis, dan elektrifikasi menunjukkan bahwa persaingan industri pertambangan semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengubah sumber daya menjadi nilai tambah.

Energy Insights Forum merupakan kolaborasi Kadin Indonesia Bidang ESDM dan Katadata Indonesia yang membahas perkembangan sektor energi dan mineral, regulasi, peluang investasi, hingga transformasi industri. Forum tersebut juga menerbitkan buletin energi secara berkala setiap bulan.

×
back to top