China Kembangkan Tangan Robot dengan Indra Peraba Mirip Manusia
China semakin serius melakukan inovasi di dunia robotik dengan menyiapkan robot yang memiliki fitur indra peraba layaknya manusia.
Ilustrasi tangan robot. dok. Freepik
Peneliti dari Zhejiang University, China, berhasil mengembangkan tangan robot fleksibel yang mampu merasakan tekanan, suhu, hingga bentuk objek seperti tangan manusia.
Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan kemampuan robot dalam melakukan pekerjaan presisi, mulai dari tugas rumah tangga hingga perakitan produk industri.
Tangan robot bernama FlexiRay tersebut diperkenalkan sebagai solusi atas keterbatasan sensor sentuh pada robot konvensional. Hasil penelitian dan pengembangan robot ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications.
Selama ini, sebagian besar tangan robot mengandalkan sensor visual-taktil berbasis kamera kecil untuk membaca perubahan permukaan.
- Tidak Mau Repot Urus Hewan Peliharaan? Robot Anjing Ini Bisa Jadi Solusi
- Ascentiz Kenalkan Eksoskeleton Modular H+K di CES 2026
- Strategi Global AiMOGA Robotics Bakal Wujudkan Sinergi Manusia, Kendaraan, dan Robot Humanoid
- Siloam Hospitals Hadirkan Robot Bedah Otak Pertama di Indonesia, Era Baru Neuroscience Indonesia
Namun, metode tersebut membutuhkan material kaku agar kamera berfungsi optimal, sehingga mengurangi fleksibilitas saat memegang benda rapuh atau berbentuk tidak beraturan.
Selain itu, pergerakan jari robot kerap menimbulkan area tak terpantau atau blind spot.
FlexiRay dirancang dengan terinspirasi dari struktur tangan manusia dan fin ray effect, yaitu mekanisme yang memungkinkan jari robot secara otomatis menyesuaikan bentuk saat bersentuhan dengan objek.
Hal ini membuat proses menggenggam menjadi lebih stabil dan alami.
Keunggulan utama FlexiRay terletak pada sistem optik multi-mirror di bagian dalam jari.
Saat jari robot mengalami deformasi, seperti menekuk atau memutar, sistem tersebut menyesuaikan sudut pandang kamera sehingga tetap dapat memantau area yang biasanya tertutup.
Dengan sistem ini, kamera dapat mempertahankan pandangan yang berkelanjutan meski robot menggenggam objek dengan bentuk tidak beraturan.
Selain itu, lapisan luar FlexiRay dibuat dari material berlapis yang mampu berubah warna sesuai suhu dan memantulkan cahaya.
Didukung algoritma deep learning, FlexiRay dapat mereplikasi lima kemampuan sensorik manusia hanya dengan satu kamera, yakni mendeteksi gaya tekan, lokasi sentuhan, tekstur permukaan, suhu, serta kesadaran posisi diri.
Dalam uji awal, teknologi ini mencatat cakupan sensor lebih dari 90 persen meski jari mengalami deformasi signifikan.
Penulis utama penelitian, Dong Huixu, mengatakan pendekatan ini menandai perubahan penting dalam pengembangan sensor robot.
“Pencapaian paling menonjol dari penelitian kami adalah perubahan paradigma dari menghindari deformasi menjadi memanfaatkan deformasi. Kami menunjukkan bahwa jari robot dapat mengalami deformasi besar untuk mencengkeram dengan aman tanpa mengorbankan kemampuan sensoriknya,” ujar Dong.
Ke depan, teknologi ini berpotensi diterapkan dalam penanganan produk pertanian yang mudah rusak, pengemasan barang dengan ukuran tidak seragam, serta integrasi dengan kecerdasan buatan agar robot dapat mempelajari keterampilan motorik langsung dari manusia.









