Lewat SiBerKreasi, JAPELIDI ajak remaja untuk cegah bullying

Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) mengedukasi masyarakat, khususnya remaja lewat acara SiBerKreasi Netizen Fair 2017.

Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) menjadi salah satu pembicara dalam workshop SiBerKreasi Netizen Fair 2017 kemarin (28/10). Berawal dari maraknya bullying di dunia nyata dan dunia maya, mereka tergerak untuk melakukan kegiatan sosialisasi peningkatan pendidikan literasi digital, khususnya pada remaja usia 15 hingga 19 tahun.

Komunitas ini kebanyakan berasal dari para mahasiswa yang tertarik mengedukasi remaja untuk tidak melakukan bullying di dunia nyata maupun di dunia maya. Sayangnya, kegiatan literasi digital di Indonesia masih bersifat sukarela. Dengan maraknya bullying di internet, hampir 80 persen siswa di Indonesia mengaku menjadi korban cyberbullying.


BACA JUGA

Jangan biarkan anak kecanduan gadget

Kumpulan Emak Blogger, dari arisan ilmu sampai meyebar konten positif

#GenerasiEmas, kepedulian Antam terhadap literasi digital Indonesia


Pada tahun 2007, sebanyak 49,7 persen siswa di Indonesia mengakui telah di-bully paling tidak sekali atau beberapa kali setiap harinya. Bahkan, pada 2015, sebanyak 84 persen siswa di Indonesia pernah mengalami berbagai macam bentuk kekerasan. Misalnya, kekerasan fisik, seksual, dan lainnya.

JAPELIDI menemukan bahwa pelaku cyberbullying biasanya melakukan atas dasar marah, iri, tekanan dari kelompok, sekedar ingin bersenang-senang, dan menjadikan seseorang untuk bahan bercandaan. Selain itu, maraknya cyberbullying ini menyebabkan rendahnya kepercayaan diri, depresi, cemas, marah, takut, menurunnya prestasi akademik, tergoda narkoba, dan menimbulkan keinginan untuk bunuh diri.

Sebab itu, JAPELIDI selalu mengadakan kegiatan, seperti penelitian, konferensi, publikasi, advokasi, dan melakukan penyuluhan dari satu sekolah ke sekolah lain, tentang bahaya serta dampak dari bullying

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: