sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id wd
Kamis, 24 Okt 2019 15:22 WIB

Libra masih hadapi jalan terjal untuk peluncurannya

Libra, mata uang kripto yang digagas Facebook tampaknya masih jauh dari kata peluncuran. Hal ini dikarenakan kongres Amerika Serikat belum mempercayai Facebook untuk hal ini.

Libra masih hadapi jalan terjal untuk peluncurannya
Source: Google

Jalan terjal Libra untuk diresmikan masih jauh terbentang. Baru-baru ini, kongres di AS mengadakan rapat dengar pendapat dengan CEO Facebook terkait mata uang digital yang ingin mereka luncurkan. Mark Zuckerberg harus menjawab sejumlah pertanyaan terkait Libra dan memastikan bahwa mata uang kripto ini dan tentunya Facebook dapat dipercaya. 

“Jika sampai akhir hari ini kami tidak mendapat kejelasan, maka kami tidak akan menjadi anggota dari asosiasi [Libra].” ungkap Zuckerberg seperti dilansir dari DIgitalTrends (24/10). 

CEO Facebook itu bahkan mengakui bahwa Libra merupakan proyek yang sangat kompleks. Bahkan ia berpendapat bahwa mundurnya beberapa partner terbesar Libra, seperti Visa, PayPal dan MasterCard disebabkan karena adanya risiko di balik mata uang kripto ini. 

Sayangnya, rapat dengar pendapat tersebut mengindikasikan ketidak-percayaan kongres AS pada perusahaan ini. Hal ini terjadi lantaran di masa lalu, Facebook memiliki banyak skandal mengenai privasi data penggunanya. Dalam acara tersebut, kongres tidak hanya mengkritisi Libra, melainkan juga masalah privasi, risiko perdagangan dan tentunya, keamanan nasional.

Sebagaimana diketahui, perusahaan ini memiliki sejarah kelam terkait keamanan data penggunanya.Tahun lalu, 50 juta data pengguna Facebook bocor. Data itu digunakan oleh Cambridge Analytica, sebuah perusahaan yang melakukan profiling pemilih dalam pemilu di AS. Masalahnya adalah, data tersebut berhasil diperoleh secara ilegal. 

Tak hanya itu, masalah seperti deepfake, konten kekerasan seksual hingga interferensi pemilu 2016 di AS menjadi salah satu riwayat kelam yang dimiliki platform satu ini. Kendati sudah menerima denda dari FTC sebesar USD5 miliar karena kasus Cambridge Analytica. 

“Anda membuktikan bahwa kami tidak bisa mempercayakan email dan nomor telepon kami kepada Anda. Jadi mengapa kami harus mempercayai Anda dengan uang yang susah payah kami peroleh.” ungkap Ayanna Pressley, salah satu anggota kongres Amerika Serikat. 

Mark Zuckerberg pun mengakui bahwa Facebook harus membersihkan rekor buruknya dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengungkapkan bahwa Facebook mungkin bukan platform yang terbaik. Namun pihaknya masih percaya, bahwa ada banyak orang yang menginginkan Facebook untuk terus maju dengan ide [Libra] ini. 

Share
×
tekid
back to top