Jangan biarkan anak kecanduan gadget

Mari bersama-sama mengawal anak dari kejahatan siber.

Akes internet pada smartphone memang memiliki dampak positif untuk sisi kreativitas anak. Dari internet, anak bisa mengeksplorasi barbagai hal yang bisa menjadi sumber informasi untuk membantu tumbuh kembangnya.

Sayangnya, internet tidak hanya membawa dampak positif. Internet juga memiliki sisi kelam yang justru bisa memberikan pengaruh buruk pada tumbuh kembang anak. Salah satunya adalah maraknya konten negatif yang kian mudah didapatkan saat ini dan kejahatan siber.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Lewat SiBerKreasi, JAPELIDI ajak remaja untuk cegah bullying

Kumpulan Emak Blogger, dari arisan ilmu sampai meyebar konten positif

#GenerasiEmas, kepedulian Antam terhadap literasi digital Indonesia


Karena rasa peduli akan generasi penerus bangsa, beberapa institusi yang tergabung dalam IDCOP menggelar workshop untuk mengkampanyekan pentingnya perlindungan anak dalam ranah digital dan memerangi konten-konten negatif di internet melalui acara SiBerkreasi yang bertempat di JIExpo Kemayoran.

Dampak internet dan teknologi

Salah dampak internet dan teknologi adalah sifat narsistik. Sebagai contoh, dulu orang bisa mengagumi dirinya sendiri hanya dengan menggunakan cermin dan bersifat privat. Hal semacam ini berubah ketika kehadiran smartphone dan aplikasi sosial media mulai menjamur. Tidak ada lagi yang bersifat privasi karena sosial media menjelma menjadi ajang unjuk diri.

Aktivitas yang dianggap umum ini sejatinya memiliki risiko yang mungkin tidak dibayangkan penggunanya. Dengan menggunggah data-data atau foto pribadi, pengguna membiarkan dirinya terekspos dan menjadi sasaran pelaku kejahatan siber.

“Pelaku kejahatan siber sangat lihai dalam menjalankan aksinya,” ujar Diena Haryana, Founder SEJIWA Foundation. “Mereka seringkali menggunakan cara yang sangat-sangat halus untuk meyakinkan korbannya agar terjebak. Intinya, jangan sampai mengirimkan gambar diri ke orang yang baru dikenal begitu saja.”

Banyak sekali kasus yang terjadi karena rendahnya tingkat kesadaran pengguna media sosial. Seperti diungkapkan Andy Ardian, Program Manager dari ECPAT INDONESIA, “Konten porno di internet disumbang oleh pengguna sosial sendiri, terutama yang gemar memasang foto-foto seksi. Pengguna seperti ini yang sering menjadi sasaran kejahatan siber, mulai dari tersebarnya foto pribadi hingga kejahatan seksual.”

Konten negatif meneror anak

Maraknya konten negatif yang tersebar di internet juga mudah dikonsumsi anak. Sedihnya, konten negatif juga mudah didapatkan melalui media sosial. Hanya dengan memasukan kata sensitif, beberapa media sosial dengan senang hati akan memberikannya untuk Anda. Bagaimana jika diakses anak-anak?

Peran orangtua sangat penting untuk memberikan pengertian kepada anak untuk tidak mengkonsumsi konten dewasa. Orangtua sebagai garda terdepan untuk mengawal hal semacam ini, kemudian selanjutnya tenaga pengajar di lingkungan sekolah.

Diena mengatakan, “Konten-konten dewasa bisa menyebabkan kecanduan bagi siapa saja yang sering mengkonsumsi konten tersebut. Yang tidak diketahui oleh anak-anak maupun orang dewasa adalah dampak kecanduan bisa menyebabkan kerusakan pada otak."

Tugas berat orangtua menjaga buah hatinya

Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua untuk menjaga anak dari kecanduan asupan negatif internet. Cara paling mudahnya adalah memberikan mereka pengertian bahwa hal tersebut membawa dampak yang berbahaya untuk masa depan mereka.

Cara selanjutnya mungkin agak sedikit menggunakan kecanggihan smartphone, yaitu dengan mengaktifkan fitur Parental Control pada smartphone. Dengan fitur ini, orangtua dapat menyaring konten apa saja yang bisa dibuka melalui smartphone anak.

“Jika tidak tahu caranya, bawa saja ke gerai resmi smartphone tersebut untuk mengaktifkan fitur tersebut,” ujar Diena.

Menjadi contoh untuk anak, terdengar mudah namun praktiknya tidak begitu. Orangtua diharapkan bisa menjadi contoh yang baik bagi anak untuk menggunakan smartphone dan internet secara bijak dan cerdas. Sayangnya, belum banyak orangtua yang bisa memberi contoh seperti itu, malah tidak sedikit orangtua yang teradiksi gadget cukup parah.

“Ada kasus anak 1 tahun sudah dikasih smartphone. Hal ini karena si orangtua sudah cukup teradiksi dengan smartphone. Ada juga yang memiliki alasan tidak ingin direpotkan dengan tingkah anak,” ujar Diena.

Jika sudah begitu, siapa yang akan menjaga anak ketika menggunakan smartphone dan mengakses internet?

Diena mengajak semua elemen dari yayasan, organisasi masyarakat sipil bahkan melibatkan Pemerintah untuk bersama-sama mengawal anak dari berbagai kejahatan di, dan, atau melalui internet.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: