Lazada punya 1.000 pasukan influencer saat promo 11.11

Menarik melihat data Lazada yang memanfaatkan seribu influencer dan efeknya ke penjualan.

Lazada punya strategi khusus ketika menggelar pesta belanja tahunannya, 11.11. Tahun ini, mereka punya lebih dari seribu influencer yang mendominasi media sosial. Bombardir media sosial ini merupakan parade foto, video, boomerang, live stremaing, dan Instagram Stories terbesar yang pernah mereka lakukan di kawasan Asia Tenggara.

Kekuatan seribu lebih influencer ini menjangkau lebih dari 255 juta pemirsa media sosial. Lebih dari 2,5 juta engagement pun tercipta dari aktivasi ini.

Pada Sabtu (11/11) lalu, Lazada memecahkan rekor penjualan tertinggi mereka. Gross Merchandise Value (GMV) Lazada membukukan rekor lebih dari Rp1,6 triliun, naik 171 persen jika dibandingkan pada hari yang sama 2016 lalu.

Selama 11 November kemarin, Lazada mencatat lebih dari 6,5 juta barang pesanan di 6 negara operasional kawasan Asia Tenggara.

Lazada menyebut, angka pesanan itu mengalami peningkatan 191 persen dari 2016 silam. Salah satu produk favorit konsumen adalah ponsel, diikuti oleh popok dan fesyen wanita. Sebanyak 70 persen pemesanan dilakukan melalui smartphone.

Lazada dan kompetitor

Bila dibandingkan dengan aktivasi kampanye online dengan empat e-commerce besar lainnya di tanggal yang sama (11/11), Lazada memang unggul. Namun, belum ada keterangan resmi dari e-commerce lainnya, apakah menggunakan strategi serupa atau cara-cara kampanye yang berbeda.

Dari siaran pers yang kami terima, Lazada bekerjasama dengan IconReel untuk menciptakan gelombang kampanye ini. Bukan pertama kalinya IconReel bekerjasama dengan Lazada. Sebelumnya, dalam kampanye Cerita Belanja Lazada, IconReel juga berperan sebagai mitra influencer marketing mereka.

Kekuatan influencer

Pada Januari lalu, data survei DI Marketing yang diikuti 500 pengguna internet di Indonesia menunjukkan, 71 persen konsumen online membeli produk setelah melihat influencer. Ini membuktikan, influencer marketing merupakan strategi yang ampuh dan mampu membangun loyalitas.

DI Marketing juga pernah meneliti soal penggunaan jejaring sosial di Indonesia. Pada Juli kemarin, mereka menemukan data persepsi pengguna terhadap iklan di media sosial.

85 persen warganet di Indonesia sering melihat iklan di media sosial. 49 persen menyukai iklan tersebut. 93 persen mencari informasi di Fanpage sebuah brand. 74 persen membeli di media sosial. Baju, sepatu, dan tas punggung merupakan tiga barang yang seringkali mereka beli di media sosial.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: