×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Indonesia Dihantam 258 Juta Serangan Siber dalam 6 Bulan, 16 Serangan Terjadi Tiap Detik

Oleh: Tek ID - Selasa, 18 Agustus 2026 18:30

Indonesia menghadapi hampir 258 juta serangan siber sepanjang semester I 2026, melonjak 93,33 persen dengan rata-rata 16 serangan per detik.

Indonesia Dihantam 258 Juta Serangan Siber dalam 6 Bulan Ilustrasi serangan siber. dok. Freepik

Ancaman siber terhadap Indonesia melonjak tajam sepanjang paruh pertama 2026. Sebanyak 257.976.333 serangan terdeteksi hanya dalam enam bulan atau setara rata-rata 16 serangan setiap detik.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 93,33 persen dibandingkan semester I 2025 yang mencatat 133.439.209 serangan. 

Temuan itu tercantum dalam Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester I 2026 yang dirilis AwanPintar.id, platform intelijen ancaman siber dari PT Prosperita Sistem Indonesia.

Lonjakan tersebut menunjukkan ruang digital Indonesia semakin intensif menjadi sasaran berbagai aktivitas berbahaya, mulai dari pemindaian otomatis, percobaan mengeksploitasi kerentanan hingga penyebaran malware. 

Serangan juga semakin mengandalkan otomatisasi untuk menemukan sistem yang memiliki celah keamanan.

Founder AwanPintar.id Yudhi Kukuh mengatakan peningkatan serangan antara lain dipicu semakin luasnya permukaan serangan (attack surface) seiring percepatan transformasi digital di pemerintahan, layanan publik, dan dunia usaha.

“AwanPintar.id mendapati eskalasi serangan ini dipicu antara lain meluasnya attack surface akibat akselerasi transformasi digital di sektor pemerintahan, layanan publik, dan dunia usaha. Termasuk oleh masifnya pemanfaatan layanan cloud, AI, dan peningkatan transaksi online di masyarakat,” kata Yudhi, Selasa (18/8/2026).

Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada jenis serangan yang berupaya memperoleh hak administrator sistem atau Attempted Administrator Privilege Gain. 

Proporsinya melonjak dari hanya 2,76 persen pada semester I 2025 menjadi 43,65 persen pada periode yang sama tahun ini.

Perubahan tersebut mengindikasikan penyerang semakin berorientasi memperoleh kendali lebih jauh terhadap sistem. 

Sejumlah cara dapat digunakan, mulai dari mengeksploitasi layanan yang terhubung ke internet, memanfaatkan kredensial hasil phishing maupun credential stuffing, hingga mengoperasikan bot otomatis untuk mencoba masuk ke akun dengan hak istimewa.

Keberhasilan memperoleh akses administrator patut diwaspadai karena dapat menjadi pintu masuk bagi serangan lanjutan. 

Pelaku dapat memanfaatkannya untuk menyebarkan ransomware, mencuri data, melakukan sabotase hingga mengambil alih bagian lain dari infrastruktur jaringan.

Ancaman terbesar kedua adalah Generic Protocol Command Decode dengan porsi 27,22 persen. Kategori ini berkaitan dengan anomali paket data pada protokol jaringan yang tidak diharapkan atau tidak sah. Meski masih tinggi, proporsinya turun 41,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan itu tidak serta-merta berarti ancaman siber berkurang. Data tersebut justru menunjukkan kemungkinan terjadinya pergeseran metode serangan, dari manipulasi protokol jaringan menuju teknik yang lebih spesifik dan berpotensi memberikan dampak lebih besar.

Ancaman terhadap data juga membesar. Proporsi Attempted Information Leak atau upaya membocorkan informasi penting meningkat dari 4,66 persen pada semester I 2025 menjadi 13,97 persen pada semester I 2026.

Informasi yang menjadi sasaran dapat berupa akun pengguna, data klien, informasi kartu kredit hingga berbagai data sensitif lainnya. 

Pelaku menggunakan beragam metode, seperti eksploitasi kerentanan aplikasi, penyalahgunaan kredensial, malware pencuri informasi atau infostealer, serta phishing.

Teknik brute force juga masih banyak digunakan dengan mengeksploitasi kata sandi yang lemah. 

Dengan perangkat otomatis, penyerang dapat mencoba ribuan kombinasi nama pengguna dan kata sandi dalam waktu singkat untuk mencari celah masuk.

AwanPintar.id juga mencatat Tiongkok dan Amerika Serikat sebagai sumber trafik serangan luar negeri yang paling dominan. 

Porsi yang teridentifikasi berasal dari Tiongkok meningkat dari 12,87 persen menjadi 21,94 persen, sedangkan Amerika Serikat naik dari 9,07 persen menjadi 10,83 persen.

Namun, asal alamat jaringan atau infrastruktur serangan tidak serta-merta menunjukkan kewarganegaraan maupun lokasi sebenarnya dari pelaku, karena penyerang dapat memanfaatkan server, perangkat terinfeksi, VPN, proxy, atau infrastruktur pihak lain.

Dari dalam negeri, Banyuwangi dan Tangerang muncul sebagai sumber trafik serangan yang meningkat signifikan. 

Banyuwangi naik dari 0,01 persen menjadi 4,53 persen, sedangkan Tangerang dari 0,03 persen menjadi 3,46 persen.

Laporan juga mencatat peningkatan eksploitasi kerentanan. Aktivitas yang menyasar Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) melonjak 71 persen pada Maret 2026. 

Sementara itu, sebanyak 34.804 kerentanan open source atau OSV dilaporkan sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Menurut Yudhi, perkembangan tersebut membuat organisasi tidak lagi cukup mengandalkan pertahanan yang bersifat reaktif. Deteksi dini, pengelolaan kerentanan dan kesiapan menghadapi insiden perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami menyarankan organisasi-organisasi di Indonesia beralih ke pendekatan keamanan yang lebih adaptif dan berbasis risiko, dengan memperkuat deteksi dini, manajemen kerentanan, dan kesiapsiagaan respons insiden secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain itu, organisasi disarankan memperkuat keamanan infrastruktur, menerapkan kata sandi yang kuat dan autentikasi multifaktor (MFA), membatasi hak akses, mengenkripsi data, memantau aktivitas pengguna, serta meningkatkan kesadaran keamanan siber untuk menekan risiko kerugian finansial maupun reputasi.

×
back to top