Gurihnya pasar influencer marketing Indonesia

Makin banyak merek yang memanfaatkan influencer untuk menjual produk. Apa alasannya?

Gurihnya pasar influencer marketing Indonesia

Selama periode 2014-2016, data Google Trends menunjukkan peningkatan meyakinkan dalam aktivitas influencer marketing. Dalam 12 bulan terakhir saja, pencarian kata kunci influencer marketing meningkat lebih dari 325 persen di wilayah Amerika Serikat. 

Influencermarketinghub dalam studinya mendapati, ada lebih dari 230 platform dan agensi baru yang mewadahi influencer ini. Semuanya pun baru lahir 2 tahun belakangan, kala tren ini menanjak.

Tren ini rupanya juga sampai di Tanah Air. Salah satu platform yang menghubungkan influencer dan brand pun lahir di Indonesia, 2012 lalu, SociaBuzz. Dalam situs resminya, mereka mengklaim telah mewadahi lebih dari 14.007 influencer lintas media sosial.

SociaBuzz memberikan daftar panjang nama-nama influencer mulai dari selebtwit, blogger, YouTuber, hingga selebgram. Rade Tampubolon, selaku CEO SociaBuzz bahkan mengklaim juga menaungi figur publik seperti Indra Bekti, Tarra Budiman, Marisa Nasution, sampai Kemal Pahlevi di bawah SociaBuzz.

COO Digital Nusantara Advertising, Glenn Jolodoro, berpendapat, pertumbuhan bisnis influencer marketing ini akan terus meninggi di tahun-tahun mendatang. “Karena di dunia digital segala hal itu akan semakin spesifik. Mereka (influencer) ini akan menjawab segala hal spesifik yang tidak bisa dijawab media mainstream. Seorang jurnalis mungkin tidak punya waktu banyak untuk review produk, di situlah dibutuhkannya influencer. Waktu mereka cukup banyak untuk me-review itu,” ujar Glenn.

Glenn menambahkan, bisa jadi, agensi-agensi periklanan akan langsung menyasar influencer. Ini akan mempersempit kue iklan untuk media konvensional, dan dampaknya cukup terasa bagi media televisi. “Kita tahu, pemirsa televisi tidak tumbuh, sementara digital terus tumbuh. Anggaran belanja iklan televisi inilah yang dialirkan ke mereka (influencer),” kata Glenn.

“Sekarang, sekitar 30 sampai 40 persen brand meminta jasa influencer. Itu pun tergantung objektif-nya apa. Kalau brand membutuhkan efek yang viral, lebih membumi, dan humanis, mereka akan langsung ke influencer.”

Menurut Glenn, SociaBuzz Glenn akan tumbuh signifikan. Walaupun, dalam beberapa kasus, pemegang merek bisa saja mengakses influencer secara langsung. 

Menariknya. kata dia, UMKM saat ini sudah cukup cerdas memanfaatkan aktivitas pemasaran model ini. “Sejauh ini, respons UMKM dalam aktivitas influencer marketing cukup bagus.” kata Glenn.

Edy Kusuma, Brand Manager Vivo Indonesia juga pernah menjelaskan, influencer mampu menciptakan pemasaran Word of Mouth (WOM). WOM merupakan elemen paling powerful dalam mempromosikan produk. Karenanya, tidak mengherankan jika Vivo kini memiliki skuad influencer berjumlah lebih dari 50 orang. Delapan di antaranya merupakan figur publik yang dikenal luas masyarakat Indonesia.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: