Personal tek

Nasib Pay TV di Indonesia: hidup susah mati tak mau

Operator Pay TV di Indonesia ketinggalan zaman. Saat pemain OTT menawarkan kebaruan dan kemudahan, mereka masih menawarkan perangkat jadul.

Nasib Pay TV di Indonesia: hidup susah mati tak mau

Persaingan untuk merebut perhatian penonton televisi (TV) di lingkup global kian sengit seiring dengan melejitnya popularitas pemain-pemain baru. Netflix, misalnya, walaupun lahir dan besar di Amerika Serikat, ternyata sukses ekspansi ke pasar internasional, termasuk Indonesia, dalam waktu cepat. Walupun begitu, ia tak bermain sendirian karena di saat yang sama juga muncul pendatang baru dari para raksasa, seperti Disney, Amazon, Apple, dan perusahaan regional Asia. 

Fenomena ini, selain mengubah lanskap industri televisi, juga mengubah wajah masa depan layanan hiburan sebagaimana yang kita kenal selama ini. Lalu, bagaimana masa depan operator televisi berlangganan (Pay TV) di Tanah Air? 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Lebih baik dari OLED, teknologi TV MicroLED akan jadi mainstream

Sony luncurkan TV 8K 98 inci seharga mobil mewah

Sony pamer layar beresolusi 16K


Tantangan utama para operator adalah akuisisi pelanggan baru. Mengutip data Statista, jumlah pelanggan Pay TV di Indonesia pada tahun 2022 diperkirakan hanya 12,62 juta. Padahal, potensinya sebetulnya sangat besar, mengingat jumlah rumah tangga di Indonesia mencapai 64 juta. Kajian Asia Video Industry Association (AVIA) pada tahun 2018 menyebutkan, penetrasi Pay TV hanya 5 persen. Padahal, pemainnya sudah tergolong cukup banyak: 17 operator. Tetapi, permintaan pasar tergolong tersendat. Jumlah pelanggan yang betul-betul berlangganan Pay TV pada tahun 2014 hanya 2,29 juta. Sedikit berbeda dengan AVIA, PT Link Net Tbk dalam laporan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia tahun 2014 menyebut, terdapat 3,1 juta pelanggan Pay TV di Indonesia pada tahun 2013.

Lepas dari perbedaan angka ini, tak bisa dibantah bahwa peneterasi Pay TV di Tanah Air masih tergolong kecil. Kajian AVIA menemukan, operator Pay TV sulit menyaingi televisi free-to-air yang ketersediaan layanannya masih bagus, dan juga merebaknya pencurian konten melalui pemasangan kabel ilegal, serta kompetisi ketat antar-operator Pay TV sendiri.

Posisi operator Pay TV kian terjepit dengan kehadiran layanan Over The Top (OTT), dan munculnya generasi Z yang gaya hidupnya lebih banyak bersandar kepada koneksi internet. Layanan OTT yang sudah akrab di telinga banyak orang, misalnya, Netflix, dan Disney+ yang belum lama ini dirilis Disney. Di lingkup regional, kita mengenal Hooq, iFlix, dan Viu, yang menggandeng operator telekomunikasi untuk menawarkan layanannya.

Di sisi lain, pperator Pay TV belum menemukan formula tepat untuk mencegah orang berhenti berlangganan dan beralih ke layanan berbasis internet (cord cutting) atau merayu orang yang belum pernah berlangganan layanan video multichannel (cord never). Oleh karena itu, tak heran jika MNC Sky Vision yang menguasai 60 persen pangsa pasar Pay TV di Indonesia, pada tahun 2017, dengan 2,5 juta pelanggan, masih mengalami kerugian.

Layanan OTT memiliki banyak keunggulan. Selain konten beragam dan bagus, pemasangannya juga enggak perlu ribet karena tak butuh antena, dekoder, dan tetek bengek lainnya. Pelanggan bisa langsung menikmati layanan OTT hanya dengan pencet-pencet di gawai mereka. Harganya pun lebih murah.

Aneesh Rajaram, CEO Vewd (sebelumnya bernama Opera TV), dalam wawancara eksklusif dengan tek.id, beberapa waktu lalu, mengatakan, generasi Z memang sangat tertarik untuk mengkonsumsi konten di perangkat mobile. Karena itu, operator Pay TV sudah seharusnya melakukan perubahan strategi untuk memikat generasi ini.

Aneesh mencontohkan, langkah Linknet dengan menawarkan Pay TV sepaket dengan OTT melalui dekoder yang sudah dilengkapi Android TV adalah hal bagus.

“Tetapi MNC belum melakukannya. Mereka masih menawarkan legacy software, dan legacy set top box. Ini bisa jadi ancaman bagi mereka karena secara global, provider Pay TV kehilangan pelanggan. Ada tren serupa di Indonesia,” katanya.

MNC sendiri sebenarnya tidak tinggal diam. Pada Mei 2019, mereka mengumumkan telah menyuntik dana ke iFlix, dan memungkinkan layanan tersebut untuk menyiarkan 10.000 jam konten unggulan dari MNC.

Ihwal layanan yang sudah ketinggalan zaman, operator Pay TV sebenarnya memiliki banyak alternatif. Salah satunya termasuk menggandeng mitra seperti Viewd. Layanan yang sebelumnya bernama Opera TV ini menyediakan aplikasi berbasis cloud untuk dipasangkan pada TV pintar atau set top box. Dengan demikian, pelanggan Pay TV bisa dengan mudah mengakses layanan OTT dari perangkat mereka. 

Vewd sendiri sudah menjalin kerja sama dengan ratusan perusahaan penyedia konten di seluruh dunia, termasuk iFlix. "Kami menyadari perubahan konsumen yang ingin menikmati Pay TV dan OTT dalam satu device. Beberapa produsen televisi, seperti Sony, Hisense, TCL, sudah memungkinkan OTT di TV mereka," kata Aneesh.

Menggandeng mitra berskala global dan punya pengalaman serupa di banyak negara cukup masuk akal. Dengan demikian, operator Pay TV bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan terbaru, utamanya memenuhi kebutuhan konsumen yang kebiasaannya juga berbeda dengan generasi sebelumnya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: