Xiaomi dan realme! kalian harus baca laporan keren ini

Mi Fans merupakan benteng pertahanan terakhir Xiaomi di Indonesia. Tanpa Mi Fans yang loyal, Xiaomi tidak akan jadi vendor smartphone lima besar di Tanah Air.

Xiaomi sudah berkiprah di Indonesia sejak 2014. Namun, sebelum resmi ke Indonesia, Xiaomi sudah punya basis penggemar terlebih dahulu di Tanah Air, yakni pengguna MIUI. MIUI punya forum mandiri di internet.

Perjalanan Xiaomi hingga menjadi lima besar pemain smartphone Tanah Air tidak mudah. Berdasarkan catatan tek.id, baru pada kuartal kedua (Q2) 2017, Xiaomi memperoleh pangsa pasar yang signifikan, yakni sebesar 3%. Lompatan besar terjadi pada akhir 2017-2018. Pada Q2 2018, Xiaomi mampu mencapai pangsa pasar 25%, dan menjadi vendor kedua di bawah Samsung.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Pocophone rilis minggu depan, pakai nama Poco X2

Android 10 akan hadir di Redmi 8A

Pilih mana? Xiaomi kerjasama dengan Canon, Nikon atau Hasselblad?


Fluktuasi pangsa pasar Xiaomi di Indonesia dipengaruhi oleh ketersediaan produk mereka di Tanah Air. Dalam masa keemasannya, di 2018, Xiaomi resmi memperkenalkan 12 model smartphone sepanjang tahun. Sementara itu, di periode sebelum-sebelumnya, Xiaomi tidak pernah merilis lebih dari 10 perangkat ke Tanah Air. Ajaibnya, selama masa kekosongan produk Xiaomi di pasar, ada yang tak kendur dari penantian, yakni Mi Fans.

Xiaomi memang besar dari akar rumput. Mi Fans selalu menunggu kehadiran produk baru Xiaomi dan siap menjaga garda depan menghalau segala isu negatif yang menerpa Xiaomi.

Keterlibatan Mi Fans dalam proses pembuatan produk menjadi salah satu pengikat di antara merek Xiaomi dengan penggemarnya ini. Masukan Mi Fans selalu menjadi acuan pembuatan produk baru dan Xiaomi pun menyediakan F-Code kepada Mi Fans, supaya bisa membeli produk terbaru di mi.com. Xiaomi pun selalu memberi kesempatan kepada Mi Fans untuk mencoba produk terbaru sebelum rilis ke pasar. Penggemar beruntung ini biasanya disebut Mi Explorer.

Dari catatan dua tahun terakhir, Mi Fans bertumbuh dari 300 ribu anggota di 2017, menjadi 1.564.243, per November 2019. Semua kegiatan yang terkait dengan Mi Fans ini, terkait dengan aktivitas media sosial yang proaktif.

Kami mengukur performa Facebook Fan Page resmi Xiaomi Indonesia dari 29 Agustus- 27 November 2019. Hasilnya, pengikut Fan Page Xiaomi Indonesia sangat aktif berkomentar di dalamnya. Posting-an pengikut pun tak kalah banyaknya dengan posting-an admin.

Aktivitas tertinggi pun meninggi ketika Xiaomi melakukan promo produk terbaru mereka, seperti saat promo Redmi Note 8 Pro pada 7 November lalu. Index performa media sosial mereka mencapai angka 91 pada tanggal tersebut, jauh melebihi rata-rata index performa bulanan yang mencapai 39.

Sentimen mengenai pembicaraan produk terbaru Xiaomi pun didominasi hal positif. Pada periode tersebut, jumlah pembicaraan terkait Redmi menjadi yang tertinggi, melebihi percakapan seputar produk Xiaomi yang lain, seperti Mi, ataupun Pocophone. Hanya saja, ternyata penggemar Xiaomi lebih banyak berdiskusi tentang Mi Note.

Padahal, produk ini tak pernah benar-benar meluncur resmi ke Indonesia selama Xiaomi berkiprah di Tanah Air. Jumlah percakapannya menyaingi percakapan tentang Redmi sebagai produk favorit Xiaomi di Indonesia. 

Lebih lanjut, secara tone, 63,2% (25.290) bernada netral, 10,2% (4.069) berkomentar dengan nada percaya pada Xiaomi. Hanya saja, masih ada yang berkomentar dengan nada negatif. Pada analisa emosi komentar audience, menggambarkan bahwa, 5,6% (2.223) bernada disgust, karena banyak yang melontarkan tanggapan soal prosesor MediaTek yang dianggap kurang bagus untuk gim. Kedua, ponsel Xiaomi dianggap tak laku atau turun harga secara drastis saat dijual kembali.

Menariknya, ketika kami melihat lebih jauh lagi mengenai demografi audiens di Fan Page Facebook Xiaomi Indonesia, kami menemukan bahwa usia pengikut Xiaomi di Facebook di antara 22-30 tahun. Jumlahnya 79.392. Status perkawinan pengikut Xiaomi di Facebook juga masih banyak yang melajang. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari yang menikah. Mayoritas juga mengenyam pendidikan di bangku perkuliah, dan 80,92% di antaranya laki-laki.

Dengan begitu, bisa disimpulkan, target konsumen produk Xiaomi adalah, pria muda penggemar gadget yang senang dengan produk yang memiliki value to price tinggi.

Index performa Fan Page Xiaomi lebih baik daripada Realme, berdasarkan jumlah audiens yang berkomentar. Hampir segala persepsi emosi dalam percakapan audiens kedua Facebook Fan Page resmi tersebut didominasi oleh Xiaomi. Terkecuali pada komentar bernada fear yang didominasi Fan Page Realme. Di dalam komentar bernada fear tersebut, banyak yang membahas soal jarak waktu perilisan produk terbaru realme di pasar. Padahal, audiens baru saja membeli produk realme sebelumnya. Realme mungkin perlu memperhatikan hal ini kalau ingin punya komunitas yang loyal.

Membandingkan jumlah percakapan soal produk Xiaomi dan Realme di Facebook, jumlahnya masih lebih banyak yang membahas Redmi daripada realme. Kepopuleran hashtag Xiaomi juga menang jauh daripada hashtag realme di Facebook. Namun, perlu dicatata bahwa realme baru berumur setahun di Indonesia.

Perilaku audiens kedua brand juga berbeda. Kami menemukan bahwa Xiaomi memiliki akun yang loyal, yakni akun yang hanya berkomentar di Fan Page Xiaomi, jumlahnya terbilang luar biasa, yakni sebesar 192.774.

Penyebaran akun pengikut Xiami juga merata dan mendominasi ketika dibandingkan dengan pengikut Realme di Facebook. Berikut data perbandingannya.

Dari paparan di atas, bisa kami simpulkan bahwa, Xiaomi dengan sukes membangun fan base sebelum mereka meluncurkan produk di Tanah Air. Ini sesuatu yang jarang dilakukan produk atau brand lain. Dengan menciptakan pangsa pasarnya sendiri, serta membina komunitas penggemar mereka dengan baik, masa-masa berat Xiaomi bisa terlampaui tanpa harus takut kehilangan pangsa pasar.

Ingat, pada kurun 2016 lalu, Kementerian Perindustrian mengeluarkan kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) hingga kini. Aturan tersebut memaksa vendor smartphone yang memiliki dukungan jaringan 4G harus menyertakan komponen buatan dalam negeri dalam perangkat mereka dalam jumlah yang sudah ditentukan pemerintah. Persentase kandungan dalam negeri harus memenuhi kuota 30% saat produk tersebut rilis di pasar Tanah Air, baik dari sisi hardware, software atau investasi.

Peraturan ini menelan tak sedikit korban, seperti OnePlus dan Coolpad yang menghilang dari peredaran karena enggan memenuhi aturan TKDN. Xiaomi memilih untuk memenuhinya.

Kendati begitu, lagi-lagi harus kita akui, Xiaomi berhasil merawat basis pendukung yang juga sekaligus target pasar mereka di Tanah Air. Kami masih ingat, ada banyak vendor yang gagal mempertahankan ataupun mengembangkan basis penggemar mereka di Indonesia, sehingga harus hengkang karena bertarung dengan vendor-vendor yang lebih "kaya".

Saat masa TKDN berlaku, kompetisi di pasar smartphone Indonesia mengendur, namun Mi Fans masih setia menunggu come back Xiaomi dan terbukti berhasil membawa Xiaomi kembali ke papan atas. Saat ini, yang masih bertahan dan merintis komunitas mereka praktis tinggal Infinix dengan membina XClub mereka di daerah-daerah.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: