Ketika media sosial kita tengah sakit

Indonesia punya 130 juta pengguna media sosial yang aktif. Sayang kita kurang sehat menyikapi media sosial.

Ketika media sosial kita tengah sakit source image : pexel

Lugina Setyawati Setiono, telah berkeliling ke empat kota besar di tanah air, Jakarta, Bandung, Medan, dan Makasar. Tujuannya untuk meneliti perilaku masyarakat perkotaan dalam berinteraksi dan memanfaatkan media sosial (medsos). Sosiolog dari Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia itu mendapatkan hal yang mencengangkan.

Ternyata Generasi Y di rentang usia 18-22 tahun, memiliki kemampuan yang minim dalam menyaring informasi yang benar di internet. Setiap informasi yang mereka terima telah mereka anggap kredibel, meski sumber beritanya bukan dari portal media resmi.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Instagram uji coba sembunyikan fitur like minggu depan

Caption Instagram untuk pesta Halloween

Instagram dorong pengguna untuk hentikan bullying


Oleh karena itu, dalam presentasinya di ForuMedsoSehat (16/12), Lugina sangat menekankan kebutuhan Literasi Digital di masa seperti ini. Bahkan ia menganggap, Literasi Digital saja tidak cukup. Kita perlu membangun kesadaran dan kemampuan untuk menyaring informasi digital agar tidak terseret arus misinformasi.

Kira-kira ada 130 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia saat ini, menurut data We Are Social 2018. Rata-rata 3 jam 23 menit warganet Indonesia menghabiskan waktu bersama medsos. Oleh karena itu tidak heran arus utama informasi kini beredar di internet. Padahal aneka agenda di internet sangat banyak, mulai dari agenda korporasi, sampai politik.

Jeffry Dinomo, Founder DGI Lab sekaligus jurubicara ForuMedsoSehat, mengatakan, "Secara volume pemberitaan di medsos jauh lebih besar dari pemberitaan media arus utama,"

Hal tersebut wajar, mengingat kini pemilik akun medsos pun bisa memproduksi konten. Hanya saja, apa yang jadi tren di media sosial bisa jadi bahan berita bagi media arus utama. Padahal belum tentu isu tersebut layak muat dan dianggap penting bagi publik.

Katakanlah isu petisi iklan Shopee yang dibintangi grup Korea Selatan, BlackPink. Isu ini membuat bentrok di medsos antara penggemar grup musik Korea dengan seorang perempuan paruh baya, Maimon Herawati. Isu ini melibatkan 1.008 akun Twitter, memproduksi 1423 tweet, dan tidak kurang dari 10 hashtag tercipta seputar percakapan tersebut.

ForuMedsoSehat menyimpulkan bahwa isu ini tidak besar. Meski begitu media online arus utama mengangkat beritanya dan turut mengamplifikasi isu ini.

Forum ini sendiri adalah inisiasi untuk memonitor percakapan di medsos yang dimotori oleh Politica Wave, GDI Lab Jakarta, BFI Technologies Bandung , serta tek.id. Forum ini terbuka bagi lembaga lain yang menaruh konsen terhadap isu-isu yang berkembang di medsos.

Ketika semuanya dikaitkan politik

17 tahun Persija ahirnya juara lagi. 9 Desember 2018, kemenangan Persija ini pun turut ramai di medsos sehingga menjadi trending topic #PersijaDay. Isu ini lebih besar daripada isu iklan Shopee sebelumnya. 23.939 akun terlibat, melahirkan 115.974 tweet.

Uniknya, isu ini  ditunggangi isu politik. Dari data yang dikumpulkan ForuMedsoSehat, ditemukan kluster pendukung Gubernur Anies Baswedan dan paslon Prabowo-Sandi di dalam percakapan. Sebagian pendukung Persija (38,4%) merasa kecewa karena euforia mereka ditunggangi unsur politik. Kendati begitu, perilaku percakapan di isu ini terbilang natural.

Perilaku menuggangi isu yang sedang tren ini memang sedang marak. Isu politik tidak surut, bahkan meningkat jelang Pilpres 2019.

Sejak bulan April, ForuMedsoSehat menemukan terjadi peningkatan pembuatan akun baru. Ada hubungannya antara pembuatan akun baru ini dengan momentum Pilpres 2019. Eskalasinya terus meningkat dari bulan Agustus yang meningkat 20% dari periode April, Oktober +60% dari periode Agustus, dan Desember.

Temuan ini berdasarkan data akun baru pendukung paslon yang memiliki pengikut di bawah 50 dan usianya yang kurang dari enam bulan. Di medsos, percakapan politik antara dua kubu ini mendominasi platform. Volume percakapannya sangat besar. Ada 55.620 akun yang terlibat dan menciptakan 206.907 percakapan di Twitter.

Perilaku percakapan pendukung kedua paslon pun berbeda di medsos. Pembicaraan positif pada Jokowi-Ma'ruf lebih tinggi daripada pendukung Prabowo-Sandi di medsos. Kendati begitu, saat membicarakan hal negatif mengenai kubu lawan, kedua pendukung berimbang.

Mengutip Lugina, layaknya warga negara, warga internet sebenarnya punya hak dan kewajibannya. Sayang, kita hanya menggunakan hak tanpa mau bertanggung jawab untuk menggunakan medsos dengan bijak.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: