Review Apex Legend, perpaduan antara PUBG dan Fortnite

Saat saya memainkan gim ini, rasanya seperti memainkan Fortnite tanpa membangun ditambah dengan kemampuan spesial.

Review Apex Legend, perpaduan antara PUBG dan Fortnite Apex Legends

Demam gim battle royale masih berlanjut seiring hadirnya sejumlah gim baru. Salah satu yang cukup populer di Indonesia adalah PUBG. Saya menyukai PUBG karena gameplay-nya yang cukup realistis. Ia berbeda dengan gim populer lain, yakni Fortnite, yang kurang cocok untuk saya.

Sekira dua minggu lalu, beberapa teman menyarankan agar saya mencoba Apex Legends. Awalnya, saya tak tertarik. Namun, setelah mengetahui pengembang gim tersebut, Respawn, saya mulai tertarik.


BACA JUGA

Far Cry New Dawn, cerita post apocalyptic yang penuh dengan warna

Galaxy M20, mirip smartphone China

Asus VivoBook Pro F570, perpaduan ciamik AMD dan Nvidia


Saya salah satu penggemar berat gim Titanfall. Jadi, saya berharap cukup banyak dari gim terbaru mereka ini. Apa lagi, saya melihat bahwa jalan cerita dari gim ini terpisah 30 tahun dari Titanfall 2.

Ketertarikan saya semakin dalam setelah mengetahui bahwa gim tersebut gratis. Untuk memainkannya, gamer harus mengunduh game launcher milik Origin. Kalau sudah punya gim lain dari Origin, Anda hanya harus mengunduh gim ini. Jangan lupa untuk menyediakan kuota 22GB.

Spesifikasi peranti keras untuk memainkannya terbilang rendah. Komputer tua saya: dengan prosesor Intel Core i5, RAM 16GB serta GPU Nvidia GTX 660 dapat bermain di pengaturan medium di resolusi 1080p. Hasilnya, saya bisa bermain di atas 60FPS.

Di beberapa laptop gaming terjangkau, yang memiliki prosesor Intel Core i5 generasi terbaru atau prosesor AMD Ryzen 5 generasi terbaru, dipadukan dengan GPU Nvidia 1050ti Max-Q,  sudah lebih dari cukup untuk bermain di resolusi 1080p medium untuk mendapatkan 70 FPS, atau 30-40 FPS di pengaturan high.

Pertama kali masuk, saya harus melewati bagian tutorial. Bagian ini jangan sampai Anda lewatkan karena mengajarkan bagaimana cara bergerak dan bertahan hidup.

Sebenarnya, tidak ada perbedaan terlalu jauh antara Apex Legends dan Fortnite jika berbicara mengenai tombol apa yang harus ditekan. Namun, entah mengapa saya merasa ada perbedaan besar saat bermain gim ini.

Fortnite membutuhkan konsentrasi untuk membangun dan menembak secara bersamaan. Di gim ini, saya harus fokus menembak sambil mengeluarkan kekuatan spesial. Ya, dalam gim ini, setiap karakter memiliki kekuatan spesial yang berbeda.

Nah, karena sudah menyinggung soal karakter, saya akan menceritakan sedikit kedelapan karakter yang ada di dalam gim tersebut. Kedelapan karakter tersebut, yakni adalah Bangalore, Mirage, Wraith, Gibraltar, Caustic, Lifeline, Pathfinder, dan Bloodhound.

Mereka terbagi menjadi tiga kategori umum, seperti karakter ofensif seperti Bangalore, Mirage, dan Wraith. Ada juga kategori defensif yang dihuni oleh Gibraltar dan Caustic. Sementara Lifeline, Pathfinder, dan Bloodhound termasuk dalam kategori support.

Saya pun secara pribadi sangat menyukai karakter Gibraltar dan Caustic. Di setiap gim yang saya mainkan, saya selalu menyukai karakter yang berdarah tebal atau memiliki kemampuan untuk berlindung.

Senjata dalam gim ini pun cukup beragam. Ada Assault Rifle, Submachine Gun, Light Machine Gun, Sniper Rifles, Shotgun, dan Pistol. Secara total, ada 20 senjata yang bisa ditemukan, baik di lantai maupun di dalam kotak.

Nah, untuk senjata, saya tidak memiliki preferensi senjata tertentu. Namun, kebanyakan, saya memilih senjata kategori Submachine Gun atau shotgun. Kalau digabungkan dengan karakter defensif, saya pun tak mudah mati saat berperang jarak dekat.

Gamer pun dapat melakukan kustomisasi terhadap senjata dan gerakan dari karakter mereka. Menurut saya, kedua hal ini tidak terlalu penting. Namun, ada saja orang yang ternyata menyukai hal-hal seperti itu.

Pemilihan karakter pun tidak akan terjadi sebelum kita masuk ke dalam lobi gim. Tidak seperti Fortnite dan PUBG yang membutuhkan empat pemain untuk memulai gim, Apex Legends hanya membutuhkan tiga orang saja.

Saat pemilihan karakter pun, para gamer harus untung-untungan untuk mendapatkan posisi memilih karakter. Beberapa orang merasa hal ini merupakan hal yang penting. Namun bagi saya tidak terlalu masalah karena sangat jarang orang yang mau bermain menggunakan karakter defensif.

Ketika bermain dengan orang asing, saya melihat ada tiga karakter yang sangat sering digunakan. Dua karakter merupakan tipe ofensif, yakni Wrath dan Bangalore. Sementara satu karakter lain adalah Bloodhound.

Setelah terkumpul 20 tim, permainan akan dimulai secara otomatis. Keluhan pertama saya mengenai gim ini pun langsung muncul. Tidak ada pilihan peta, sama persis dengan saat saya bermain Fortnite.

Pakem battle royale pun diadaptasi 100 persen oleh Respawn. Saya sebenarnya tak mau banyak komplain, tapi saya mengharapkan ada sesuatu yang segar. Jadi, saya harus puas melihat adegan melompat dari pesawat, dan terus bergerak untuk tetap ada di zona permainan.

Setelah terbang dan menentukan lokasi untuk turun, saya pun harus mencari senjata di lantai atau di kotak-kotak khusus. Pergerakan di gim ini pun berada di tengah-tengah Fortnite dan PUBG.

Karakternya masih terasa seperti karakter animasi seperti Fortnite. Tapi, ada rasa ‘kelam’ di arena pertarungan, seperti saat bermain PUBG. Meski begitu, yang membuat gim ini terasa berbeda adalah pengaturan peta yang berada di daerah industrial.

Saya pun dapat memanjat bangunan untuk mencari senjata atau mencari posisi untuk menyerang musuh. Pencarian "armor" untuk melindungi badan serta "shield" untuk melindungi diri menjadi hal yang wajib.

Mencari attachment untuk senjata juga bukan perihal mudah. Biasanya, attachment untuk senjata tersebar di berbagai tempat. Saya pun harus berebut dengan teman sejawat saat melihat ada attachment, terutama scoop.

Bergerak di Apex Legend juga berbeda dari Fortnite dan PUBG. Saya dapat melakukan ‘power sliding’, yang dapat membantu saya bergerak dengan lebih cepat. Saya juga dapat memanjat tiang untuk kemudian terbang untuk mencapai lokasi lain. Oh iya, karakter saya pun tidak terkena damage pada saat jatuh dari tempat tinggi.

Hit box dalam gim ini pun terasa cukup aneh. Seketika saya menembak terlampau kiri, karakter musuh terkena damage. Sementara saat saya menembak badan, mereka baik-baik saja. Tapi, setelah seminggu bermain, saya sudah terbiasa dengan mekanisme ini.

Ingat saat saya menyebut bahwa bagian tutorial sangat penting? Saran saya, sering-seringlah bermain di mode ini untuk mengingat pola tembakan masing-masing senjata. Saya pun menghabiskan sekitar empat jam hanya untuk menemukan pola tembakan sebelum bermain secara serius.

Oh ya hampir terlupa. Saat melakukan looting, ambil banyak-banyak item first aid kit. Bukan hanya untuk Anda, namun pastikan di dalam tas terdapat cukup item penambah darah untuk teman satu tim. Percaya kepada saya, hal ini sangat penting.

Dalam bermain, kita pun dituntut untuk melakukan kerja sama. Beberapa kali, saya bermain terpisah dari tim. Alhasil, tidak sampai 5 menit, saya pun mati.

Mempelajari cara penggunaan skill di waktu yang tepat pun menjadi kunci kemenangan. Seminggu saya bermain, saya tidak pernah menang karena tidak tahu kapan harus menggunakan skill. Tapi, setelah menguasainya, saya pun sering menang.

Ada sesuatu hal yang unik pada saat bermain gim ini. Saat kita berada di beberapa bangunan, terdapat banner yang menunjukkan tim kita.

So, apakah saya merekomendasikan gim ini? Bagi Anda yang suka bermain gim battle royale, Apex Legends merupakan sebuah angin segar di tengah-tengah pertempuran PUBG dengan Fortnite. Selain itu, ada beberapa fitur baru, yang membuat saya cukup betah memainkan gim tersebut.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: