Teknologi pengenal wajah Amazon jadi kontroversi di AS

Teknologi pengenal wajah milik Amazon, Rekognition, dipasarkan ke lembaga-lembaga pemerintahan. Hal ini menimbulkan kontroversi karena Google dan Microsoft tidak melakukannya demi alasan privasi.

Teknologi pengenal wajah Amazon jadi kontroversi di AS

Chief Amazon Web Services membela penggunaan teknologi pengenalan wajah milik Amazon. Ia yakin teknologi itu tunduk pada peraturan pemerintah.

Andy Jassy, ​​CEO Cloud Computing Service Amazon, berbicara di Code Conference di Scottsdale, Arizona, Amerika Senin (10/6) lalu. Ia mengakui bahwa kekhawatiran tentang teknologi seperti program pengenalannya ini, kontroversial. Akan tetapi ia tetap mempertahankan teknologi tersebut karena memilik nilai tambah.


BACA JUGA

Amazon ajukan izin untuk luncurkan satelit internet cepat

Janda bos Amazon, jadi orang terkaya ke-22 dunia

Efek menyedihkan teknologi pada balita


"Hanya karena teknologi bisa disalahgunakan, tidak berarti kita harus melarangnya dan mengutuknya," kata Jassy.

Ia membandingkannya dengan pisau yang dapat disalahgunakan dengan cara "diam-diam". 

"Saya benar-benar mengerti mengapa orang khawatir tentang hal itu. Saya pikir pemerintah harus mengaturnya." imbuhnya.

Software pengenalan wajah Amazon, yang berjuluk Rekognition, telah berulang kali dikritik dari para pembela privasi sejak tahun lalu. Padahal teknologi pengenalan wajah pada umumnya telah diimplementasikan untuk tugas sehari-hari seperti membuka kunci telepon dan menandai teman (mention) di media sosial. Kemajuan dalam teknologi kecerdasan buatan dan kamera telah membuatnya semakin mudah untuk melihat dan melacak individu.

Tahun lalu, ACLU mengungkap penjualan teknologi Rekognition Amazon, ke lembaga penegak hukum di AS, termasuk Departemen Kepolisian Orlando. Tes ACLU untuk Rekognition pada bulan Juli menemukan bahwa sistem tersebut secara keliru mengenali 28 anggota kongres dengan penjahat.

Kekhawatiran tentang Rekognition juga muncul selama audiensi publik di hadapan DPRD New York. Saat itu proposal Amazon ditolak untuk membangun kampus baru di kota itu. Anggota dewan berulang kali menuding Amazon karena memasarkan Rekognition ke Imigrasi AS dan Bea Cukai.

Baik Google dan Microsoft secara terbuka mengatakan mereka tidak akan menjual teknologi pengenalan wajah mereka kepada penegak hukum, alih-alih meminta Undang-Undang baru untuk memandu penggunaan teknologi mereka.

Jassy mengatakan ada dukungan kuat dalam Amazon untuk terus mendukung lembaga-lembaga pemerintah.

"Setiap departemen pemerintah yang mengikuti hukum, kami akan layani," katanya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: