Tampilan Lazada berubah, apa flash sale jadi lebih mudah?
Saya bertanya kepada petinggi Lazada soal hal yang paling bikin keki pembeli mereka, Flash Sale.
Program Flash Sale di Lazada selalu jadi incaran pembeli. Bahkan pembeli yang berharap mendapatkan barang incaran mereka, harus berjibaku untuk mendapatkannya. Saya bicara dengan Adi Putra, Head of Seller Engagement Lazada Indonesia, perihal ini. Berhubung Lazada telah mengubah tampilan dan menyuntikkan mesin kecerdasan buatan ke dalam aplikasi mobile mereka, apakah ini akan mempermudah konsumen berbelanja Flash Sale nantinya?
Menurut keterangan Adi, aplikasi mobile Lazada memang tengah ditingkatkan kemampuannya, termasuk kemampuannya dalam menampung pengunjung dalam hitungan yang sangat cepat.
"Satu hal yang pasti, antusiasme pembeli di Indonesia memang tinggi. Contohnya saja Xiaomi Redmi 5A, kita ada stok 20 ribu unit setiap harinya. Dalam setengah jam sudah ludes. Sudah itu website kita down langsung. Sebelumnya kita memang sudah pernah berhasil mencoba 10 ribu dalam 15-20 menit. Kita pun meningkatkan kapasitas. Sekarang dihantam 20 ribuan, habis lagi. Jadi pasar Indonesia memang gila," ujar Adi.
- Pasar FMCG di E-commerce Tembus Rp128 Triliun di 2025, Gaya Hidup Digital Jadi Penggerak Utama
- Penjualan Kopi di Ecommerce Melonjak 120% Sepanjang 2025, Kemasan Karton Jadi Penentu Lonjakan Nilai
- Laporan DoubleVerify 2025: 52% Konsumen Indonesian Belanja via Social Commerce
- Blibli #NoBlablaDiBlibli: Festival diskon ulang tahun ke-14
Adi melanjutkan, kenapa Flash Sale di Lazada memang cukup sulit untuk sebagian orang. Pernah ada satu kejadian dalam satu detik, pemesan di Lazada bisa ratusan orang, 400-500 pemesan menurut versi Adi. Hal ini tentu memperketat kompetisi konsumen dalam mendapatkan barang incaran mereka.
Pengaruh mesin kecerdasan
Implementasi mesin kecerdasan buatan dalam aplikasi mobile Lazada dikatakan oleh Adi, akan mengurangi pekerjaan manual dari tim Lazada.
"Dulu kita mengorbankan tampilan kita karena misalnya data menunjukkan 60 persen yang belanja adalah perempuan. Sekarang mesin kecerdasan ini membuat tampilan jadi sangat personal bagi tiap pengguna. Kita tidak akan mengorbankan 40 persen konsumen kita yang laki-laki, karena tampilan aplikasinya berbeda di gadget masing-masing orang," terang Adi.
Pembaruan aplikasi mobile Lazda ini sebenarnya sudah mereka rilis sejak Natal 2017 lalu, namun imbasnya mulai terasa awal tahun ini. 50 persen pengguna Lazada sudah memperbarui aplikasi Lazada yang baru versi 6.0. Sementara itu, apabila dibandingkan jumlah konsumen yang belanja lewat situs internet, lebih dari setengah pelanggan Lazada kini berbelanja lewat aplikasi.








