sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id oppo
Sabtu, 24 Jul 2021 11:53 WIB

Kita adalah Loki di dunia nyata

Serial Loki memiliki fokus terhadap pendalaman karakter Loki yang diceritakan bertemu dengan berbagai variannya dari semesta lain.

Kita adalah Loki di dunia nyata
Credit: Imdb

Dengan dirilisnya episode 6 pada pekan lalu, akhirnya salah satu serial Marvel Comics Universe (MCU), Loki di Disney+ telah usai. Dikabarkan serial ini akan dilanjutkan oleh MCU. Loki yang menjadi tokoh villain dalam MCU, ditampilkan sebagai karakter utama dalam serial ini.

Serial Loki memiliki alur dengan melanjutkan cerita dari peristiwa dimana Loki berhasil kabur dengan membawa Tesseract. Peristiwa ini ditampilkan dalam film The Avengers: Endgame (2019). Kaburnya Loki dengan Tesseract, menciptakan alur lain dengan latar baru disertai pendalaman karakter dari tokoh villain tersebut.

Pada bagian pertama, Loki (Tom Hiddleston) diceritakan berhasil kabur dengan membawa Tesseract di suatu tempat. Loki kemudian ditangkap dan menjadi tawanan dari Time Variance Authority (TVA) karena dinilai telah merusak alur waktu utama (Sacred Timeline) dari realita semesta. Kemudian, ia dibawa ke TVA untuk disidang akibat perbuatannya.

Tapi saat Loki menjalani masa persidangan, ia bertemu dengan Mobius (Owen Wilson) yang merupakan salah satu pekerja di TVA. Mobius menawarkan kerja sama pada Loki untuk menangkap salah satu varian yang telah membunuh beberapa anggota TVA di berbagai alur waktu. Pada bagian ini, kisah besar dari serial Loki pun dimulai.

Mengikuti Loki di awal, membuat saya kebingungan karena terdapat beberapa terma, seperti varian atau TVA yang terdengar asing. Memang benar, saya gemar mengikuti serial film dari MCU tapi bukan penggemar berat darinya, yang sampai mengerti detail dan klenik dari setiap cerita MCU. Meski kebingugan di awal, penjelasan mengenai alur dan latar dari serial Loki ditampilkan pada episode-episode berikutnya.

Jadi jika saya sederhanakan poinnya, Loki sedang berada di TVA (otoritas penjaga alur waktu utama yang berada di semesta lain) dan diminta Mobius untuk menangkap beberapa varian (versi lain dari Loki yang hidup di semesta lain). Dari poin ini, sudah menjelaskan jika MCU ingin menggambarkan bahwa dunia memiliki semesta yang banyak.

Di episode selanjutnya, Loki mulai diperkenalkan dengan varian darinya yang disebut Lady Loki atau memiliki panggilan Sylvie (Sophia Di Martino). Dalam upaya Loki menangkap Sylvie, justru Sylvie mengungkap ke Loki jika TVA bukan sebuah realita. Tempat dan orang-orang yang ada di dalamnya merupakan hasil manipulasi dari si Penjaga Waktu. Informasi ini diketahui Sylvie dari kemampuannya membaca pengalaman dan pikiran orang.

Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menaklukan si Penjaga Waktu yang berkuasa di TVA. Saat proses penaklukan, terungkap jika si Penjaga Waktu bukan entitas hidup, melainkan robot. Setelah menaklukan robot itu, Loki dilenyapkan secara tiba-tiba oleh hakim di TVA, Ravonna (Gugu Mbatha-raw). Sylvie akhirnya menodong Ravonna untuk menjelaskan siapa yang mengendalikan TVA.

Loki yang lenyap itu ternyata terbuang di tempat lain bersama The Void, disana ia menemukan beberapa varian lain dari dirinya, seperti Kid Loki, Crocodile Loki, dan Classic Loki. Kemudian, Sylvie menyusul Loki untuk mencari tahu sosok yang menciptakan TVA dan si Penjaga Waktu. Singkat cerita, akhirnya diketahui jika sosok tersebut adalah He Who Remains (Jonathan Majors), yang tinggal di kastil dalam awan bernama Alioth. Ia mengendalikan Sacred Timeline dari sana. Dalam akhir cerita, Sylvie berhasil membunuh He Who Remains dan TVA menjadi kolaps.

Dengan kematian He Who Remains, semesta diprediksi akan bercabang dan kacau balau. Kisah dalam serial ini dikabarkan akan menjadi latar pembuka bagi film yang akan dirilis MCU, Spider-Man: No Way Home dan Doctor Strange in the Multiverse of Madness.

Selain itu, serial ini juga mengungkapkan beberapa fakta menarik. Ini mulai dari infinity stone yang memiliki kekuatan luar biasa di Bumi tapi ternyata hanya tumpukan batu biasa di TVA. Fakta lain mengungkap jika Loki masih punya perasaan lembut dan kasih sayang. Kemudian, terungkap juga jika Loki merupakan tokoh biseksual. Fakta berikutnya adalah semua varian Loki memiliki sifat yang serupa, yaitu suka dengan kekuasaan dan menipu.

Selain fakta, masih banyak lagi teori yang bertebaran terkait kisah dari serial Loki. Ini seperti penjelasan mengenai He Who Remains merupakan varian lain dari Kang the Conqueror. Ada pula teori yang menyebut jika Ravonna memiliki hubungan spesial dengan He Who Remains.

Membahas film MCU memang tidak ada habisnya, selalu ada fakta dan teori yang diproduksi oleh para fans. Ini sepertinya yang membuat film MCU selalu laris di pasaran. Terlepas dari fakta dan teori di atas, menonton serial Loki telah membuat saya bertanya-tanya, “Apakah sebenarnya saya memiliki realita lain di waktu yang sama, dengan semesta yang beda?”.

Dalam kajian ilmu sosial, sebenarnya proses produksi realita berbeda di waktu yang sama telah terjadi di era perkembangan teknologi saat ini. Anda bisa menemukan ini di beberapa tema yang mengulas terkait modernitas. Berdasarkan paparan dari Anthony Giddens dalam bukunya yang berjudul The Consequences of Modernity dan Modernity and Self Identity, menyebut jika kehadiran teknologi telah mengoyak realita dari seseorang. Perkembangan teknologi mampu menciptakan realita baru di semesta yang berbeda bagi semua orang. Jadi, seseorang bisa hadir secara bersamaan dalam semesta atau ruang dengan tubuh atau identitas yang berbeda. Dengan identitas yang berbeda itu, di ruang yang berbeda, pada akhirnya menciptakan realita baru bagi orang tersebut.

Jadi jika diabstraksikan secara sederhana, fenomena Loki dengan berbagai variannya itu sama seperti saat seseorang berinteraksi di sosial media. Realita dalam ruang sosial media sangat berbeda dengan dunia nyata. Giddens mencatat jika realita di ruang tersebut bisa menciptakan pola interaksi dengan standar intimasi yang berbeda. Maksudnya, semisal ketika Anda berada di sosial media, Anda bisa menjadi diri Anda yang lain untuk menciptakan realita dari interaksi yang berusaha dibangun.

Menurut saya, semesta yang dihasilkan dari perkembangan teknologi, seperti sosial media, merupakan percabangan lain dari semesta lain di dunia nyata. Dengan percabangan semesta seperti itu, akhirnya kita dapat memiliki identitas atau tubuh lain, yang menjadi realita berbeda dari dunia nyata. Fenomena seperti ini terekam dengan jelas bagaimana di serial Loki, ia memiliki varian yang memiliki identitas dan realita yang berbeda, di semesta yang berbeda.

Di tengah gempuran perkembangan teknologi, menurut saya, kita akan mampu memiliki identitas yang berbeda seperti varian Loki. Identitas itu untuk menyesuaikan dengan semesta yang ada dan semakin beragam. Di semesta seperti sosial media, kita bisa memiliki varian beragam yang terjadi pada waktu bersamaan dengan realita yang berbeda.

Share
×
tekid
back to top